Kamis, 18 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 9 / 20

 


Chapter 9

Payung, Hujan, dan Tebakan yang Salah

Ada dua jenis kepanikan di kelas XI IPA 2.

Pertama, kepanikan biasa.

Misalnya lupa PR, lupa jadwal piket, atau sadar bahwa guru matematika masuk kelas sambil tersenyum.

Kedua, kepanikan Salsa.

Jenis yang kedua jauh lebih tenang dari luar, tapi justru karena itulah lebih mengkhawatirkan.

Pagi itu, Salsa berdiri di depan papan pengumuman sambil menatap layar ponselnya.

Wajahnya masih tersenyum.

Tapi senyumnya terlalu rapi.

Itu bukan senyum orang yang baik-baik saja.

Itu senyum orang yang sedang mempertimbangkan apakah boleh menghilang sebentar dari kehidupan sosial.

Di layar ponselnya, poster keempat Ruang Sidang Anak Sekolah sudah tersebar di story beberapa anak.

Masalahnya, itu bukan poster final.

Itu draft.

Versi yang bahkan belum sempat Salsa rapikan.

Di pojok kanan bawah masih tertulis kecil:

“Jangan upload dulu, masih jelek.”

Naya membaca tulisan itu sekali lagi.

Lalu menutup mulut.

Bahu Naya bergetar.

Salsa menoleh pelan.

“Nay.”

“Aku nggak ketawa.”

“Kamu ketawa.”

“Belum keluar.”

“Itu lebih buruk.”

Bima menatap layar ponsel, lalu menatap poster di story, lalu menatap Salsa dengan wajah serius.

“Sal.”

Salsa menghela napas. “Iya?”

“Sebagai calon jaksa, aku berjanji akan menangani kasus ini seadil-adilnya.”

“Terima kasih.”

“Pelaku penyebaran draft akan menerima hukuman setimpal.”

Alya langsung menoleh.

“Tidak ada hukuman.”

Bima mengangkat palu kardus yang entah kenapa selalu ia bawa.

“Minimal teguran moral.”

“Turunkan palunya.”

“Ini alat komunikasi hukum.”

“Itu kardus dilakban.”

Raka berdiri sedikit di belakang mereka, membaca ulang poster itu dari ponsel Alya.

“Draft-nya tidak terlalu jelek,” katanya pelan.

Salsa menatapnya.

“Hah?”

Raka mengangkat wajah.

“Maksudku, orang tetap paham informasinya.”

Bima langsung menunjuk Raka.

“Lihat. Pujian teknis.”

Naya mengangguk. “Kalau Raka bilang tidak terlalu jelek, berarti sebenarnya bagus.”

“Bukan begitu,” kata Raka.

“Tapi memang begitu,” kata Salsa, tersenyum kecil.

Kali ini senyumnya sedikit lebih longgar.

Alya membaca daftar orang yang mengunggah ulang poster itu.

“Pertanyaannya, siapa yang dapat draft ini?”

Salsa membuka chat.

“Aku cuma kirim ke grup kecil kita dan ke Mira untuk minta pendapat font. Tapi Mira bilang dia belum upload.”

Bima mencatat di buku penyelidikan.

“Mira. Saksi pertama.”

Alya menatapnya.

“Bima.”

“Aku hanya menulis nama.”

“Jangan buat kasus sungguhan dari ini.”

“Ini sudah kasus.”

Naya mengambil ponsel Salsa dan memperhatikan story yang tersebar.

“Yang upload pertama siapa?”

Salsa menggeser layar.

“Fajar.”

Semua menoleh ke arah kelas.

Fajar, yang sedang duduk di bangku belakang sambil makan roti, tiba-tiba berhenti mengunyah ketika menyadari lima orang menatapnya bersamaan.

Ia menelan pelan.

“Apa?”

Bima berjalan mendekat dengan palu kardus di tangan.

“Saudara Fajar.”

Fajar langsung panik.

“Gue ngapain?”

“Apakah benar Saudara menyebarkan poster draft tanpa izin?”

Fajar mengerutkan kening.

“Poster yang mana?”

Alya menyusul dengan langkah cepat.

“Bima, jangan interogasi seperti itu.”

“Tapi dia tersangka.”

“Belum.”

“Calon tersangka.”

“Tidak ada istilah itu.”

Raka berkata pelan dari belakang, “Ada, kalau Bima yang bikin.”

Naya tertawa.

Bima menoleh.

“Raka, dukung aku sekali saja.”

“Tidak untuk interogasi roti.”

Fajar mengangkat roti di tangannya.

“Ini kenapa roti gue ikut dibawa-bawa?”

Salsa mendekat, lalu menunjukkan layar ponselnya.

“Jar, kamu upload poster ini dari mana?”

“Oh.” Fajar langsung terlihat mengerti. “Itu dari grup panitia festival.”

Salsa berkedip.

“Grup panitia?”

“Iya. Ada yang kirim semalam. Gue kira udah final, jadi gue bantu repost.”

Alya menegang.

“Siapa yang kirim?”

Fajar membuka ponselnya.

Beberapa detik kemudian, ia menunjukkan layar.

Ternyata poster itu dikirim oleh salah satu anggota panitia dokumentasi festival.

Di bawahnya tertulis:

Poster stand XI IPA 2. Bantu ramaikan ya.

Salsa menutup wajah.

Naya menepuk bahunya.

“Selamat. Draft-mu resmi punya karier lebih cepat dari dirimu.”

“Aku malu banget.”

“Tidak terlalu kelihatan.”

“Justru itu masalahnya. Aku malu dalam hati.”

Bima menatap ponsel Fajar.

“Berarti pelaku utamanya panitia dokumentasi.”

Alya mengambil napas panjang.

“Bukan pelaku. Mungkin salah ambil file.”

Raka menoleh ke Salsa.

“Kamu kirim file ke grup panitia?”

Salsa mengingat-ingat.

“Aku kirim poster final yang ketiga. Tapi mungkin foldernya sama dengan draft keempat.”

“Nama filenya?”

Salsa membuka galeri.

Lalu diam.

Alya mencondongkan badan.

Di layar ponsel Salsa, file draft itu bernama:

poster_fix_beneran_final_coba4.png

Naya langsung membeku.

Bima menunduk.

Raka melihat nama file itu.

Alya menutup mata.

Salsa menatap mereka semua.

“Jangan bilang apa-apa.”

Naya mengangkat tangan.

“Aku benar-benar berjuang.”

Bima menggigit bibir.

Alya menarik napas.

Raka akhirnya berkata pelan, “Nama filenya kurang membantu.”

Naya langsung tertawa meledak.

Bima ikut tertawa sambil menepuk meja terdekat.

Salsa menutup wajah lagi, tapi kali ini ia juga tertawa.

Alya mencoba tetap serius selama dua detik sebelum akhirnya gagal.

Fajar yang tidak paham seluruh sejarah folder Salsa ikut tertawa karena melihat mereka tertawa.

Kepanikan yang tadi memenuhi dada Salsa pelan-pelan berubah menjadi rasa malu yang masih bisa ditertawakan.

Itu lebih baik.

Jauh lebih baik.

Setelah tawa mereda, Alya berkata, “Oke. Solusinya, kita upload versi final sekarang. Caption-nya dibuat seperti sengaja.”

Naya langsung mengangkat jari.

“Bisa. Kita jadikan gimmick.”

“Gimmick?”

“Iya. Caption: bahkan draft kami pun sudah menjadi barang bukti.”

Bima berdiri tegak.

“Luar biasa.”

Salsa menurunkan tangan dari wajahnya.

“Itu... bisa juga.”

Raka mengangguk kecil.

“Lebih baik daripada menghapus semuanya. Sudah tersebar.”

Alya langsung mencatat.

“Sal, kamu upload versi final. Naya bantu caption. Raka cek info tanggal dan lokasi. Bima…”

“Aku siap.”

“Jangan komentar dulu di story siapa pun.”

Bima tampak kecewa.

“Tugasku diam?”

“Itu tugas penting.”

Naya menepuk bahu Bima.

“Tidak semua pahlawan berbicara.”

“Ini bertentangan dengan kepribadianku.”

“Justru itu ujiannya.”

Dalam waktu lima belas menit, versi final poster keempat diunggah.

Kali ini caption-nya berbunyi:

Barang bukti terbaru telah bocor lebih dulu.
Tenang, ini versi finalnya. Yang tadi masih terdakwa percobaan.

Responsnya justru lebih ramai.

Beberapa anak tertawa.

Beberapa repost lagi.

Ada yang sengaja menulis:

Aku saksi penyebaran draft.

Salsa menatap layar ponselnya dengan ekspresi tidak percaya.

“Ini malah ramai.”

Naya tersenyum bangga.

“Kadang bencana hanya promosi yang belum diberi caption.”

Alya menatapnya.

“Itu kalimat berbahaya.”

“Tapi benar.”

Bima mengangkat palu kardus.

“Dengan ini, kasus poster draft dinyatakan selesai melalui restorative marketing.”

Raka menatapnya.

“Itu istilah dari mana?”

“Hatiku.”

“Jangan jadikan sumber hukum.”

Salsa tertawa lagi.

Dan untuk sesaat, semuanya terasa kembali aman.

Tentu saja, rasa aman dalam kepanitiaan sekolah biasanya punya masa berlaku pendek.

Sore harinya, langit mulai gelap sebelum latihan selesai.

Awan kelabu menggantung di atas sekolah, dan angin yang masuk lewat jendela kelas membuat beberapa kertas kasus beterbangan.

Alya langsung menahan tumpukan kertas di meja.

“Jendela tutup dulu.”

Bima yang paling dekat dengan jendela berdiri, tapi malah berhenti untuk melihat langit.

“Wah. Dramatis.”

“Bima, tutup jendela.”

“Ini suasana cocok untuk pengkhianatan.”

“Jendela.”

“Baik.”

Hujan turun lima menit kemudian.

Deras.

Tidak sopan.

Seperti langit baru ingat bahwa ia punya tugas dan langsung mengerjakan semuanya sekaligus.

Beberapa siswa yang hendak pulang tertahan di depan kelas.

Suara hujan memenuhi koridor.

Latihan opening dihentikan.

Properti disimpan.

Poster dimasukkan ke map.

Palu kardus dilindungi Bima seperti bayi.

“Jangan sampai basah,” katanya serius.

Naya menatapnya.

“Bima, itu kardus.”

“Makanya.”

Alya melihat jam.

“Kita tunggu sebentar. Kalau reda, baru pulang.”

“Kalau nggak reda?” tanya Salsa.

“Pinjam payung siapa yang ada.”

Naya membuka tasnya.

Lalu berhenti.

Wajahnya berubah.

Alya langsung curiga.

“Naya.”

Naya tersenyum kecil.

“Aku sepertinya melakukan eksperimen.”

“Eksperimen apa?”

“Membuktikan apakah manusia bisa pulang tanpa payung saat hujan.”

Bima menunjuknya.

“Jadi kamu nggak bawa payung?”

“Aku tadi pagi optimis.”

“Optimisme sering membunuh logistik,” kata Raka pelan.

Naya menoleh cepat.

“Itu kalimat bagus.”

“Bukan untuk dipuji.”

“Untuk disesali?”

“Untuk bawa payung.”

Naya menyatukan kedua tangan.

“Pak Pengurus Inventaris Kehidupan, apakah ada solusi?”

Raka membuka tasnya.

Mengeluarkan payung lipat warna hitam.

Lalu meletakkannya di meja.

Naya menatap payung itu.

“Wah.”

Bima langsung menunjuk.

“Aku tahu. Raka pasti punya.”

Alya mengernyit.

“Kenapa kamu tahu?”

“Karena dia tipe orang yang siap menghadapi kemungkinan.”

Raka tidak membantah.

Salsa melihat ke luar jendela.

“Aku bawa payung juga, tapi kecil.”

Alya mengangkat payungnya sendiri.

“Aku juga.”

Bima membuka tasnya.

Mengeluarkan jas hujan plastik tipis yang masih terlipat.

Naya menatapnya.

“Kamu bawa jas hujan?”

“Sebagai bentuk pertahanan diri.”

“Kamu bawa palu, tapi juga jas hujan. Kontradiktif sekali.”

“Aku kompleks.”

Raka melihat hujan.

“Kalau arah rumah beda, mending tunggu reda sedikit.”

“Rumahku dekat halte depan,” kata Salsa. “Kalau hujan agak kecil, aku bisa.”

Alya mengangguk. “Aku juga lewat arah depan.”

Bima mengangkat jas hujannya. “Aku ke parkiran angkot.”

Naya menunjuk dirinya sendiri.

“Aku ke gerbang samping.”

Raka menoleh.

“Samping?”

“Iya. Rumahku dijemput sepupuku biasanya di warung dekat gerbang samping.”

“Hari ini dijemput?”

“Harusnya.”

“Harusnya?”

Naya mengambil ponsel.

Mengecek pesan.

Lalu tertawa kecil.

“Sepupuku baru berangkat. Dari rumah.”

Alya menatapnya.

“Itu artinya lama.”

“Tidak kalau dia teleportasi.”

“Dia bisa?”

“Belum pernah membuktikan.”

Bima menghela napas.

“Naya, kamu ini terlalu santai untuk orang yang tidak punya payung dan tidak punya kepastian jemputan.”

“Itu karena aku punya kepercayaan pada takdir.”

Raka menggeser payung hitamnya ke arah Naya.

“Pakai dulu.”

Naya melihat payung itu.

“Hah? Kamu?”

“Aku bisa tunggu.”

“Jangan. Nanti kamu gimana?”

“Masjid dekat. Aku bisa ke sana dulu.”

Bima langsung menoleh.

“Lihat. Azan belum juga dia sudah punya rute masjid.”

“Bukan karena azan,” kata Raka.

“Tapi arahnya?”

“Dekat.”

Naya mengambil payung itu setengah ragu.

“Serius?”

Raka mengangguk.

“Pakai sampai gerbang samping. Nanti balikin besok.”

Naya memutar payung di tangannya.

“Kalau aku lupa?”

“Jangan.”

“Kalau aku hilangkan?”

“Jangan juga.”

“Kalau payung ini punya nilai sentimental?”

“Tidak.”

“Berarti aman.”

Raka menatapnya.

“Bukan berarti boleh hilang.”

Naya tertawa.

“Siap. Akan kujaga seperti palu Bima.”

Bima langsung mengangkat palu kardusnya.

“Jangan samakan payung dengan simbol keadilan.”

“Payung lebih berguna,” kata Alya.

Bima tersinggung lagi.

Salsa memperhatikan payung di tangan Naya.

Lalu menatap Raka.

“Rak, kamu yakin nggak apa-apa?”

“Ya.”

Naya membuka payung itu di dalam kelas sedikit.

Alya langsung berkata, “Jangan buka payung di dalam ruangan.”

Naya menutupnya lagi.

“Maaf, refleks rakyat hujan.”

Hujan mulai sedikit mengecil setelah hampir dua puluh menit.

Mereka akhirnya bersiap pulang.

Alya dan Salsa berjalan ke gerbang depan dengan payung masing-masing.

Bima memakai jas hujan plastiknya, yang ternyata terlalu kecil untuk tubuhnya dan membuatnya tampak seperti makanan dibungkus.

Naya memegang payung Raka.

Raka berjalan tanpa payung, membawa tasnya, menuju arah masjid sekolah yang berada di sisi koridor tertutup.

Mereka berpisah di persimpangan koridor.

“Rak,” panggil Naya.

Raka menoleh.

“Makasih payungnya.”

“Ya.”

“Besok kubalikin.”

“Ya.”

“Kalau lupa, tagih.”

“Ya.”

Naya menyipit.

“Kosakatamu sedang hujan juga?”

“Biar cepat.”

Naya tertawa.

Lalu berlari kecil ke arah gerbang samping sambil membuka payung.

Raka melihat sebentar.

Tidak lama.

Hanya memastikan payung itu terbuka sempurna dan Naya tidak menerobos bagian halaman yang tergenang.

Setelah itu, ia berbalik menuju masjid.

Salsa yang berjalan ke gerbang depan sempat melihat gerakan itu.

Sekilas saja.

Tapi cukup.

Di bawah payung kecilnya, Salsa tersenyum pelan.

Bukan senyum yang sepenuhnya mengerti.

Lebih seperti senyum orang yang baru melihat potongan kecil dari gambar yang lebih besar.

Di sisi lain, Bima juga melihat.

Namun interpretasinya berbeda.

Sangat berbeda.

Ia berjalan mendekati Alya sambil memegang jas hujan yang berkibar.

“Alya.”

“Apa?”

“Aku punya teori baru.”

“Jangan.”

“Raka meminjamkan payung ke Naya.”

“Itu karena Naya tidak bawa payung.”

“Tapi dia tadi juga perhatian ke Salsa.”

“Karena Salsa dapat surat anonim.”

“Dan sering bantu kamu.”

“Karena aku ketua kelas.”

Bima berhenti.

Hujan menetes dari ujung jas hujannya.

“Berarti...”

“Berarti apa?”

Bima menatap jauh, seolah melihat masa depan.

“Raka mungkin baik ke semua orang.”

Alya menghela napas lega.

Akhirnya.

Akhirnya Bima mendapat kesimpulan yang masuk akal.

Namun kelegaan itu hanya bertahan dua detik.

Karena Bima melanjutkan,

“Atau dia diam-diam punya harem administratif.”

Alya menatapnya.

“Bima.”

“Aku cuma menyampaikan kemungkinan.”

“Jangan pernah ucapkan itu lagi.”

“Baik.”

Di gerbang samping, Naya berdiri di bawah payung hitam sambil menunggu sepupunya.

Hujan turun rapi di sekelilingnya.

Payung Raka cukup besar.

Lebih besar daripada yang ia kira.

Ia melihat gagangnya sebentar.

Ada stiker kecil di bagian bawah.

Tulisan nama.

Raka A.

Naya tersenyum.

“Serius banget sampai payung dikasih nama.”

Lalu ia teringat bahwa ini Raka.

Tentu saja payungnya dikasih nama.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari grup Mahkamah Receh.

Bima: Aku resmi selamat dari hujan.

Naya: Jas hujanmu selamat juga?

Bima: Jangan menghina zirah hujan.

Alya: Sampai rumah kabari.

Salsa: Aku sudah di angkot.

Raka: Aku di masjid. Nanti pulang kalau reda.

Naya membaca pesan terakhir.

Lalu mengetik.

Naya: Payungmu aman. Belum kuculik.

Raka: Jangan.

Naya: Payungnya punya nama. Aku takut.

Bima: PAYUNG PUNYA NAMA?

Alya: Jangan caps lock.

Salsa: Itu lucu.

Raka: Biar tidak tertukar.

Naya: Dengan payung siapa? Payung hitam satu sekolah?

Raka: Iya.

Naya tertawa sendiri di bawah payung.

Hujan masih turun.

Sepupunya belum datang.

Tapi entah kenapa, menunggu kali ini tidak terlalu menyebalkan.

Mungkin karena grup masih ramai.

Mungkin karena Bima sedang membela kehormatan jas hujannya.

Mungkin karena Salsa mengirim foto angkot yang kacanya buram kena hujan.

Mungkin karena Alya tetap menyuruh semua orang memberi kabar sampai rumah.

Atau mungkin karena payung hitam di atas kepalanya terasa seperti bukti kecil bahwa di tengah kekacauan proyek festival, ada orang yang selalu membawa cadangan untuk kemungkinan buruk.

Dan kebetulan, hari itu kemungkinan buruknya adalah Naya yang terlalu optimis pada cuaca.

Keesokan paginya, Naya benar-benar mengembalikan payung itu.

Setidaknya itu niatnya.

Masalahnya, sebelum ia sempat menyerahkan payung ke Raka, Bima sudah melihatnya.

Bima menunjuk payung hitam di tangan Naya.

Lalu menunjuk Raka.

Lalu menunjuk Naya lagi.

Matanya membesar.

“Aku tahu.”

Alya yang baru masuk kelas langsung berkata, “Tidak.”

Bima mengabaikan.

“Aku akhirnya tahu.”

Naya mengerutkan kening.

“Tahu apa?”

Bima menatap payung itu seperti barang bukti paling penting dalam hidupnya.

“Ini bukan sekadar payung.”

Raka menatapnya datar.

“Memang payung.”

“Bukan,” kata Bima. “Ini simbol.”

Alya menutup mata.

Salsa menahan senyum.

Naya mengangkat payung itu.

“Simbol apa?”

Bima menepuk buku penyelidikannya ke meja.

“Simbol bahwa Raka sebenarnya suka—”

Bel masuk berbunyi keras.

Kalimat Bima tenggelam.

Semua siswa mulai bergerak ke tempat duduk.

Guru pertama masuk ke kelas.

Bima berdiri dengan mulut masih terbuka, kehilangan momentum paling penting dalam karier detektifnya.

Naya tertawa.

Raka mengambil payung dari tangan Naya.

“Makasih.”

“Sama-sama.”

Bima duduk perlahan.

Matanya masih menyala.

Alya berbisik tanpa menoleh,

“Jangan lanjutkan.”

Bima membalas pelan,

“Ini belum selesai.”

Dan benar saja.

Bagi Bima, kasus payung baru saja dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar