Chapter 14
Satu Hari Sebelum Legenda
Satu hari sebelum festival, sekolah berubah menjadi tempat yang tidak bisa lagi disebut sekolah.
Lebih mirip pasar.
Atau bengkel.
Atau lokasi evakuasi bencana yang kebetulan masih memakai seragam.
Di setiap koridor, ada siswa membawa karton, kain, bambu, kardus, cat, meja lipat, dan beberapa benda yang seharusnya tidak berada di lingkungan pendidikan.
Kelas IPS 1 membawa properti rumah hantu berupa kepala boneka yang rambutnya terlalu realistis.
Kelas XI Bahasa membawa papan besar bertuliskan Kedai Ramalan Cinta dan Nasib Akademik.
Kelas XI IPA 1 membawa galon, kompor portable, dan bahan makanan dalam jumlah mencurigakan.
Sementara XI IPA 2 membawa kotak bertuliskan:
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
HATI-HATI: ISINYA KEADILAN RECEH
Tulisan bagian bawah jelas buatan Bima.
Alya sudah memintanya menghapus.
Bima menolak dengan alasan itu adalah “peringatan hukum”.
Naya mendukung dengan alasan “lucu”.
Salsa menengahi dengan alasan “masih bisa dibaca”.
Raka tidak berkomentar.
Namun ia menambahkan lakban di sisi kotak agar tulisannya tidak mudah lepas.
Itu, menurut Bima, adalah bentuk dukungan diam-diam.
Menurut Raka, itu hanya karena lakbannya hampir copot.
“Angkat pelan-pelan,” kata Alya sambil berdiri di depan kelas dengan daftar barang di tangan. “Kotak kartu kasus jangan sampai kebalik. Poster jangan dilipat. Palkim jangan diayun-ayun.”
Bima berhenti di tengah gerakan mengayunkan Palkim.
“Aku hanya mengetes keseimbangan.”
“Kamu mengayun seperti pendekar.”
“Pendekar hukum.”
“Tidak ada.”
Naya mengambil Palkim dari tangan Bima dan memasukkannya ke kotak properti.
“Palkim istirahat dulu. Besok dia bekerja keras.”
Bima menatap kotak itu dengan bangga.
“Tidurlah, simbol keadilan.”
Dito yang lewat sambil membawa gulungan kain menatap mereka.
“Gue masih nggak percaya properti kalian punya drama sendiri.”
“Jangan iri,” kata Bima. “Tidak semua stand punya jiwa.”
Alya menepuk daftar barang ke meja.
“Fokus. Kita pindahkan semua ke lokasi stand sebelum jam sebelas. Setelah itu dekorasi. Setelah itu simulasi alur. Setelah itu pulang cepat.”
Naya mengangkat tangan.
“Definisi pulang cepat?”
“Tidak magrib.”
“Ambisius.”
“Sangat.”
Raka mengangkat satu kotak berisi nomor antrean dan kartu hukuman.
“Lokasi stand kita di lapangan sisi timur, kan?”
Alya mengangguk.
“Dekat panggung kecil. Agak strategis, tapi berarti juga banyak orang lewat.”
Bima tersenyum.
“Bagus. Keadilan harus mudah diakses.”
“Dan mudah dibereskan,” tambah Raka.
Bima menunjuknya.
“Kamu selalu mengembalikan idealisme ke logistik.”
“Karena besok setelah idealisme selesai, logistik yang harus beres-beres.”
Naya menepuk meja.
“Kalimat itu cocok ditempel di ruang panitia.”
Alya mengangguk tanpa sadar.
“Benar.”
Bima menatap Alya.
“Kamu setuju dengan Naya?”
“Aku setuju dengan kalimat Raka.”
“Ohoo.”
Alya langsung menatapnya.
“Bima.”
“Aku tidak bilang apa-apa.”
“Kamu bilang ohoo.”
“Itu ekspresi budaya.”
“Budayakan diam.”
Salsa tertawa sambil mengambil gulungan poster.
“Sudah, ayo. Kalau terus dibahas, kita beneran pulang magrib.”
Mereka mulai bergerak.
Alya membawa daftar barang dan beberapa map proposal.
Bima membawa kotak properti dengan gaya seperti mengawal peti kerajaan.
Naya membawa naskah opening, pin peran, dan satu kantong berisi permen tenggorokan yang dimasukkan paksa oleh ibunya.
Salsa membawa poster dan perlengkapan promosi.
Raka membawa dua kotak paling berat sekaligus.
Naya menoleh.
“Rak, itu berat.”
“Masih bisa.”
“Bagi satu.”
“Tidak perlu.”
“Raka.”
Raka berhenti.
Naya menatapnya dengan wajah yang biasanya ia pakai saat hendak memaksa Bima mengaku salah.
Raka menatap balik.
Alya dan Salsa berhenti juga.
Bima, yang tidak sadar, terus berjalan beberapa langkah sebelum menoleh.
“Kenapa berhenti? Apakah ada pelanggaran?”
Naya menunjuk salah satu kotak di tangan Raka.
“Satu buat aku.”
“Kamu baru sembuh.”
“Dan kamu bukan forklift.”
Bima terdiam.
Lalu berbisik pada Salsa, “Itu kalimat bagus.”
Salsa mengangguk.
Raka akhirnya menyerahkan kotak yang lebih ringan.
Naya menerimanya dengan wajah menang.
“Nah. Kerja tim.”
“Isinya ringan,” kata Raka.
“Bagus. Berarti kamu mengerti prioritas kesehatan saya.”
Raka tidak membalas.
Tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Alya melihat.
Salsa juga.
Bima melihat, tapi ia lebih fokus pada fakta bahwa istilah forklift barusan sangat kuat untuk bahan ejekan berikutnya.
Perjalanan dari kelas ke lapangan sisi timur terasa lebih panjang dari biasanya.
Bukan karena jaraknya jauh.
Tapi karena setiap lima meter ada hambatan.
Di koridor pertama, mereka harus menghindari rombongan kelas lain yang membawa papan triplek besar.
Di tangga, Bima hampir menabrak siswa yang membawa balon.
Di dekat aula, Naya berhenti karena melihat poster kelas Bahasa.
Kedai Ramalan Cinta dan Nasib Akademik
Naya langsung menunjuk.
“Wah. Ini bahaya.”
Bima mendekat.
“Ramalan cinta?”
“Bima, jangan.”
“Aku hanya ingin menguji kompetitor.”
Alya menarik lengan Bima sebelum ia sempat mendekat.
“Kita tidak punya waktu.”
“Tapi bagaimana kalau mereka bisa meramal kasus payung?”
Raka menatapnya.
“Kasus payung sudah ditutup.”
“Menurut siapa?”
“Payungnya.”
Naya tertawa.
Bima tampak tersinggung oleh benda mati untuk kedua kalinya dalam hidupnya.
Saat mereka akhirnya sampai di lapangan sisi timur, lokasi stand mereka sudah diberi tanda dengan kertas bertuliskan XI IPA 2.
Tempatnya cukup bagus.
Terlalu bagus, malah.
Dekat jalur utama.
Dekat panggung kecil.
Dekat tempat guru biasanya lewat.
Alya menatap lokasi itu seperti melihat berkah sekaligus ancaman.
“Ini strategis.”
Naya berdiri di sampingnya.
“Itu bagus.”
“Itu menegangkan.”
“Itu juga bagus. Biar kita hidup.”
“Aku ingin hidup dengan damai.”
“Masuk kepanitiaan festival adalah keputusan yang berlawanan dengan itu.”
“Aku tidak memutuskan. Aku dipilih.”
“Takdir juga bisa kejam.”
Bima meletakkan kotak properti di tanah.
“Teman-teman, mari kita resmikan tanah ini sebagai wilayah hukum Mahkamah Receh.”
Alya langsung berkata, “Jangan cium tanah.”
Bima yang baru menunduk sedikit langsung tegak.
“Aku tidak akan.”
“Kamu terlihat akan.”
“Itu bagian dari seremoni.”
“Tidak ada seremoni.”
Raka meletakkan kotak-kotak di sisi stand.
“Kita mulai dari layout.”
Alya langsung membuka buku.
“Meja hakim di belakang. Kursi terdakwa di tengah. Jalur antrean dari kiri. Jalur keluar ke kanan.”
Salsa membuka gulungan poster.
“Poster besar di depan, biar orang langsung tahu konsepnya.”
Naya mengangkat kartu kasus.
“Kotak kasus di dekat pintu masuk.”
Bima mengangkat Palkim dari kotak.
“Palkim di tempat terhormat.”
“Palkim di meja hakim,” kata Alya.
“Tempat terhormat.”
“Jangan diberi alas khusus.”
“Padahal aku bawa kain kecil.”
Alya mematung.
“Kamu bawa apa?”
Bima mengeluarkan kain merah kecil dari tasnya.
Hening.
Naya perlahan menutup mulut.
Salsa memalingkan wajah.
Raka melihat kain itu.
Lalu berkata, “Itu lap kacamata?”
Bima membeku.
“Bukan.”
Naya meledak tertawa.
Salsa ikut tertawa.
Alya menutup wajah dengan buku.
Bima tampak benar-benar terluka.
“Ini kain kehormatan.”
“Itu ada merek optik,” kata Raka.
Bima langsung membalik kain itu.
Benar.
Ada logo kecil di sudut.
Naya hampir duduk karena tertawa.
“Kamu mau menaruh simbol keadilan di atas lap kacamata?”
“Dia pantas mendapat alas!”
“Palkim butuh melihat masa depan dengan jelas,” kata Naya.
Salsa sudah tidak bisa menahan tawa.
Alya mengambil kain itu dari tangan Bima.
“Ini simpan di tas.”
“Tapi—”
“Di tas.”
Bima menerima kekalahannya dengan berat.
Dekorasi dimulai.
Dan seperti semua kegiatan dekorasi sekolah, lima menit pertama berjalan teratur.
Setelah itu, kekacauan mengambil alih secara sah.
Kain hitam terlalu pendek.
Tali rafia kusut.
Poster miring.
Lakban habis di saat paling tidak tepat.
Karton tulisan DILARANG MENYUAP HAKIM DENGAN GORENGAN jatuh tiga kali.
Bima menganggap itu pertanda alam karena hakim memang tidak seharusnya disuap.
Alya menganggap itu karena Bima menempelnya dengan niat buruk.
Raka menganggap itu karena lakbannya terlalu sedikit.
Raka benar.
Seperti biasa.
“Lakban tambahan?” tanya Salsa.
Raka membuka tasnya.
Mengeluarkan satu gulungan lakban.
Naya menatapnya dengan mata berbinar.
“Tentu saja.”
“Cadangan,” kata Raka.
“Rak, kalau suatu hari dunia kiamat, aku ikut kamu.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kamu pasti bawa lakban, payung, permen, dan daftar evakuasi.”
Bima menunjuk Raka.
“Aku juga ikut. Dia punya sistem.”
Alya mengangguk pelan.
“Secara logis, memang pilihan aman.”
Salsa tersenyum.
Raka menatap mereka satu per satu.
“Aku tidak membuka rombongan evakuasi.”
“Terlambat,” kata Naya. “Kamu sudah diangkat menjadi ketua logistik akhir zaman.”
Raka memilih memperbaiki poster.
Itu lebih mudah daripada menanggapi.
Menjelang siang, stand mulai terlihat bentuknya.
Tidak mewah.
Tidak mahal.
Tidak seprofesional beberapa stand lain.
Tapi punya karakter.
Meja hakim diberi kain hitam.
Di belakangnya ada tulisan besar:
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Di sampingnya tertempel prinsip:
LUCU, TAPI NGGAK JAHAT
Di bagian depan ada poster buronan pulpen, charger, gorengan, dan chat grup.
Di meja kecil ada kotak undian kasus.
Di sisi kanan ada papan hukuman lucu.
Di dekat pintu keluar, Salsa menempel tulisan:
SELAMAT! ANDA TELAH DIADILI SECARA TIDAK SERIUS.
Naya membaca tulisan itu dan langsung bertepuk tangan.
“Sal, ini sempurna.”
Salsa tersenyum bangga.
“Bima minta tambah tulisan ‘jangan dendam kepada lembaga’, tapi aku tolak.”
Alya mengangguk.
“Keputusan benar.”
Bima dari belakang protes, “Itu perlindungan hukum!”
Raka memasang tali pembatas antrean.
“Kalau pengunjung ramai, antrean maksimal lima orang di depan. Sisanya diarahkan menunggu di sisi kiri.”
Naya berdiri di sampingnya.
“Kamu benar-benar serius soal antrean.”
“Kalau tidak, nanti penuh.”
“Kalau penuh berarti laris.”
“Kalau terlalu penuh berarti susah bergerak.”
“Wah. Kamu tipe orang yang kalau dapat rezeki langsung mikir pengelolaannya.”
“Harus.”
Naya tersenyum.
“Susah dibantah.”
Raka mengikat simpul tali rafia.
Naya memperhatikan sebentar.
Simpulnya rapi.
Terlalu rapi untuk tali rafia yang sejak tadi diperlakukan seperti musuh bersama.
“Kamu dulu pramuka?”
“Tidak.”
“Kenapa bisa ngikat begitu?”
“Sering bantu pas acara masjid.”
“Oh.”
Naya mengangguk.
“Pantas kamu suka ke masjid.”
Raka menoleh.
“Apa hubungannya?”
“Bima pernah bilang kamu respons azan lebih cepat daripada respons chat grup.”
“Chat grup sering tidak penting.”
“Azan penting?”
“Iya.”
Jawaban itu singkat.
Tenang.
Tidak dibuat-buat.
Naya melihatnya sebentar, lalu mengangguk.
“Masuk akal.”
Raka kembali mengikat tali.
Naya masih berdiri di sampingnya.
“Aku kira kamu alim yang tipe menegangkan.”
Raka berhenti sebentar.
“Menegangkan?”
“Iya. Yang kalau orang bercanda sedikit langsung dilihatin seperti mau dihukum.”
“Aku tidak begitu.”
“Iya. Ternyata kamu cuma suka bawa lakban.”
“Beda jauh.”
“Sama-sama mengejutkan.”
Raka menatapnya.
Naya tersenyum.
Tidak lama kemudian, Bima muncul membawa karton tulisan yang jatuh lagi.
“Maaf mengganggu pembicaraan tali rafia, tapi pasal gorengan kembali runtuh.”
Alya dari meja hakim langsung berkata, “Karena kamu tempel pakai selotip kecil!”
Bima menunjuk Raka.
“Ketua logistik akhir zaman, kami butuh bantuan.”
Raka menghela napas kecil.
Naya tertawa.
“Pergilah. Rakyat membutuhkanmu.”
Raka mengambil lakban dan berjalan ke arah Bima.
Salsa yang sedang merapikan poster melihat Naya masih tersenyum setelah Raka pergi.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun ia menyimpan pemandangan itu dalam pikirannya.
Sore mendekat.
Stand hampir selesai.
Alya melakukan pengecekan terakhir.
“Poster?”
“Selesai,” jawab Salsa.
“Kartu kasus?”
“Lengkap,” jawab Naya.
“Hukuman?”
“Lengkap juga.”
“Palkim?”
Bima mengangkatnya.
“Siap bertugas.”
“Jangan diangkat tinggi-tinggi.”
Bima menurunkannya sedikit.
“Pin peran?”
Raka menunjukkan kotak kecil.
“Lengkap.”
“Tali antrean?”
“Sudah.”
“Nomor antrean?”
“Sudah.”
“Cadangan lakban?”
Raka mengangkat gulungan kecil.
Alya mengangguk puas.
“Kita simulasi sekali. Dari pengunjung masuk sampai keluar.”
Simulasi dilakukan dengan Mira sebagai pengunjung.
Mira mengambil kartu kasus.
Terdakwa berkata ‘aku ikut aja’ tapi menolak semua usulan.
Mira menatap kartu itu.
Lalu menatap Naya.
“Naya.”
“Semua kasus fiktif.”
“Aku merasa diserang.”
“Berarti realitas sosial berhasil disentuh.”
Sidang simulasi berjalan lancar.
Bima membuka dakwaan.
Naya membela dengan alasan bahwa “terserah” adalah jeritan jiwa yang belum menemukan arah.
Salsa menjadi saksi yang mengatakan bahwa terdakwa sering membuat grup menjadi macet.
Alya memutus hukuman: Mira harus memilih satu menu kantin untuk seluruh anggota meja tanpa berkata “terserah”.
Mira mengeluh, tapi tertawa.
Durasi: dua menit lima puluh lima detik.
Raka mengangkat jempol kecil.
Naya langsung menunjuknya.
“Wah! Pengakuan nonverbal!”
Bima ikut menunjuk.
“Jarang terjadi!”
Raka menurunkan tangannya.
“Itu untuk durasi.”
“Tidak penting. Kami sudah melihat.”
Salsa tertawa.
Alya, untuk pertama kalinya hari itu, benar-benar terlihat lega.
“Baik. Cukup. Kita pulang.”
Bima menoleh kaget.
“Beneran?”
“Iya.”
“Tidak ada latihan tambahan?”
“Tidak.”
“Tidak ada rapat evaluasi?”
“Tidak.”
“Tidak ada pidato penutup?”
“Ada kalau kamu diam sampai gerbang.”
Bima langsung menutup mulut.
Mereka membereskan barang-barang kecil, memastikan stand aman, lalu berjalan keluar dari area lapangan.
Matahari mulai turun.
Lapangan sekolah yang sepanjang hari berisik mulai sedikit mereda, meski beberapa kelas masih panik membangun dekorasi.
Di depan stand, Naya berhenti sejenak.
Ia menatap tulisan besar yang mereka pasang.
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Lalu tulisan kecil di sampingnya.
LUCU, TAPI NGGAK JAHAT
“Besok bakal rame nggak ya?” gumamnya.
Bima berdiri di sampingnya.
“Pasti.”
Alya menatap stand itu dengan wajah masih sedikit tegang.
“Semoga terkendali.”
Salsa tersenyum.
“Semoga orang suka.”
Raka melihat tali antrean.
“Semoga tidak putus.”
Naya menoleh.
“Kamu romantis sekali dengan caramu sendiri.”
“Apa hubungannya?”
“Nggak ada. Tapi tetap.”
Bima mengangkat tangan.
“Aku semoga tidak gugup.”
Semua menoleh ke Bima.
Naya berkedip.
“Kamu bisa gugup?”
“Bisa. Aku manusia.”
Alya menatapnya lebih lembut dari biasanya.
“Kalau gugup, ikuti naskah.”
“Kalau lupa?”
“Lihat Naya.”
Bima menatap Naya.
Naya mengangkat dagu.
“Tenang. Aku akan menyelamatkanmu seperti biasa.”
“Kalimat itu sombong tapi menenangkan.”
“Terima kasih.”
Salsa melihat mereka semua.
Entah kenapa, ia merasa hangat.
Beberapa minggu lalu, mereka bukan siapa-siapa bagi satu sama lain.
Bukan musuh.
Bukan teman dekat.
Hanya lima orang di kelas yang sama, dengan urusan masing-masing.
Sekarang, mereka berdiri di depan stand yang mereka bangun bersama dan saling tahu siapa yang harus dilihat ketika gugup.
Itu terasa seperti sesuatu.
Sesuatu yang belum punya nama.
Mungkin belum perlu.
Malam itu, grup Mahkamah Receh mendapat satu pesan dari Alya.
Alya: Besok kumpul jam 6.45 di stand. Jangan telat. Tidur cukup.
Bima membalas paling cepat.
Bima: Siap, Yang Mulia.
Salsa: Siap. Aku bawa poster cadangan.
Naya: Siap. Aku bawa suara.
Raka: Jangan habiskan malam ini.
Naya: Kamu bahkan membatasi stok suaraku.
Raka: Penting.
Bima: Aku bawa Palkim.
Alya: Palkim sudah di stand.
Bima: Aku merasa hampa.
Salsa: Bawa diri aja, Bim.
Naya: Jangan semua diri. Sisakan dramanya di rumah.
Bima: Tidak bisa. Dramaku paket lengkap.
Alya membaca chat itu di kamarnya sambil tersenyum kecil.
Lalu ia mengirim pesan lagi.
Alya: Serius. Tidur.
Raka: Setuju.
Naya: Siap, ayah ibu pengadilan.
Bima: Kalau Alya ibu, Raka ayah?
Grup hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu Alya mengetik:
Alya: Bima.
Salsa mengirim emoji tertawa.
Naya mengirim:
Naya: Besok Bima disidang duluan.
Raka hanya membalas:
Raka: Tidur.
Bima mengirim stiker takut.
Di rumahnya, Naya tertawa kecil sambil mematikan lampu.
Tenggorokannya sudah jauh lebih baik.
Ibunya sudah mengingatkan agar tidak tidur terlalu malam.
Di meja, naskah opening terlipat rapi.
Di sampingnya, ada permen herbal sisa dari Raka.
Naya mengambil satu, lalu menyimpannya ke dalam tas untuk besok.
Bukan karena perlu.
Hanya untuk jaga-jaga.
Di rumah lain, Salsa mengecek poster cadangan untuk terakhir kali.
Ia melihat desain, jadwal, lalu pesan-pesan di grup.
Jarinya berhenti di atas nama Raka.
Lalu berpindah ke nama Naya.
Ia menghela napas kecil.
Besok festival.
Fokus festival dulu.
Kalimat itu, entah kenapa, mulai dipakai lebih dari satu orang.
Di rumah Alya, buku catatan akhirnya ditutup.
Semua daftar sudah dicentang.
Semua jadwal sudah disusun.
Semua risiko sudah ditulis.
Kecuali satu.
Risiko bahwa setelah festival selesai, mereka mungkin tidak akan punya alasan untuk berkumpul sesering ini.
Alya tidak menulis itu.
Ia hanya mematikan lampu.
Sementara itu, di rumah Bima, buku penyelidikan masih terbuka.
Halaman terakhir berisi:
Festival besok. Fokus utama:
Menjadi jaksa terbaik.
Tidak membuat Alya marah lebih dari lima kali.
Menyelidiki kasus Raka tanpa ketahuan.
Menjaga Palkim.
Jangan gugup.
Bima membaca poin kelima paling lama.
Lalu menutup buku.
“Aman,” gumamnya pada diri sendiri.
Ia tidak merasa aman.
Di rumah Raka, tas sekolahnya sudah siap.
Di dalamnya ada daftar alur, pulpen cadangan, lakban, tisu, permen tenggorokan, dan payung lipat meski prakiraan cuaca tidak hujan.
Ia memeriksa semuanya sekali.
Lalu mematikan lampu meja.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Naya.
Naya: Pak Petugas Ketertiban, besok kalau aku terlalu semangat, jangan langsung dimarahi.
Raka membaca pesan itu.
Beberapa detik ia hanya menatap layar.
Lalu mengetik.
Raka: Minum dulu sebelum terlalu semangat.
Balasan Naya muncul cepat.
Naya: Itu tetap marah versi kamu.
Raka berpikir sebentar.
Lalu membalas:
Raka: Aku ingatkan pelan-pelan.
Di kamar Naya, pesan itu membuatnya diam sebentar.
Lalu ia tersenyum.
Naya: Baik. Besok aku akan jadi pembela yang sehat.
Raka: Bagus.
Naya menatap kata itu.
Satu kata.
Singkat.
Sangat Raka.
Namun entah kenapa, ia tidur malam itu dengan perasaan sedikit lebih tenang.
Besoknya, festival dimulai.
Dan seperti semua hal yang mereka siapkan terlalu rapi, kekacauan datang lebih awal dari jadwal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar