Chapter 15
Legenda Kelas Lahir dari Kepanikan
Kekacauan pertama terjadi pukul 06.38.
Tujuh menit sebelum waktu kumpul.
Bima datang ke stand dengan wajah pucat, rambut sedikit berantakan, dan napas seperti baru dikejar anjing satu kelurahan.
Alya yang sudah berdiri di depan stand langsung menatapnya.
“Kenapa kamu lari?”
Bima mengangkat satu tangan, meminta waktu untuk bernapas.
Naya yang sedang menata kartu kasus di meja langsung menyipit.
“Bim.”
Bima masih membungkuk, memegang lutut.
“Sebentar.”
“Bima.”
“Sebentar, aku sedang menghargai oksigen.”
Raka yang sedang mengecek tali antrean menoleh.
“Kamu telat?”
“Tidak,” jawab Bima cepat. “Masih 06.38.”
“Kita kumpul 06.45.”
“Nah. Aku bahkan datang sebelum waktu.”
Alya melihat jam.
“Itu benar.”
Bima langsung menunjuk Alya dengan wajah puas.
“Lihat. Hukum berpihak pada fakta.”
“Lalu kenapa kamu lari?” tanya Salsa, yang baru datang sambil membawa poster cadangan.
Bima diam.
Terlalu lama.
Naya meletakkan kartu kasus.
“Bima.”
Bima menelan ludah.
“Aku punya kabar.”
Alya langsung tegang.
“Apa?”
Bima membuka tasnya.
Kosong.
Tidak sepenuhnya kosong, karena masih ada botol minum, dompet, dan satu bungkus permen yang entah sejak kapan berada di sana. Tapi tas itu terlalu kosong untuk seseorang yang seharusnya membawa naskah opening.
Naya menatap isi tas itu.
Lalu menatap Bima.
“Jangan bilang.”
Bima mengangkat kedua tangan.
“Aku lupa naskah.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Alya memejamkan mata.
Salsa menutup mulut.
Raka menatap Bima tanpa ekspresi.
Naya menarik napas panjang.
Lalu tersenyum.
Senyum itu membuat Bima mundur setengah langkah.
“Nay.”
“Iya?”
“Kamu jangan senyum begitu.”
“Kenapa?”
“Aku merasa akan dihukum secara kreatif.”
Naya mendekat satu langkah.
“Bima.”
“Iya?”
“Opening kita dimulai jam tujuh lima belas.”
“Aku tahu.”
“Kamu terdakwa utama.”
“Aku sangat sadar.”
“Dan kamu lupa naskah.”
Bima mengangguk pelan.
“Secara teknis, iya.”
Alya membuka buku catatannya dengan gerakan cepat.
“Aku punya salinan.”
Bima langsung menoleh dengan mata berbinar.
“Alya!”
“Tapi salinannya versi lama. Belum ada revisi durasi.”
Bima kembali pucat.
Raka mengambil map dari tasnya.
“Aku punya versi final.”
Semua menoleh.
Bima hampir menangis.
“Rak.”
Raka mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah dilipat rapi.
“Cadangan.”
Bima menerima kertas itu seperti menerima warisan keluarga.
“Kamu benar-benar ketua logistik akhir zaman.”
“Baca ulang,” kata Raka. “Jangan improvisasi bagian palu menderita.”
Bima mengangguk penuh kesungguhan.
“Demi keselamatan lembaga, aku berjanji.”
Alya menatapnya.
“Janji itu berlaku sampai kapan?”
Bima berpikir.
“Minimal opening selesai.”
“Cukup.”
Kekacauan kedua terjadi pukul 06.52.
Palkim hilang.
Bima yang baru saja membaca ulang naskah mendadak berteriak, “PALKIM MANA?”
Alya langsung memegang kepalanya.
“Jangan berteriak.”
“Palkim hilang!”
Naya membuka kotak properti.
Kosong di bagian tempat palu kardus seharusnya berada.
Salsa langsung membantu mencari di bawah meja.
Raka mengecek daftar barang.
“Kemarin masuk kotak.”
“Aku tahu!” kata Bima panik. “Aku sendiri yang mengucapkan selamat malam padanya!”
Naya berhenti mencari.
“Kamu mengucapkan selamat malam ke palu?”
“Jangan bahas itu sekarang.”
Alya menarik napas.
“Cari dulu. Jangan panik.”
“Kamu bilang itu sambil panik,” kata Naya.
“Aku tidak panik.”
“Buku catatanmu kebalik.”
Alya melihat buku di tangannya.
Benar.
Ia membalikkannya cepat-cepat.
Raka melihat sekitar stand.
Lalu berjalan ke sisi belakang meja hakim.
Ia menunduk.
Mengambil sesuatu.
Palkim.
Ternyata palu kardus itu jatuh ke balik kain hitam.
Bima langsung memegang dadanya.
“Palkim!”
Raka menyerahkannya.
“Jangan ditaruh di tepi meja.”
Bima menerima Palkim dengan penuh rasa syukur.
“Dia kembali.”
“Dia jatuh,” kata Raka.
“Setiap pahlawan punya titik rendah.”
Naya tertawa.
Alya tidak.
“Bima, simpan baik-baik.”
“Siap.”
Kekacauan ketiga terjadi pukul 07.03.
Poster utama tiba-tiba lepas di satu sisi karena angin lapangan.
Salsa yang pertama melihatnya.
“Posternya!”
Kertas besar bertuliskan RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH miring perlahan, seolah ingin menyerah sebelum festival dimulai.
Alya langsung bergerak.
“Naya, tahan sisi kiri. Bima, jangan berdiri diam. Raka, lakban.”
“Sudah,” kata Raka.
Ia sudah memegang lakban.
Naya menahan poster dari bawah.
Salsa memegang sisi kanan.
Bima memegang kursi agar Raka bisa naik sedikit dan menempelkan ulang poster.
Alya berdiri di bawah sambil memberi instruksi.
“Hati-hati. Jangan terlalu tinggi. Sisi kanan masih miring sedikit.”
Naya mendongak.
“Bu Ketua, kalau kamu ikut lomba komentator dekorasi, menang.”
“Diam dulu. Posternya belum lurus.”
Raka menempelkan lakban tambahan.
“Sekarang?”
Alya mundur dua langkah, menilai.
“Sedikit ke kiri.”
Naya menggeser.
“Sekarang?”
“Satu senti.”
Bima menatap Alya.
“Kamu bisa melihat satu senti dari sana?”
“Aku bisa melihat niat buruk dari matamu. Satu senti mudah.”
Bima terdiam.
Salsa tertawa.
Raka menekan ujung lakban terakhir.
Poster kembali aman.
Naya menepuk tangan.
“Mahkamah selamat dari bencana visual.”
Salsa menghela napas lega.
“Untung belum banyak orang.”
Raka turun dari kursi.
“Lakban harus dicek lagi nanti siang. Kalau panas, bisa lepas.”
Bima menunjuknya.
“Kamu bahkan mempertimbangkan suhu.”
“Lakban punya batas.”
“Semua orang punya,” kata Naya dramatis.
Alya menatapnya.
“Jangan jadikan lakban bahan pidato.”
Festival resmi dibuka pukul 07.30.
Lapangan sekolah langsung berubah menjadi lautan suara.
Musik dari panggung utama.
Teriakan promosi stand makanan.
Aroma sosis bakar.
Suara guru yang mencoba menjaga ketertiban tapi kalah oleh speaker.
Siswa-siswa dari berbagai kelas berjalan membawa uang jajan, ponsel, dan rasa ingin tahu.
Di antara semua itu, stand XI IPA 2 berdiri dengan tulisan besar:
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Di bawahnya:
Pengadilan paling tidak penting, tapi paling dekat dengan kehidupanmu.
Bima berdiri di depan stand sambil memakai pin JAKSA.
Wajahnya serius.
Terlalu serius.
Naya menatapnya.
“Kamu gugup?”
“Tidak.”
“Palkim kamu pegang kebalik.”
Bima melihat tangannya.
Benar.
Ia memutar Palkim cepat-cepat.
“Aku sedang menyesuaikan energi.”
“Kamu gugup.”
“Sedikit.”
Naya menepuk bahunya.
“Tenang. Kalau kamu lupa dialog, aku selamatkan.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu improvisasi terlalu jauh, aku jatuhkan.”
“Aku juga tahu.”
“Bagus.”
Salsa datang membawa poster opening.
“Panggung kecil sudah siap.”
Alya melihat jam.
“Kita ke sana sekarang. Raka?”
Raka memegang daftar kecil.
“Opening tiga menit. Setelah selesai, Naya arahkan pengunjung ke stand. Bima jangan berhenti terlalu lama buat tepuk tangan.”
“Kenapa aku yang disebut?”
“Riwayat,” jawab empat orang hampir bersamaan.
Bima tidak bisa melawan.
Mereka berjalan ke panggung kecil.
Beberapa siswa sudah berkumpul di sekitar panggung karena opening stand lain sebelumnya baru selesai.
Naya menarik napas.
Suaranya sudah kembali hampir normal, tapi Raka tetap menatap botol minum di tangannya.
Naya menangkap tatapan itu.
“Iya, iya.”
Ia minum dua teguk.
Raka mengangguk.
Bima melihat.
Mulutnya terbuka.
Alya langsung berkata, “Bima, fokus.”
“Tapi—”
“Fokus.”
“Baik.”
Opening dimulai.
Naya berdiri di depan panggung dengan percaya diri yang membuat orang berhenti lewat.
“Saudara-saudara sekalian! Pernahkah kalian meminjam pulpen lalu pulpen itu hilang seperti masa depan saat melihat nilai matematika?”
Beberapa siswa tertawa.
Bima masuk dari sisi panggung, membawa Palkim dengan wajah tertuduh.
Naya menunjuknya.
“Hari ini, kita menghadirkan terdakwa pertama: seorang siswa yang membawa palu ke sekolah dan menyebutnya simbol keadilan!”
Penonton tertawa lebih keras.
Bima mengangkat dagu.
“Saya hanya ingin hukum dihormati!”
Alya, sebagai hakim, mengetuk meja kecil.
Tok.
“Dengan palu sungguhan?”
Bima memegang dada.
“Itu bentuk komitmen!”
Naya berputar ke arah penonton.
“Lihat! Bahkan setelah tertangkap, terdakwa masih mencoba membungkus kesalahan dengan kata-kata besar!”
Salsa mengangkat poster:
DATANG DAN SAKSIKAN SIDANG PALING TIDAK PENTING TAHUN INI
Beberapa siswa mulai mengangkat ponsel, merekam.
Raka berdiri di samping panggung, mengangkat dua jari sebagai tanda sisa dua menit.
Naya menangkap tanda itu.
Ia mempercepat tempo.
Alya memberi putusan.
Bima menjalani hukuman: membaca permintaan maaf pada palu kardus karena telah membawa “pendahulunya” yang berbahaya ke sekolah.
“Wahai Palkim,” kata Bima dengan wajah serius, “maafkan aku karena pernah mengira kewibawaan harus berat, padahal ternyata cukup dilakban dengan niat.”
Penonton tertawa keras.
Naya menutup opening dengan menunjuk ke arah stand mereka.
“Kalau kalian punya dosa sosial seperti menghilangkan charger, pura-pura tidak baca chat, atau makan gorengan terakhir tanpa izin—datanglah ke Ruang Sidang Anak Sekolah XI IPA 2! Tenang, hukumannya lucu. Hampir tidak menyakiti harga diri!”
Raka mengangkat tangan.
Tiga menit.
Pas.
Opening selesai.
Tepuk tangan terdengar.
Bima turun dari panggung dengan mata berbinar.
“Aku hidup.”
Alya menghela napas lega.
“Kamu tidak improvisasi terlalu jauh.”
“Itu karena aku profesional.”
“Itu karena Raka memegang stopwatch,” kata Naya.
Raka menutup stopwatch.
“Sama-sama.”
Salsa tersenyum sambil melihat beberapa siswa berjalan menuju stand mereka.
“Teman-teman.”
Mereka semua menoleh.
Di depan stand XI IPA 2, antrean mulai terbentuk.
Lima orang itu saling pandang.
Bima memegang Palkim.
Naya tersenyum lebar.
Alya langsung membuka daftar alur.
Salsa memperbaiki posisi poster.
Raka berjalan lebih dulu ke tali antrean.
“Mulai.”
Dan Mahkamah Receh resmi dibuka.
Pengunjung pertama adalah Dito.
Entah bagaimana, meski ia anggota kelas sendiri, ia tetap ingin disidang secara resmi.
“Aku ingin merasakan pengalaman penuh,” katanya.
Bima mengangkat Palkim.
“Saudara terdakwa, silakan ambil kartu kasus.”
Dito mengambil kartu.
Membacanya.
Wajahnya langsung berubah.
Terdakwa muncul paling cepat saat ada makanan gratis.
Satu stand tertawa.
Dito menatap Naya.
“Ini sengaja?”
“Semua kasus fiktif,” jawab Naya cepat.
“Tapi kenapa aku terus kena yang cocok?”
“Karena alam mendukung keadilan.”
Sidang pertama berjalan lancar.
Sidang kedua lebih ramai.
Sidang ketiga mulai direkam siswa kelas lain.
Pada sidang keempat, seorang anak dari XI Bahasa mendapat kasus:
Terdakwa berkata ‘aku nggak belajar’ tapi nilainya tinggi.
Ia langsung protes.
“Ini bukan salahku kalau teman-teman percaya.”
Bima menunjuknya.
“Jadi terdakwa mengakui telah menciptakan ekspektasi palsu?”
Penonton bersorak.
Naya berdiri sebagai pembela.
“Yang Mulia, klien saya hanya berusaha rendah hati. Kalau nilainya tinggi, itu bukan kejahatan. Itu gangguan sosial.”
Alya mengetuk Palkim.
“Dinyatakan bersalah karena membuat teman-teman panik sebelum ujian.”
Hukumannya: terdakwa harus berkata, “Aku belajar kok,” sebanyak tiga kali dengan tulus.
Pengunjung tertawa.
Stand semakin ramai.
Raka mulai benar-benar bekerja sebagai petugas ketertiban.
“Antrean sebelah kiri.”
“Nomor tujuh masuk setelah nomor enam.”
“Jangan berdiri di depan jalur keluar.”
“Kalau mau merekam, jangan menutup jalan.”
Kalimatnya pendek.
Datar.
Efektif.
Anehnya, orang menurut.
Naya melihat itu dari balik meja pembela.
“Petugas ketertiban kita berfungsi.”
Bima berbisik, “Dia menakutkan dengan cara sopan.”
Salsa yang sedang membagikan stiker Lulusan Mahkamah Receh tertawa.
“Kalian baru sadar?”
Alya tidak punya banyak waktu untuk ikut bercanda.
Ia sibuk menjadi hakim, mencatat jumlah pengunjung, sekaligus memastikan hukuman tidak melewati batas.
Beberapa kali Bima hampir berlebihan.
Setiap kali itu terjadi, Alya hanya perlu menatapnya.
Atau Raka menulis di papan kecil:
JAKSA DILARANG CERAMAH
Bima langsung kembali ke jalur.
Hampir.
Menjelang jam sepuluh, antrean makin panjang.
Poster mereka mulai tersebar di story siswa lain.
Beberapa guru lewat dan tertawa melihat konsepnya.
Bu Ratna datang dengan wajah bangga yang berusaha tidak terlalu jelas.
“Kalian ramai sekali.”
Alya langsung berdiri.
“Bu, kami masih mengatur antreannya.”
“Bagus. Lanjutkan.”
Bima langsung menyodorkan kartu kasus.
“Bu mau disidang?”
Alya panik.
“Bima!”
Bu Ratna tertawa.
“Lain kali.”
Bima mengangguk serius.
“Saya catat sebagai janji moral.”
“Jangan catat,” kata Alya.
Terlambat.
Bima sudah mencatat di udara.
Jam sebelas kurang sedikit, kabar datang.
Kepala sekolah dan beberapa guru tamu akan mengunjungi stand mereka setelah stand XI IPA 1.
Alya langsung menegang.
“Semua bersiap.”
Naya yang baru selesai minum langsung berkata, “Bu Ketua, napas.”
“Aku bernapas.”
“Kedengarannya seperti orang mau menghadapi ujian praktik hidup.”
Bima mengangkat Palkim, wajahnya terlalu serius.
“Tenang. Mahkamah siap naik tingkat.”
“Jangan buat keputusan sendiri,” kata Alya.
“Sebagai jaksa, aku tersinggung.”
“Sebagai ketua kelas, aku tidak peduli.”
Salsa yang sedang membagikan stiker Lulusan Mahkamah Receh tersenyum kecil. Raka, di sisi antrean, hanya menggeser tali pembatas agar rombongan guru tidak menutup jalur keluar.
“Nomor berikutnya,” kata Raka.
Seorang siswa dari kelas lain maju dan mengambil kartu kasus dari kotak.
Bima langsung berdiri lebih tegak.
“Saudara terdakwa, bersiaplah menghadapi dakwaan yang tidak terlalu penting, tapi tetap bisa mengganggu harga diri.”
Beberapa penonton tertawa.
Kepala sekolah berhenti di depan stand.
Alya menahan napas setengah detik, lalu mengetuk Palkim.
“Sidang dilanjutkan.”
Bima membuka kartu.
“Dakwaan hari ini,” katanya lantang, “terdakwa dikabarkan menunggu seseorang ngomong sesuatu pas festival—”
Salsa berhenti bergerak.
Stiker di tangannya hampir jatuh.
Naya langsung menoleh ke arahnya.
Bima masih melihat kartu itu. Matanya bergerak ke baris berikutnya.
Senyumnya hilang.
Beberapa siswa di antrean mulai bersuara.
“Ciee.”
“Wah, kasus confess?”
“Lanjut, Bim!”
Bima tidak lanjut.
Untuk pertama kalinya hari itu, jaksa paling ribut di XI IPA 2 berdiri diam di depan penonton.
Alya menatapnya.
“Bima?”
Bima melipat kartu itu sekali.
Lalu menurunkan Palkim.
“Kartu ini ditolak.”
Penonton hening.
Naya menegakkan badan.
Raka menoleh dari sisi antrean.
Kepala sekolah masih berdiri di depan stand, memperhatikan.
Alya merasakan jantungnya turun ke perut. Ini terjadi di depan kepala sekolah. Di depan guru-guru. Di depan antrean yang sejak tadi merekam mereka.
Tapi Bima tidak terlihat seperti sedang bercanda.
“Maaf,” kata Bima, kali ini tanpa gaya jaksa. “Ini bukan kasus receh.”
Naya berjalan ke sampingnya.
“Boleh lihat?”
Bima menyerahkan kartu itu.
Naya membaca.
Wajahnya berubah.
Tidak banyak.
Tapi cukup membuat Alya berdiri dari kursi hakim.
Salsa masih diam di dekat meja stiker.
Alya mengambil kartu dari tangan Naya. Ia membaca baris yang tadi tidak sempat diucapkan Bima.
Rahangnya mengeras.
Naya membaca dari samping, lalu wajahnya ikut berubah.
“Sal,” panggil Naya pelan.
Salsa mengangkat wajah.
Naya tidak membacakan kartu itu keras-keras. Ia hanya menyerahkannya.
Salsa menerima kartu itu dengan ragu.
Matanya bergerak dari baris pertama ke baris berikutnya.
Di kartu itu tertulis:
Terdakwa dikabarkan menunggu seseorang ngomong sesuatu pas festival, padahal satu sekolah tahu yang paling laku dari stand ini cuma wajahnya.
Setelah itu, ia diam.
Lama.
“Oh,” katanya akhirnya. “Jadi ini maksudnya.”
Alya memejamkan mata sebentar.
Marah.
Malu.
Takut.
Semuanya datang bersamaan.
Raka sudah berada di dekat kotak kasus. Ia mengambil satu kartu resmi, lalu membandingkannya dengan kartu di tangan Alya.
“Kertasnya beda,” katanya.
Alya menoleh.
Raka mengangkat kartu resmi.
“Punya kita pakai kertas warna. Ini putih. Potongannya juga beda.”
Naya menarik napas.
“Berarti ada yang masukin.”
Bisik-bisik langsung naik.
Kepala sekolah masih belum bicara.
Justru itu yang membuat Alya semakin gugup.
Bima menggenggam Palkim lebih erat.
“Yang Mulia,” katanya pelan.
Alya menatapnya.
Anehnya, panggilan konyol itu membuatnya kembali ingat bahwa ia sedang duduk di kursi hakim.
Ia tidak boleh membeku.
Alya mengetuk meja.
Tok.
“Sidang dihentikan sementara.”
Suara di depan stand perlahan turun.
Alya mengangkat kartu itu, tapi tidak membacanya keras-keras.
“Kartu ini tidak termasuk kasus resmi Ruang Sidang Anak Sekolah.”
Naya maju satu langkah. Kali ini senyumnya tidak ramai, tapi tajam.
“Mahkamah Receh boleh receh,” katanya, “tapi nggak murahan.”
Beberapa orang di antrean saling pandang.
Naya melanjutkan, “Kami menerima kasus pulpen hilang, charger yang tidak kembali, chat dibaca tanpa dibalas, dan orang yang bilang otw padahal masih di kasur.”
Tawa kecil terdengar.
“Tapi kami tidak menerima lelucon yang tujuannya mempermalukan orang.”
Salsa menunduk ke tangannya.
Lalu perlahan, ia membuka tas kecilnya.
Ia mengeluarkan kertas yang sudah ia bawa sejak pagi. Kertas yang sempat membuat satu kelas ribut. Kertas yang selama ini ia simpan karena tidak tahu harus merasa apa.
Nanti pas festival, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.
Salsa menatap kertas itu.
Lalu kartu yang tadi diberikan Naya.
Suaranya pelan saat ia berkata, “Aku sempat kira ini sesuatu yang baik.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Salsa tersenyum kecil.
Bukan senyum aman yang biasa ia pakai saat orang terlalu banyak melihatnya.
Senyum itu lebih tipis.
Lebih lelah.
Tapi lebih jujur.
“Ternyata bukan.”
Naya menatapnya dengan mata yang mulai panas.
Bima menunduk.
Alya menggenggam kartu palsu itu lebih erat.
Salsa menarik napas.
“Tapi nggak apa-apa. Sekarang aku tahu, aku nggak harus senyum untuk semua hal.”
Kalimat itu membuat stand hening.
Bukan hening yang canggung.
Hening yang mendengar.
Di belakang antrean, seseorang menunduk dan pelan-pelan mundur.
Raka melihatnya.
Tapi ia tidak mengejar.
Hari itu, yang lebih penting adalah memastikan Salsa tidak lagi berdiri sendirian di tengah tatapan orang-orang.
Raka menutup kotak kasus, lalu berdiri di sampingnya.
Raka melangkah maju dari sisi antrean. Ia memang tidak suka jadi pusat perhatian dan biasanya memilih bicara seperlunya. Namun kali ini ia tetap berdiri di depan semua orang, menatap kartu itu sebentar sebelum mengangkat suara.
“Ini bukan kartu dari kotak kita,” katanya. “Ada yang sengaja menyelipkannya.”
Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk didengar orang-orang di sekitar stand. Dan justru karena Raka yang mengatakannya, banyak yang langsung percaya.
Bima mengangkat Palkim lagi.
Wajahnya masih serius.
“Dengan ini, Mahkamah Receh menyatakan kartu jahat tidak sah dan pelaku lelucon tidak berakhlak dinyatakan kalah sebelum sidang dimulai.”
Satu orang di antrean bertepuk tangan.
Lalu yang lain ikut.
Tepuk tangan menyebar pelan, lalu makin ramai.
Salsa berkedip, seolah tidak menyangka suara itu untuknya.
Ia menatap stiker di tangannya, lalu menarik napas pelan.
Kali ini, ketika ia tersenyum, senyumnya tidak dipasang untuk membuat orang lain nyaman.
“Nomor selanjutnya boleh maju,” katanya.
Suaranya masih pelan.
Tapi kali ini tidak bersembunyi.
“Stikernya masih ada.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Tapi kartu jahatnya sudah ditolak.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Naya menatap Salsa, lalu tersenyum bangga.
Alya menatap kepala sekolah.
Ia sudah siap ditegur.
Namun kepala sekolah justru tersenyum kecil.
“Ini bagian dari skenario?” tanya beliau.
Alya menelan ludah.
“Bukan, Pak.”
“Bagus.”
Alya berkedip.
“Pak?”
Kepala sekolah melihat kartu palsu di tangan Alya, lalu melihat mereka berlima.
“Banyak stand bisa membuat orang tertawa,” katanya. “Tapi tidak semua tahu kapan harus berhenti.”
Bu Ratna yang berdiri di belakang beliau tersenyum bangga.
Kepala sekolah melanjutkan, “Kalian menanganinya dengan baik. Lanjutkan.”
Selama dua detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu Bima berbisik, “Kita tidak mati.”
Naya hampir tertawa.
Alya menghela napas panjang.
Salsa menutup kertas anonim itu dan memasukkannya kembali ke tas. Kali ini, tangannya tidak gemetar.
Raka membuka kotak kasus resmi, lalu menyodorkannya kepada pengunjung berikutnya.
“Nomor selanjutnya.”
Naya langsung kembali ke depan, suaranya naik lagi.
“Baik. Setelah kasus jahat resmi ditolak, kita kembali ke dosa sosial yang lebih aman.”
Ia menunjuk antrean.
“Siapa di sini yang pernah bilang ‘otw’ padahal masih di kasur?”
Setengah antrean mengangkat tangan.
Bima mengetuk Palkim.
“Terdakwa massal terdeteksi.”
Tawa pecah lagi.
Tapi kali ini rasanya berbeda.
Lebih lega.
Lebih hangat.
Dan sejak saat itu, orang-orang tidak hanya datang ke Ruang Sidang Anak Sekolah karena ingin tertawa.
Mereka datang karena tahu, di stand itu, mereka boleh ditertawakan sedikit.
Tapi tidak akan dijatuhkan.
Setelah kejadian itu, kabar tentang stand XI IPA 2 menyebar lebih cepat daripada poster promosi mereka.
Bukan cuma karena opening Bima yang sudah muncul di story beberapa anak.
Bukan cuma karena kasus-kasus receh yang terlalu dekat dengan kehidupan.
Tapi karena seseorang merekam momen ketika Bima berhenti membaca kartu.
Momen ketika Naya berkata, “Mahkamah Receh boleh receh, tapi nggak murahan.”
Momen ketika Salsa tersenyum dan berkata bahwa kartu jahatnya sudah ditolak.
Dalam waktu kurang dari satu jam, banyak siswa datang ke stand mereka bukan hanya untuk disidang, tapi juga untuk melihat sendiri tempat yang mendadak dibicarakan satu lapangan.
Alya awalnya khawatir antrean akan jadi tidak terkendali.
Ternyata tidak.
Entah karena kepala sekolah sempat berdiri di sana, entah karena Raka terlihat seperti orang yang bisa membuat tali rafia merasa bersalah kalau bergeser dari tempatnya, antrean justru berjalan lebih rapi.
Raka mengambil spidol dan menulis sesuatu di papan kecil dekat kotak kasus.
KARTU DIAMBIL DARI PETUGAS.
Hanya satu kalimat.
Tapi setelah kejadian tadi, semua orang langsung mengerti maksudnya.
Bima membacanya lalu mengangguk.
“Bagus.”
Raka menutup spidol.
“Iya.”
Makan siang menjadi kekacauan berikutnya.
Karena stand mereka terlalu ramai, jadwal istirahat harus bergantian.
Alya ingin tetap di stand.
Salsa menariknya pergi.
“Giliran kamu makan.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Aku masih harus—”
Raka muncul membawa kotak kecil berisi kartu kasus.
“Aku sudah hitung. Stok cukup. Bima dan Naya bisa jalan satu sesi lagi. Kamu makan.”
Alya menatapnya.
“Kalau ada masalah?”
“Panggil.”
Naya dari meja pembela mengangkat tangan.
“Bu Ketua, pergilah. Negara kami jaga.”
Bima berdiri tegak.
“Mahkamah di bawah kendali jaksa sementara.”
“Itu justru alasan aku tidak tenang,” kata Alya.
Salsa menggandeng tangan Alya.
“Lima belas menit saja.”
Alya akhirnya pergi.
Itu kemajuan besar.
Bima bahkan menulis dalam buku penyelidikannya:
Alya meninggalkan stand secara sukarela. Fenomena langka.
Sementara itu, Naya mulai terlihat lelah menjelang siang.
Tidak tumbang.
Tidak pucat seperti sebelumnya.
Tapi suaranya mulai turun.
Raka yang sedang mengatur antrean melihatnya.
Ia mengambil botol minum dari bawah meja, lalu meletakkannya di sisi Naya saat Naya sedang membela pengunjung.
Naya melirik botol itu.
Raka tidak berkata apa-apa.
Hanya menunjuk singkat.
Minum.
Naya memutar mata.
Tapi begitu sidang selesai, ia minum.
Salsa melihat dari jauh saat kembali bersama Alya.
Alya juga melihat.
Tidak ada yang bicara.
Namun Bima, yang sedang mengatur kartu kasus, melihat semuanya.
Ia tidak langsung membuat lelucon.
Kali ini ia hanya menulis di buku kecilnya.
Naya tidak perlu diminta panjang. Raka cukup menunjuk.
Lalu ia menatap catatan itu lama.
Untuk pertama kalinya, Bima tidak langsung puas dengan teorinya sendiri.
Menjelang sore, stand mereka semakin ramai karena banyak siswa yang sudah selesai berkeliling.
Beberapa datang hanya untuk mendapat stiker.
Beberapa datang karena ingin disidang kasus tertentu.
Beberapa datang karena melihat rekaman opening Bima tersebar di story angkatan.
Puncaknya terjadi ketika seorang siswa kelas XII datang dan mendapat kasus:
Terdakwa bilang ‘aku santai’ padahal panik.
Satu stand langsung menoleh ke Alya.
Alya menatap mereka semua.
“Kenapa lihat aku?”
Naya menunduk sambil tertawa.
Bima langsung mengambil posisi jaksa.
“Yang Mulia, kasus ini terasa dekat dengan lembaga.”
“Bima.”
“Maaf.”
Pengunjung itu tertawa, dan sidang berjalan sangat meriah.
Saat festival hampir selesai, panitia mengumumkan nominasi stand favorit.
XI IPA 2 masuk nominasi.
Bima hampir menjatuhkan Palkim untuk kedua kalinya.
Naya melompat kecil, lalu langsung berhenti ketika Raka menatapnya.
“Aku tidak batuk!”
“Aku belum bilang.”
“Tapi wajahmu bilang.”
Raka tidak membantah.
Salsa memegang tangan Alya.
“Kita masuk nominasi.”
Alya menatap lapangan.
“Belum menang.”
“Tapi masuk nominasi.”
Alya menarik napas.
Lalu tersenyum.
“Iya.”
Pengumuman pemenang dilakukan menjelang penutupan festival.
Satu lapangan berkumpul.
Tim inti XI IPA 2 berdiri bersama di dekat stand mereka.
Bima memegang Palkim di depan dada.
Naya berdiri di sampingnya, masih memegang botol minum.
Alya memegang buku catatan yang kini sudah kusut di beberapa sisi.
Salsa membawa poster kecil yang tadi belum sempat disimpan.
Raka berdiri sedikit di belakang, seperti biasa.
Namun kali ini, Naya menarik lengan bajunya sedikit.
“Jangan di belakang terus.”
Raka menatapnya.
“Aku terlihat.”
“Tidak cukup.”
Naya menariknya maju setengah langkah.
Raka menurut.
Bima melihat.
Alya melihat.
Salsa juga melihat.
Namun sebelum siapa pun bisa berkata apa-apa, suara MC festival terdengar dari panggung utama.
“Stand Terbaik Festival tahun ini jatuh kepada…”
Lapangan hening.
Bima memejamkan mata.
Alya menggenggam buku catatan lebih erat.
Salsa menahan napas.
Naya berbisik, “Kalau kalah, tetap keren.”
Raka mendengarnya.
Lalu menjawab pelan, “Iya.”
MC tersenyum lebar.
“XI IPA 2 dengan Ruang Sidang Anak Sekolah!”
Beberapa detik pertama, mereka tidak bergerak.
Seolah otak mereka butuh waktu menerima bahwa nama itu benar-benar disebut.
Lalu Naya berteriak.
Bima mengangkat Palkim tinggi-tinggi.
Salsa menutup mulut, matanya berbinar.
Alya berdiri kaku seperti orang yang baru diberi kabar mustahil.
Raka hanya diam.
Namun senyumnya terlihat jelas.
Kali ini tidak bisa disebut efek cahaya.
Kelas XI IPA 2 bersorak.
Dito berlari dari arah stand.
Mira melompat-lompat.
Fajar merekam.
Bu Ratna bertepuk tangan dari dekat panggung.
Bima menarik Alya dan Naya untuk maju ke panggung.
Salsa ikut didorong oleh teman-teman kelas.
Raka hampir tertinggal, sampai Naya menoleh.
“Rak!”
Raka berhenti.
Naya melambaikan tangan.
“Ayo!”
Raka melihat mereka.
Melihat Naya yang tersenyum lebar di tengah keramaian.
Melihat Alya yang akhirnya tertawa lepas.
Melihat Salsa yang tampak benar-benar bangga.
Melihat Bima yang hampir menjatuhkan Palkim karena terlalu heboh.
Lalu Raka berjalan menyusul.
Mereka naik ke panggung bersama anggota kelas lain.
Piala diserahkan kepada Alya sebagai ketua kelas.
Alya menerima dengan tangan sedikit gemetar.
Bima langsung berkata, “Yang Mulia, angkat tinggi-tinggi.”
Alya menatapnya.
Lalu, entah karena terlalu lega atau terlalu lelah, ia menurut.
Piala diangkat.
XI IPA 2 bersorak lebih keras.
Naya tertawa di samping Alya.
Salsa menghapus sedikit keringat di dahinya.
Bima berteriak sesuatu tentang keadilan receh.
Raka berdiri di sisi mereka, tersenyum kecil.
Dan di tengah sorak-sorai itu, sesuatu yang awalnya hanya proyek paksa berubah menjadi cerita yang akan diceritakan berkali-kali.
Legenda festival.
Mereka tidak menjadi legenda karena semua berjalan lancar.
Mereka menjadi legenda karena ketika sesuatu hampir berubah jahat, mereka berhenti, berdiri bersama, lalu membuat orang tertawa lagi tanpa menjatuhkan siapa pun.
Setelah acara penutupan selesai, mereka kembali ke stand untuk membereskan barang.
Lucunya, bagian beres-beres terasa lebih ringan daripada yang mereka bayangkan.
Mungkin karena mereka menang.
Mungkin karena satu kelas membantu.
Mungkin karena Bima terlalu bahagia sampai bersedia mengangkat kotak tanpa mengeluh lebih dari tiga kali.
Alya menatap piala yang diletakkan di meja hakim.
“Aku masih nggak percaya.”
Salsa tersenyum.
“Kita menang.”
Bima mengangkat Palkim.
“Mahkamah Receh diakui sejarah.”
Naya duduk di kursi terdakwa sambil meminum air.
“Kita keren.”
Raka memperbaiki posisi kotak agar tidak jatuh.
“Iya.”
Naya menoleh.
“Cuma iya?”
Raka melihat stand yang setengah dibongkar.
Lalu melihat mereka semua.
“Kalian keren.”
Hening.
Bima menatap Raka.
Alya juga.
Salsa tersenyum.
Naya berkedip.
Lalu Bima langsung memegang dada.
“Teman-teman, Raka mengeluarkan pujian kolektif.”
Naya menunjuk langit.
“Catat tanggal!”
Alya tertawa.
Raka terlihat menyesal sudah bicara.
Namun senyumnya masih ada.
Setelah semua barang dibawa kembali ke kelas, mereka berlima tertinggal sebentar di depan papan tulis.
Piala diletakkan di meja guru.
Kelas mulai sepi.
Cahaya sore masuk dari jendela.
Tidak ada lagi antrean.
Tidak ada teriakan pengunjung.
Tidak ada suara Palkim.
Hanya lima orang yang kelelahan, berkeringat, dan terlalu senang untuk langsung pulang.
Bima duduk di lantai.
“Aku merasa kosong.”
Naya duduk di kursi terdekat.
“Karena festival selesai?”
“Karena aku tidak tahu besok harus menuduh siapa.”
Alya menghela napas.
“Kamu bisa mulai dengan tidak menuduh siapa pun.”
“Sulit.”
Salsa duduk di meja depan.
“Besok kita masih harus balikin barang.”
Bima langsung menunjuk Salsa.
“Terima kasih. Hidupku punya tujuan lagi.”
Raka berdiri dekat jendela, melihat piala di meja guru.
Naya menatap piala itu juga.
“Kita bakal tetap kumpul nggak setelah ini?”
Pertanyaan itu muncul ringan.
Hampir seperti komentar biasa.
Namun efeknya membuat ruangan sedikit diam.
Alya menatap buku catatannya.
Salsa menunduk ke poster yang belum digulung.
Bima berhenti memainkan Palkim.
Raka menoleh ke Naya.
Naya tampak sadar bahwa pertanyaannya lebih serius daripada yang ia maksud.
Ia langsung tersenyum.
“Maksudku, kan aneh kalau besok tiba-tiba kita balik jadi warga negara masing-masing.”
Bima mengangkat tangan.
“Aku menolak kembali menjadi warga sipil biasa.”
“Tidak ada yang mendaftarkanmu jadi apa pun,” kata Alya.
“Jaksa.”
“Tidak resmi.”
“Tapi secara emosional.”
Salsa tersenyum.
“Menurutku kita masih bisa kumpul.”
“Untuk apa?” tanya Naya.
Bima berpikir.
Lalu menjawab, “Evaluasi pasca-kemenangan.”
Alya menatapnya.
“Itu rapat.”
“Rapat dengan camilan.”
“Baru masuk akal,” kata Naya.
Raka berkata pelan, “Barang juga belum semua dikembalikan.”
Bima menunjuk Raka.
“Lihat. Alasan logistik menyatukan kita.”
Naya tertawa.
Suasana kembali ringan.
Tapi pertanyaan tadi tidak benar-benar hilang.
Hanya disimpan.
Seperti banyak hal lain yang belum siap dibuka.
Salsa merapikan poster kecil di tangannya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Saat jarinya menyentuh kantong depan, ia berhenti sebentar.
Ada kertas kecil di sana.
Kertas yang sejak pagi ia bawa.
Kertas yang akhirnya tidak lagi terasa seperti misteri manis yang gagal.
Salsa mengeluarkannya sedikit.
Ujungnya sudah terlipat karena seharian ikut berpindah dari kelas, stand, panggung, lalu kembali lagi ke kelas.
Nanti pas festival, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.
Festival sudah selesai.
Orang yang menulisnya tidak pernah datang dengan bunga.
Tidak pernah memanggilnya diam-diam.
Tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung.
Tapi anehnya, Salsa tidak merasa pertanyaan itu menggantung lagi.
Ia sudah mendapat jawabannya.
Bukan dari orang yang menulis kertas itu.
Melainkan dari dirinya sendiri.
Ia melipat kertas itu sekali lagi.
Lalu memasukkannya ke dalam tas.
Kali ini bukan untuk disimpan sebagai rahasia.
Hanya sebagai bukti bahwa ada hal-hal yang ternyata tidak perlu ia balas dengan senyum.
“Sal?” panggil Alya dari dekat pintu. “Kamu ikut pulang?”
Salsa mengangkat wajah.
“Iya.”
Lalu ia berdiri.
Langkahnya terasa sedikit lebih ringan.
Setelah itu, mereka benar-benar pulang.
Bima berjalan paling belakang.
Bukan karena lelah.
Tapi karena ia melihat sesuatu.
Di gerbang sekolah, Naya berhenti untuk menjawab telepon sepupunya.
Raka berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Tidak mendekat.
Tidak memanggil.
Hanya menunggu sampai Naya selesai bicara dan memastikan ia tidak berjalan sendirian ke arah yang salah.
Naya menutup telepon, lalu menoleh.
“Kenapa?”
“Jemputan?”
“Lima menit lagi.”
“Di warung?”
“Iya.”
“Jangan berdiri pinggir jalan.”
Naya tersenyum.
“Pak Petugas Ketertiban masih dinas?”
“Belum bubar.”
“Baik. Aku tunggu di warung.”
Raka mengangguk.
Percakapan singkat.
Biasa.
Mudah dilewatkan.
Namun bagi Bima, yang hari itu sudah melihat terlalu banyak hal kecil, percakapan itu terasa seperti potongan terakhir yang mulai mendekati tempatnya.
Ia membuka buku penyelidikan.
Menatap halaman:
SIAPA YANG SEBENARNYA RAKA PERHATIKAN?
Di bawah kandidat utama, ia belum menulis nama.
Bima melihat Raka.
Lalu melihat Naya yang berjalan ke warung sambil membawa botol minum dan sisa permen tenggorokan di tasnya.
Bima perlahan menulis satu kata.
Naya.
Tapi sebelum huruf terakhir selesai, Alya muncul di sampingnya.
“Kamu nulis apa?”
Bima langsung menutup buku.
“Tidak ada.”
Alya menyipit.
“Bima.”
“Catatan sejarah festival.”
Salsa yang berdiri di belakang Alya tersenyum kecil.
Raka menoleh dari kejauhan.
Naya melambaikan tangan dari depan warung.
Dan Bima, untuk pertama kalinya, merasa bahwa mungkin ia tidak salah.
Mungkin kali ini, teorinya benar.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Belum.
Karena hari itu mereka baru saja menjadi legenda.
Dan beberapa rahasia, Bima mulai sadar, mungkin butuh waktu yang lebih tepat untuk disidangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar