Chapter 1
Amplop yang Tidak Seharusnya Diintip
Ada dua jenis orang ketika disuruh maju ke depan kelas.
Pertama, orang yang langsung panik, menunduk, pura-pura tidak dengar, lalu berharap Tuhan menghapus namanya dari daftar absen.
Kedua, Naya.
“Selamat malam, wahai manusia-manusia yang besok pagi kemungkinan besar bangun kesiangan!”
Suara Naya menggema lewat mikrofon aula penginapan.
Sebagian anak XI IPA 2 langsung bersorak. Sebagian lagi mengeluh karena telinga mereka belum siap menerima volume Naya setelah makan malam.
Di salah satu sudut lingkaran, Raka duduk santai sambil memegang amplop miliknya.
Tepat di sebelahnya, Bima terkekeh.
“Gila, Nay. Baru megang mic udah kayak caleg.”
“Yang kasihan itu nilai matematikamu,” balas Naya tanpa ragu.
Satu kelas tertawa.
“Serangan personal di depan umum,” keluh Bima. “Saya akan lapor ke pihak berwenang.”
“Silakan. Tapi pihak berwenangnya juga capek sama kamu.”
Tawa makin pecah.
Alya yang duduk tidak jauh dari depan hanya menghela napas. Sebagai ketua kelas, ia sudah terlalu sering menyaksikan percakapan seperti ini.
Sementara itu, Salsa membantu membagikan amplop ke beberapa siswa yang belum kebagian.
Malam itu adalah malam kedua wisata kelas mereka.
Secara resmi, acaranya bernama Malam Keakraban dan Kesan-Pesan Menjelang Kelas XII.
Secara tidak resmi, itu adalah malam ketika satu kelas dipaksa menuliskan pendapat mereka tentang teman-temannya tanpa boleh mencantumkan nama.
“Aturannya sederhana,” kata Naya sambil mengangkat satu amplop. “Tulis kesan dan pesan sejujur-jujurnya.”
“Anonim?” tanya Bima.
“Anonim.”
“Boleh jujur banget?”
“Boleh.”
“Kalau aku nulis ‘tolong pindah sekolah’?”
“Itu bukan kesan-pesan. Itu deklarasi perang.”
Tawa kembali pecah.
Naya lalu menunjuk Bima dengan curiga.
“Dan yang paling penting: dilarang mengintip.”
Seketika hampir satu kelas menoleh ke arah Bima.
“Kenapa lihat aku?” protesnya.
“Karena kalau ada aturan, biasanya kamu alasan aturan itu dibuat,” jawab Alya datar.
“Fitnah.”
“Bukti hidup.”
Permainan pun dimulai.
Amplop berpindah dari tangan ke tangan.
Suasana aula perlahan menjadi lebih tenang. Beberapa siswa mulai serius menulis. Sebagian lagi terlihat kebingungan mencari kata-kata yang cukup sopan untuk menyampaikan kritik.
Awalnya, Bima tidak berniat memperhatikan Raka.
Ia sudah mengenal cowok itu cukup lama.
Pendiam.
Hemat kata.
Kalau disuruh menulis kesan-pesan, kemungkinan besar hasilnya hanya dua kalimat.
Kesan: baik.
Pesan: semangat.
Selesai.
Namun beberapa menit kemudian, Bima mulai menyadari sesuatu yang aneh.
Saat sebuah amplop tertentu sampai di tangan Raka, cowok itu berhenti lebih lama dari biasanya.
Ia membaca nama yang tertulis di depan amplop.
Lalu diam.
Kemudian mulai menulis.
Satu baris.
Dua baris.
Tiga baris.
Masih lanjut.
Bima mengernyit.
Ini tidak normal.
Raka bahkan terlihat berpikir sebelum menulis kalimat berikutnya.
“Rak,” bisik Bima.
“Hm?”
“Kamu lagi nulis kesan-pesan atau surat lamaran kerja?”
Raka tidak menjawab.
Ia tetap fokus pada kertas di tangannya.
Bima semakin curiga.
Karena penasaran, ia melirik sedikit.
Tidak jelas.
Ia hanya sempat melihat beberapa kata.
Kurang.
Ia butuh informasi lebih banyak.
Padahal aturan permainan ini jelas-jelas melarang mengintip.
Sayangnya, rasa penasaran Bima sering kali lebih kuat daripada akhlaknya.
Dengan gerakan yang menurutnya sangat halus—meskipun sebenarnya tidak terlalu halus—ia memiringkan badan sedikit.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Dan akhirnya berhasil melihat nama yang tertulis di depan amplop itu.
Mata Bima langsung membesar.
Oh.
Ia mencoba membaca beberapa kalimat yang sedang ditulis Raka.
Tulisan itu tidak panjang seperti surat cinta.
Tidak berlebihan.
Tidak romantis.
Tapi terlalu spesifik.
Terlalu memperhatikan.
Terlalu berbeda dibanding cara Raka biasanya menulis untuk orang lain.
Dan saat itulah semuanya terasa masuk akal.
Oh.
OH.
Bima buru-buru kembali duduk normal sebelum ketahuan.
Jantungnya malah berdebar seperti habis melakukan kejahatan besar.
Yang sebenarnya memang benar.
Di sebelahnya, Raka masih menulis beberapa kata terakhir.
Tangannya bergerak pelan. Tidak ragu-ragu, tapi juga tidak terburu-buru. Seolah setiap kata sudah lama ada di kepalanya dan baru malam itu diberi tempat untuk keluar.
Bima menelan ludah.
Biasanya, kalau ia menemukan bahan sebesar ini, kepalanya langsung penuh kemungkinan. Cara menggoda. Cara memancing. Cara membuat satu circle heboh tanpa benar-benar terlihat sebagai pelaku utama.
Tapi kali ini aneh.
Tulisan Raka tidak terdengar seperti bahan bercandaan. Tidak ada kalimat norak. Tidak ada pengakuan berlebihan yang bisa dijadikan lelucon. Yang ada hanya perhatian yang terlalu rapi, terlalu lama disimpan, dan terlalu jujur untuk dibocorkan begitu saja.
Untuk pertama kalinya, Bima merasa tahu sesuatu bukan berarti boleh langsung mengatakannya.
Raka melipat kertas itu dengan rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop.
“Apa?” tanya Raka tanpa menoleh.
“Enggak.”
“Kamu aneh.”
“Terima kasih.”
Kini Raka benar-benar menoleh.
Tatapannya penuh curiga.
Bima langsung memasang wajah polos.
Wajah yang sangat tidak meyakinkan.
Namun untungnya Raka tidak melanjutkan interogasi. Ia kembali fokus pada amplop berikutnya.
Sementara itu, di dalam kepala Bima sedang terjadi pesta kembang api.
Ia tahu.
Akhirnya ia tahu.
Selama ini ia selalu salah menebak banyak hal.
Jawaban ulangan.
Hasil pertandingan.
Bahkan kadang salah masuk kelas.
Tapi kali ini ia yakin.
Seratus persen.
Raka menyukai seseorang.
Dan Bima baru saja mengetahui siapa orang itu.
Masalahnya, setelah tahu, ia justru tidak merasa menang.
Ia merasa seperti baru saja memegang sesuatu yang mudah pecah.
Beberapa menit kemudian permainan selesai.
Semua amplop kembali ke pemiliknya masing-masing.
“Jangan dibuka sekarang!” seru Naya. “Baca nanti di kamar. Kalau ada yang tersinggung, jangan langsung keluar grup kelas.”
“Kalau ada yang jatuh cinta?” teriak seseorang dari belakang.
“Itu di luar tanggung jawab panitia.”
Tawa kembali terdengar.
Suasana mulai santai lagi.
Beberapa siswa berdiri untuk membereskan kursi. Sebagian lain masih sibuk bercanda.
Di tengah keramaian itu, lima orang yang dikenal satu kelas sebagai circle paling kompak akhirnya berkumpul lagi.
Bima.
Raka.
Naya.
Alya.
Dan Salsa.
Bima menatap mereka satu per satu.
Alya sedang memastikan tidak ada amplop yang tertinggal.
Salsa membantu mengumpulkan kertas kosong.
Naya masih memegang mikrofon meskipun acara sudah selesai, seolah benda itu memang bagian dari takdir hidupnya.
Raka berdiri di samping Bima dengan wajah biasa saja.
Terlalu biasa saja.
Padahal sekarang, bagi Bima, semua hal tentang Raka mendadak terlihat tidak biasa.
Diamnya.
Cara ia tidak ikut tertawa terlalu keras.
Cara pandangannya sesekali bergerak mengikuti seseorang di dalam ruangan, lalu kembali biasa saja sebelum sempat menarik perhatian.
Cara ia tidak mengatakan apa-apa, tapi tetap selalu berada sedikit lebih dekat ketika ada yang hampir menjatuhkan sesuatu, hampir tersandung, atau hampir membuat masalah kecil menjadi besar.
Dulu Bima mungkin akan melewatkan hal-hal seperti itu.
Sekarang tidak.
Dan yang paling menyebalkan, setelah tahu satu rahasia, Bima mulai merasa bahwa mungkin rahasia itu tidak muncul tiba-tiba malam ini.
Mungkin sudah ada sejak festival sekolah satu bulan lalu, di hal-hal kecil yang dulu terlalu mudah disebut sebagai, “Raka memang begitu.”
Entah karena amplop-amplop itu, atau karena rahasia yang baru saja ia lihat, tiba-tiba malam ini terasa terlalu cocok untuk menanyakan hal bodoh.
Dan seperti biasa, Bima tidak pernah cukup kuat menahan hal bodoh.
“Eh,” kata Bima tiba-tiba. “Kalau ada yang confess di circle kita, bakal tetap kayak gini nggak?”
Alya mengernyit.
“Pertanyaanmu kenapa tiba-tiba begitu?”
“Penasaran aja.”
“Pertanyaan yang mencurigakan,” kata Salsa.
“Karena yang nanya Bima,” tambah Alya.
“Diskriminasi.”
Naya mengangkat bahu.
“Selama nggak norak, harusnya aman.”
“Definisi norak menurutmu apa?” tanya Salsa.
“Confess pakai spanduk.”
“Kalau pakai drone?” tanya Bima.
“Lebih norak.”
“Kalau pakai marching band?”
“Bima.”
“Aku cuma menguji batas.”
Salsa tertawa kecil.
“Menurutku pasti ada yang berubah.”
Kalimat itu membuat mereka sedikit terdiam.
Tidak lama.
Tapi cukup terasa.
Bima melirik Raka.
Raka tetap diam seperti biasa.
Namun sekarang, setelah mengetahui rahasia kecil itu, diamnya terasa berbeda.
Dulu, diam Raka hanya diam.
Sekarang, diam itu seperti pintu yang ditutup pelan-pelan dari dalam.
Bima menahan senyum.
Rahasia itu masih aman.
Untuk sementara.
Bukan karena ia tidak ingin bicara.
Tentu saja ia ingin.
Bima selalu ingin bicara.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang bahkan belum punya nama. Mungkin rasa bersalah karena mengintip. Mungkin rasa sayang pada circle yang baru saja menjadi tempat pulang mereka berlima. Mungkin juga karena ia melihat sendiri bahwa bagi Raka, perasaan itu bukan bahan ramai-ramai.
Setidaknya belum.
Acara sudah selesai, dan aula perlahan berubah menjadi tempat kerja dadakan.
Beberapa siswa mengangkat kursi.
Sebagian lain melipat tikar dan membereskan perlengkapan acara.
Di tengah suara gesekan kursi dan obrolan yang mulai bercampur dengan kegiatan beres-beres itu, Bima berbisik pelan,
“Gawat.”
“Apa lagi?” tanya Raka.
Bima menggeleng sambil tersenyum.
“Kayaknya circle kita bakal seru.”
Raka tidak menjawab.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, sebuah suara sudah lebih dulu terdengar dari belakang Bima.
“Bima! Jangan ditumpuk begitu!”
Bima menoleh.
Ternyata tanpa sadar ia sedang menyusun kursi sambil mengobrol dengan Raka.
Menurut Bima, susunannya sangat efisien.
Menurut Naya, itu adalah jebakan maut.
“Aman, kok.”
“Kalau ambruk gimana?”
“Berarti gravitasinya bekerja.”
“Bima!”
Alya ikut datang sambil menghela napas panjang.
“Tolong susun yang benar.”
Sementara Bima akhirnya menyerah dan mulai membenarkan tumpukan kursinya, Salsa tertawa melihat keributan itu sambil membawa beberapa amplop kosong ke meja panitia.
Dan untuk sesaat, semuanya terlihat biasa saja.
Seperti tidak ada rahasia apa pun.
Padahal Bima tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan tepat di sampingnya.
Sesuatu yang mungkin akan mengubah banyak hal.
Atau mungkin tidak mengubah apa-apa sama sekali.
Karena sebelum amplop anonim, sebelum Bima berlagak seperti detektif amatir, dan sebelum Raka menyembunyikan sesuatu di balik wajah datarnya, mereka berlima sudah lebih dulu dikenal satu kelas karena alasan lain.
Festival sekolah.
Lebih tepatnya, kekacauan festival sekolah yang entah bagaimana berhasil mereka selamatkan satu bulan lalu.
Sampai sekarang, anak-anak kelas masih menyebutnya sebagai salah satu keajaiban terbesar yang pernah terjadi di sekolah.
Legenda festival.
Tapi bagi Bima, setelah malam ini, legenda itu terasa berbeda.
Bukan cuma cerita tentang stand sidang receh, palu kardus, poster bocor, hujan, sakit, panggung kecil, dan satu kelas yang mendadak kompak.
Itu juga cerita tentang bagaimana Raka pelan-pelan berhenti menjadi orang yang hanya ada di pinggir keramaian.
Tentang bagaimana Naya, yang selalu berhasil membuat suasana hidup, akhirnya belajar bahwa ia tidak harus terus-menerus membuat semua orang tertawa, dan bahwa sesekali ia juga boleh berhenti, diam, dan membiarkan orang lain menjaganya.
Tentang Alya yang belajar tidak semua beban harus ia pegang sendiri.
Tentang Salsa yang akhirnya tidak selalu harus tersenyum agar orang lain nyaman.
Dan tentang Bima sendiri, yang untuk pertama kalinya harus belajar bahwa rahasia bukan selalu sesuatu yang menunggu untuk dibocorkan.
Kadang, rahasia adalah sesuatu yang harus dijaga sampai pemiliknya cukup berani untuk bicara sendiri.
Tapi cerita itu tidak dimulai saat festival berlangsung.
Cerita itu dimulai jauh sebelumnya.
Saat mereka bahkan belum bisa disebut circle.
Saat wali kelas masuk ke kelas dengan senyum yang membuat satu ruangan kehilangan harapan.
“Ibu butuh lima orang untuk jadi tim inti stand festival.”
Tidak ada yang mengangkat tangan.
Tentu saja.
Naluri bertahan hidup mereka masih berfungsi.
Lalu wali kelas mereka tersenyum lebih lebar.
Senyum yang membuat seluruh kelas sadar bahwa demokrasi baru saja meninggal.
“Ibu sudah pilih orangnya.”
Dan begitulah awal bencana yang nantinya berubah menjadi legenda festival.
Juga awal dari semua hal kecil yang malam ini akhirnya terbaca di dalam satu amplop.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar