Sabtu, 20 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 11 / 20

 


Chapter 11

Rumah Naya Tidak Seribut Pemiliknya

Naya tidak masuk sekolah keesokan harinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kelas XI IPA 2 terbentuk, pagi di kelas itu terasa aneh.

Bukan sepi.

Kelas tetap ramai.

Bima tetap datang dengan suara yang bisa dikenali dari koridor.

Dito tetap mengeluh karena PR matematika.

Beberapa anak tetap menyalin tugas lima menit sebelum bel.

Alya tetap berdiri di depan kelas sambil mengatur sesuatu.

Salsa tetap menyapa orang-orang yang datang.

Raka tetap duduk di kursinya dekat jendela.

Semuanya tampak berjalan seperti biasa.

Tapi ada sesuatu yang hilang.

Lebih tepatnya, ada suara yang hilang.

Tidak ada yang masuk kelas sambil berkata, “Selamat pagi, rakyat pengadilan.”

Tidak ada yang langsung meledek Bima karena rambutnya berantakan.

Tidak ada yang membuat komentar terhadap bekal seseorang.

Tidak ada yang tiba-tiba mengubah kalimat guru menjadi bahan bercanda.

Bima duduk di kursinya dengan wajah muram.

Alya meliriknya.

“Kenapa kamu?”

Bima menatap depan.

“Kelas ini kehilangan keseimbangan ekosistem.”

Alya menghela napas.

“Naya cuma tidak masuk sehari.”

“Justru itu. Bayangkan kalau lebih.”

“Jangan dramatis.”

“Aku tidak dramatis. Aku sedang ekologis.”

Salsa yang duduk di dekat mereka tersenyum kecil.

“Memang agak beda, sih.”

Alya tidak membantah.

Karena memang benar.

Kelas tanpa Naya tidak langsung menjadi sunyi, tapi seperti ada bagian yang biasanya bergerak cepat tiba-tiba berhenti.

Raka tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya melihat kursi Naya yang kosong.

Di atas meja Naya, masih ada satu kertas kecil bertuliskan daftar kasus yang kemarin tertinggal.

Tulisan Naya besar, miring, dan terlalu percaya diri.

KASUS: ORANG YANG BILANG ‘TERSERAH’ TAPI MARAH KALAU DIPILIHIN

Di bawahnya ada catatan:

Hukuman: harus memilih menu kantin untuk tiga orang.

Raka membaca tulisan itu sekilas.

Lalu menunduk ke bukunya.

Bima memperhatikan.

Tentu saja.

Ia selalu memperhatikan hal yang salah dengan rasa percaya diri tinggi.

“Rak.”

“Hm?”

“Kamu lihat meja Naya.”

Raka tidak mengangkat wajah.

“Di sana ada kertas.”

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Kamu baru saja bilang.”

“Itu pengamatan.”

“Pengamatanmu berisik.”

Bima memegang dada.

“Sakit. Tapi puitis.”

Alya menatap Bima.

“Jangan mulai pagi-pagi.”

“Aku belum mulai.”

“Kamu selalu sudah mulai.”

Bel masuk menyelamatkan kelas dari penyelidikan Bima berikutnya.

Namun pelajaran hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Setiap kali ada bagian yang biasanya akan dikomentari Naya, tidak ada suara yang muncul.

Saat guru biologi berkata, “Sel harus bekerja sama agar organisme bertahan hidup,” Bima spontan menoleh ke kursi Naya, seperti menunggu seseorang berkata, “Berarti Bima ini sel yang suka kabur dari tugas.”

Tapi kursi itu kosong.

Bima menunduk.

Lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Aku bisa menghina diri sendiri, tapi rasanya beda.”

Salsa mendengarnya dan tertawa pelan.

Saat istirahat, grup Mahkamah Receh akhirnya berbunyi.

Naya: Laporan dari markas sakit: saya masih hidup.

Bima langsung mengetik cepat.

Bima: ALHAMDULILLAH TERDAKWA KESEHATAN MEMBERI KABAR.

Alya: Jangan caps lock.

Salsa: Gimana keadaanmu, Nay?

Naya: Demamnya turun. Batuknya masih cari perhatian.

Bima: Aku bisa sidang batukmu.

Naya: Batukku menolak hadir tanpa pengacara.

Alya: Istirahat. Jangan banyak main HP.

Naya: Siap, Bu Ketua.

Raka membaca chat itu tanpa membalas.

Lalu beberapa detik kemudian, ia mengetik.

Raka: Sudah makan?

Grup hening.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Lalu Bima muncul.

Bima: WAH.

Alya: Bima.

Salsa: Sudah makan, Nay?

Naya: Baru mau. Ibuku bikin bubur.

Bima: Bubur diaduk atau tidak?

Alya: Jangan mulai perang sipil.

Naya: Diaduk. Karena aku sedang sakit dan tidak punya tenaga untuk mempertahankan ideologi.

Raka: Makan dulu.

Naya: Siap, Pak Inventaris Gizi.

Bima langsung mengirim stiker palu.

Alya tidak menanggapi.

Salsa tersenyum melihat layar ponselnya.

Raka menaruh ponsel di meja, lalu membuka bekalnya.

Bima menatapnya tajam.

“Aku melihat itu.”

Raka mengambil sendok.

“Apa?”

“Kamu tanya Naya sudah makan.”

“Dia sakit.”

“Aku juga kadang sakit.”

“Sekarang?”

“Tidak.”

“Berarti makan.”

Bima terdiam.

Salsa menutup mulut menahan tawa.

Alya, meski berusaha tetap serius, terlihat hampir tersenyum.

Bima menunjuk Raka.

“Kamu makin susah dilawan.”

“Karena kamu sering mulai dari posisi salah.”

“Itu juga susah dilawan.”

Persiapan festival tetap berjalan meski Naya tidak ada.

Atau lebih tepatnya, berusaha berjalan.

Alya membagi tugas properti.

Salsa menyelesaikan kartu kasus.

Raka mengecek alur antrean.

Bima mencoba menggantikan energi Naya.

Hasilnya tidak sama.

“Nah, teman-teman!” Bima berdiri di depan kelas sambil memegang Palkim. “Hari ini kita akan—”

“Turun,” kata Alya.

“Aku bahkan belum selesai.”

“Kamu terlalu semangat untuk orang yang tidak punya rencana.”

“Aku punya rencana.”

“Apa?”

Bima diam.

Lalu berkata, “Membangun suasana.”

“Suasananya takut.”

Dito dari belakang mengangkat tangan.

“Gue setuju sama Alya.”

Bima menunjuknya.

“Kamu akan jadi terdakwa pertama lagi.”

Dito langsung menunduk.

Raka memperbaiki tali rafia di sisi meja sambil berkata pelan, “Kalau Naya tidak ada, opening jangan dilatih dulu.”

Alya mengangguk.

“Iya. Kita fokus properti.”

Bima menatap mereka berdua.

“Jadi kalian mengakui Naya tidak tergantikan?”

Salsa tersenyum.

“Untuk bagian ribut, iya.”

Bima terlihat tersinggung.

“Aku juga bisa ribut.”

“Beda jenis,” kata Raka.

“Bedanya?”

“Naya mengarahkan. Kamu menyebar.”

Kelas tertawa.

Bima memegang dadanya lagi.

“Kalimat pendekmu semakin mematikan.”

Alya mencatat sesuatu di buku.

“Raka benar.”

“Bu Ketua juga ikut?”

“Fakta.”

Bima duduk kembali dengan wajah hancur, tapi lima menit kemudian ia sudah kembali bercanda dengan Dito soal hukuman untuk kasus pulpen.

Ketidakhadiran Naya membuat beberapa hal terasa lebih lambat.

Namun anehnya, itu juga membuat mereka menyadari seberapa besar peran Naya selama ini.

Naya bukan hanya orang yang bicara paling banyak.

Ia yang membuat orang mau mendengarkan.

Ia yang membuat ide bodoh terdengar bisa dicoba.

Ia yang membuat kelas lain tertarik tanpa merasa dipaksa.

Ia yang membuat Bima terlihat seperti bagian dari sistem, bukan bencana liar.

Dan ia yang membuat Raka, entah bagaimana, lebih sering mengangkat wajah.

Hal terakhir tidak dikatakan siapa pun.

Mungkin belum ada yang benar-benar menyadarinya.

Atau mungkin ada, tapi memilih diam.

Saat pulang sekolah, tim inti berkumpul di meja depan.

Alya menutup buku catatannya.

“Latihan opening kita tunda sampai Naya masuk.”

Bima mengangguk serius.

“Setuju. Tanpa Naya, aku hanya terdakwa tanpa lawan sepadan.”

“Kamu bisa menganggap itu sebagai istirahat,” kata Salsa.

“Aku menganggap itu sebagai kekosongan hukum.”

Alya mengabaikan Bima.

“Besok kita fokus dekorasi. Kalau Naya masih belum masuk, kita kirim rangkuman ke dia.”

Raka yang sejak tadi diam berkata, “Kita jenguk?”

Alya menoleh.

Salsa juga.

Bima langsung berdiri.

“ITU DIA.”

Alya mengerutkan kening.

“Kenapa kamu berteriak?”

“Karena akhirnya ada ide yang sangat manusiawi.”

Raka menatap Bima.

“Tidak perlu teriak.”

“Teriak adalah bentuk dukungan.”

Alya berpikir sebentar.

“Jenguk Naya?”

“Rumahnya dekat gerbang samping,” kata Raka.

Tiga pasang mata langsung menoleh kepadanya.

Raka berhenti.

“Apa?”

Bima perlahan menunjuk.

“Kamu tahu rumah Naya?”

“Dia kemarin bilang dijemput di warung dekat gerbang samping.”

“Bukan rumah.”

“Dekat situ.”

Bima menyipit.

“Memori selektif.”

Raka menatapnya datar.

“Itu informasi rute.”

“Cinta juga sering dimulai dari informasi rute.”

“Bima,” kata Alya dan Salsa bersamaan.

Bima mengangkat tangan.

“Baik. Aku diam.”

Alya membuka ponsel.

“Kita tanya dulu boleh jenguk atau tidak. Jangan tiba-tiba datang.”

Salsa mengangguk.

“Benar.”

Alya mengetik di grup.

Alya: Nay, sore ini boleh dijenguk? Kalau kamu istirahat, nggak apa-apa. Kita bisa lain kali.

Balasan Naya muncul hampir satu menit kemudian.

Naya: JENGUK? Aku sakit ringan, bukan tokoh utama sinetron.

Bima: Kami datang sebagai warga peduli.

Naya: Kamu warga ribut.

Salsa: Kalau kamu capek, kami nggak usah datang kok.

Naya: Boleh aja. Tapi jangan berharap suasana haru. Aku sudah lebih sehat.

Raka: Jangan terlalu banyak ngomong.

Naya: Kamu bahkan mengatur pasien dari jarak jauh.

Raka: Bisa.

Naya: Menyebalkan.

Bima: Jadi kita datang?

Naya: Datang aja. Ibuku malah senang kalau ada yang bantu habisin buah.

Bima langsung menatap mereka dengan mata berbinar.

“Ada buah.”

Alya menunjuknya.

“Kita datang untuk menjenguk, bukan merampok vitamin.”

“Bisa dua-duanya.”

“Tidak.”

Setengah jam kemudian, mereka berjalan menuju rumah Naya.

Alya membawa buku catatan dan beberapa kertas rangkuman festival.

Salsa membawa roti sobek dari minimarket dekat sekolah.

Bima membawa jeruk yang ia beli dengan uang sendiri setelah perdebatan panjang soal apakah satu buah cukup disebut oleh-oleh.

Raka membawa kantong plastik kecil berisi obat batuk herbal yang ia beli di apotek dekat sekolah.

Alya melihat kantong itu.

“Kamu beli obat?”

“Bukan obat keras. Permen herbal.”

“Untuk Naya?”

“Untuk tenggorokan.”

Bima muncul dari samping.

“Tenggorokan Naya?”

“Menurutmu untuk palu?”

Bima terdiam.

“Palkim juga bekerja keras.”

Alya memutuskan tidak menanggapi.

Rumah Naya berada di gang kecil tidak jauh dari sekolah.

Tidak terlalu besar, tapi rapi.

Halaman depannya dipenuhi beberapa pot tanaman.

Ada sandal rumah berjajar di dekat pintu.

Dan yang paling mengejutkan, rumah itu terasa tenang.

Sangat tenang.

Bima berdiri di depan pagar sambil melihat sekeliling.

“Ini benar rumah Naya?”

Salsa tersenyum.

“Kenapa?”

“Tidak ada suara dari radius lima meter.”

Alya menekan bel.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Seorang perempuan paruh baya muncul dengan wajah ramah.

Ibunya Naya.

“Teman-temannya Naya, ya?”

Alya langsung membungkuk sopan.

“Iya, Tante. Maaf mengganggu.”

“Masuk, masuk. Naya dari tadi sudah nunggu.”

Bima berbisik, “Katanya bukan tokoh utama sinetron.”

Raka menatapnya.

Bima langsung diam.

Mereka masuk ke ruang tamu.

Rumah Naya tidak seperti Naya di sekolah.

Tidak berisik.

Tidak heboh.

Tidak penuh komentar.

Ada rak buku kecil di sudut ruangan.

Beberapa foto keluarga di dinding.

Meja tamu dengan taplak bermotif bunga.

Televisi menyala pelan.

Dan di sofa panjang, Naya duduk dengan jaket, selimut tipis di pangkuan, dan wajah yang terlihat jauh lebih hidup daripada kemarin.

Begitu melihat mereka masuk, Naya mengangkat tangan.

“Selamat datang di markas pasien yang dipaksa istirahat.”

Bima langsung menunjuknya.

“Kamu terlihat sehat.”

“Aku memang sehat.”

Ibunya Naya dari belakang langsung berkata, “Pagi tadi masih batuk terus.”

Naya menoleh cepat.

“Ibu.”

“Katanya sehat.”

Bima menatap Naya dengan wajah puas.

“Terdakwa berbohong.”

“Aku mencabut izin kunjunganmu.”

“Terlambat. Aku sudah masuk.”

Salsa tertawa sambil menyerahkan roti sobek.

“Ini buat kamu.”

“Wah, makasih, Sal.”

Bima menyerahkan jeruk dengan dua tangan.

“Ini persembahan vitamin.”

Naya menerima jeruk itu.

“Satu?”

“Itu jeruk pilihan.”

“Dipilih karena apa?”

“Karena uangku cukup untuk itu.”

“Jujur sekali.”

Raka meletakkan kantong kecil di meja.

“Ini permen herbal. Kalau tenggorokan masih sakit.”

Naya melihat kantong itu.

Lalu melihat Raka.

“Serius?”

“Ya.”

“Ini bukan minimarket berjalan lagi. Kamu naik level jadi apotek keliling.”

“Tidak menjual juga.”

Naya mengambil kantong itu.

“Makasih.”

Ibunya Naya tersenyum melihat mereka.

“Duduk dulu. Tante ambil minum.”

Alya langsung berkata, “Tidak usah repot, Tante.”

“Tidak repot. Kalian sudah jauh-jauh.”

Begitu ibunya pergi ke dapur, Bima langsung menatap Naya dengan serius.

“Naya.”

“Apa?”

“Kami sudah sepakat tidak akan membuat suasana haru.”

“Bagus.”

“Jadi aku akan mulai dengan pertanyaan penting.”

“Silakan.”

“Di rumah kamu memang selalu setenang ini?”

Naya melempar bantal kecil ke arah Bima.

Bima menangkapnya.

“Nah. Ini baru rumah Naya.”

Mereka tertawa.

Tidak lama kemudian, ruang tamu yang tadinya tenang mulai berubah.

Bima menceritakan bahwa kelas terasa “kehilangan ekosistem”.

Alya memberikan rangkuman pekerjaan festival, meski Naya berkali-kali mengingatkan bahwa ia sedang sakit dan bukan sedang menerima laporan negara.

Salsa menunjukkan desain kartu kasus terbaru.

Raka duduk di sisi kursi tunggal, tidak banyak bicara, tapi sesekali menjawab jika ditanya.

Naya lebih banyak duduk bersandar.

Untuk standar Naya, ia cukup tenang.

Untuk standar orang sakit, ia masih terlalu banyak bicara.

Alya akhirnya menutup buku catatan.

“Sudah. Bahas festival cukup.”

Naya mengerutkan kening.

“Loh, baru sebentar.”

“Sudah dua puluh menit.”

“Serius?”

Raka mengangguk.

“Kamu mulai batuk lagi.”

Naya otomatis menyentuh tenggorokannya.

“Aku belum batuk.”

“Baru mau.”

Bima menyipit.

“Rak, kamu sekarang bisa memprediksi batuk?”

“Dia suaranya berubah.”

Naya menatap Raka.

“Kenapa kamu peka banget sama suara orang?”

Raka diam sebentar.

“Karena kamu biasanya keras.”

“Jawabanmu menyakiti tapi akurat.”

Salsa tertawa.

Alya mengambil gelas minum.

“Tapi benar. Jangan banyak bicara dulu.”

Naya menyandarkan kepala ke sofa.

“Aku merasa dikhianati oleh demokrasi.”

“Ini bukan demokrasi,” kata Bima. “Ini rapat kesehatan.”

“Lebih buruk.”

Ibunya Naya datang membawa minuman dan sepiring buah potong.

Begitu melihat buah, Bima langsung duduk lebih tegak.

Alya menatapnya.

“Jangan memalukan.”

“Aku belum melakukan apa-apa.”

“Wajahmu sudah.”

Ibunya Naya tertawa.

“Nggak apa-apa, makan aja. Naya dari tadi susah makan buah.”

Bima langsung mengambil garpu.

“Dengan senang hati, Tante.”

Naya menunjuknya.

“Lihat. Dia datang untuk vitamin.”

“Aku membantu mengurangi beban pasien.”

“Beban buah.”

“Beban tetap beban.”

Suasana rumah Naya perlahan menjadi ramai.

Tapi tidak seperti keramaian di kelas.

Di rumah itu, suara mereka terasa lebih kecil.

Lebih hangat.

Bima masih Bima, tapi sedikit lebih tahu diri karena ada ibunya Naya.

Alya masih mengatur, tapi tidak setegang di sekolah.

Salsa lebih santai, sesekali ikut meledek Bima.

Raka tetap tidak banyak bicara, tapi ia tidak terlihat ingin cepat pergi.

Naya memperhatikan mereka satu per satu.

Aneh.

Biasanya rumah adalah tempat ia pulang dari keramaian.

Hari itu, keramaian datang ke rumahnya.

Dan ternyata tidak seburuk yang ia kira.

Setelah beberapa lama, Bima menemukan album foto kecil di rak.

“Ini boleh lihat?”

Naya langsung menoleh cepat.

“Jangan.”

Terlambat.

Bima sudah membuka halaman pertama.

Wajahnya langsung berubah cerah.

“ADA FOTO NAYA KECIL.”

Naya bangkit dari sofa.

“Bima, tutup.”

Bima mundur sambil membawa album.

“Tidak. Ini dokumen sejarah.”

Alya langsung berdiri.

“Bima, kembalikan.”

Salsa menutup mulut menahan tawa.

Raka melihat Naya yang berdiri terlalu cepat.

“Naya.”

“Aku harus menyelamatkan martabatku.”

“Kamu sakit.”

“Martabat lebih genting.”

Bima membuka halaman lain.

“Ya Allah, Naya pakai kostum lebah.”

Naya membeku.

Alya juga berusaha menahan tawa.

Salsa gagal.

Raka menunduk sedikit.

Naya menunjuk Raka.

“Kamu ketawa?”

“Tidak.”

“Kamu menunduk.”

“Melihat lantai.”

“Lantainya lucu?”

“Sedikit.”

Naya mengambil bantal dan melemparnya ke arah Raka.

Raka menangkap bantal itu dengan refleks.

Bima langsung berteriak, “Wah, refleks atlet!”

“Bima, album!” Naya kembali mengejar.

Ibunya Naya muncul dari dapur, tertawa.

“Biarkan saja, Nay. Lucu itu.”

“Ibu!”

“Dulu kamu sendiri yang minta difoto.”

“Aku masih kecil. Keputusanku belum sah secara hukum.”

Bima mengangkat palu kardus kecil imajiner.

“Keberatan ditolak.”

Naya akhirnya merebut album itu dari tangan Bima setelah perjuangan singkat yang membuatnya batuk lagi.

Raka langsung berdiri.

“Naya.”

“Aku tahu. Duduk.”

Ia duduk kembali dengan wajah kesal.

Raka mengambil gelas air dan menyodorkannya.

Naya menerimanya tanpa membantah.

“Makasih.”

Bima memperhatikan.

Matanya mulai menyipit lagi.

Alya melihat Bima menyipit.

“Jangan.”

“Aku cuma punya mata.”

“Matamu punya niat buruk.”

Bima membuka mulut.

Lalu menutup lagi.

Karena ibunya Naya masih ada di ruangan, dan bahkan Bima punya sisa rasa malu.

Sedikit.

Setelah kejadian album foto, Naya menyimpan album itu di sampingnya seperti menjaga harta negara.

“Tidak ada lagi yang boleh menyentuh ini.”

Bima mengangkat tangan.

“Boleh satu pertanyaan?”

“Tidak.”

“Kenapa lebah?”

“Tidak.”

“Apakah dari kecil kamu sudah menyengat?”

“Bima.”

“Baik.”

Alya melihat jam.

“Kita pulang sebentar lagi. Kamu harus istirahat.”

Naya mengeluh.

“Baru juga datang.”

“Sudah hampir satu jam.”

“Serius?”

Salsa mengangguk.

“Iya.”

Naya tampak kecewa.

Tapi tubuhnya memang mulai terlihat lelah lagi.

Suaranya kembali lebih serak.

Matanya tidak secerah ketika mereka pertama datang.

Raka sudah menyadari itu sejak beberapa menit lalu.

Ia berdiri lebih dulu.

“Kita pulang.”

Bima menatapnya.

“Kenapa kamu yang memutuskan?”

“Karena kalau nunggu kamu, album foto jilid dua keluar.”

Naya menunjuk Raka.

“Nah. Kali ini dia benar.”

“Pengkhianatan,” gumam Bima.

Mereka berpamitan pada ibu Naya.

Ibunya membawakan beberapa buah untuk mereka bawa pulang, meski Alya berkali-kali menolak dengan sopan.

Bima menerima dengan sopan yang terlalu cepat.

Salsa membantu merapikan gelas.

Alya memastikan kertas festival tidak tertinggal.

Raka berdiri di dekat pintu, menunggu yang lain siap.

Naya mengantar mereka sampai depan pintu.

Alya langsung berkata, “Kamu tidak perlu keluar.”

“Aku cuma sampai sini.”

“Jangan kena angin.”

“Aku di dalam rumah.”

“Pintu terbuka.”

Naya menatap Alya.

“Kamu dan Raka kalau digabung bisa jadi aplikasi pengingat kesehatan.”

Bima menunjuk dirinya.

“Aku?”

“Kamu notifikasi yang tidak bisa dimatikan.”

“Peran penting.”

Salsa tertawa.

Saat yang lain mulai memakai sepatu, Naya berdiri di dekat pintu sambil memegang kusen.

Raka adalah yang terakhir mengambil sepatunya.

Naya menatap kantong permen herbal yang tadi sudah ia taruh di meja.

“Rak.”

“Hm?”

“Makasih, ya.”

“Untuk?”

“Permen. Roti kemarin. Sama… tadi.”

Raka memakai sepatunya, lalu berdiri.

“Tadi apa?”

“Ngajak mereka jenguk.”

Raka diam sebentar.

“Agar kamu cepat sembuh.”

Naya tersenyum miring.

“Karena peranku penting di festival?”

Raka menatapnya.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Entah kenapa, jawaban itu terdengar terlalu datar.

Seharusnya Naya tertawa.

Seharusnya ia meledek.

Seharusnya ia berkata, “Wah, aku cuma aset festival ternyata.”

Tapi Raka melihatnya sebentar lebih lama, lalu menambahkan,

“Dan kelas lebih sepi.”

Naya berhenti.

Di luar pagar, Bima sedang mencoba memasukkan jeruk pemberian ibu Naya ke tas Alya karena tasnya sendiri penuh.

Alya menolak.

Salsa tertawa.

Suara mereka terdengar dari halaman.

Namun di dekat pintu, Naya dan Raka diam sebentar.

Naya akhirnya berkata pelan, “Sepi itu kadang damai, katanya.”

Raka mengingat kalimatnya sendiri saat rapat pertama.

Sudut bibirnya naik sedikit.

“Tidak selalu.”

Naya tersenyum.

Kali ini tidak meledek.

Tidak keras.

Hanya senyum kecil yang entah kenapa membuat Raka cepat-cepat menunduk untuk merapikan tali sepatunya, padahal talinya tidak lepas.

Dari halaman, Bima berteriak, “Rak! Cepat! Aku dituduh mau menyelundupkan jeruk!”

Alya menyahut, “Karena memang iya!”

Salsa tertawa lagi.

Naya menutup mulut, menahan tawa agar tidak batuk.

Raka melihatnya.

“Jangan ketawa.”

“Sulit. Temanmu kriminal buah.”

“Teman kita.”

Naya mengangkat alis.

“Oh. Sudah ‘kita’?”

Raka diam.

Naya tersenyum lebih lebar.

Namun sebelum ia sempat menggoda lebih jauh, Bima muncul lagi di depan pintu.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Jeruk,” jawab Raka cepat.

Naya hampir tertawa lagi.

Bima menatap mereka curiga.

“Kenapa jawabannya terlalu cepat?”

“Karena kamu bertanya,” kata Raka.

Bima menyipit.

“Aku catat.”

“Buku catatanmu di tas,” kata Naya.

Bima langsung melihat tasnya.

Benar.

Alya dari halaman berteriak, “Bima, pulang!”

“Baik!”

Akhirnya mereka benar-benar pulang.

Naya berdiri di depan pintu sampai mereka keluar pagar.

Alya melambaikan tangan sambil memberi instruksi agar Naya minum obat.

Salsa tersenyum dan berkata akan mengirim desain terbaru nanti tapi tidak perlu dibalas.

Bima mengangkat jeruk seperti piala.

Raka hanya mengangguk kecil.

Naya melambai.

Setelah pagar tertutup, ia masuk kembali ke ruang tamu.

Rumah mendadak terasa tenang lagi.

Terlalu tenang.

Naya duduk di sofa dan melihat meja yang tadi dipenuhi gelas, buah, kertas festival, dan suara teman-temannya.

Ibunya keluar dari dapur.

“Teman-temanmu ramai, ya.”

Naya bersandar.

“Iya.”

“Baik-baik.”

Naya menatap pintu.

Lalu tersenyum kecil.

“Iya.”

Ibunya duduk di sebelahnya.

“Yang pendiam itu Raka?”

Naya menoleh.

“Ibu tahu namanya?”

“Tadi kamu manggil.”

“Oh.”

“Dia perhatian.”

Naya langsung mengambil gelas.

“Dia memang gitu ke semua orang.”

Ibunya tersenyum.

“Ibu cuma bilang perhatian.”

Naya minum terlalu cepat, lalu hampir batuk.

Ibunya tertawa pelan.

“Pelan-pelan.”

Naya menunduk.

Di meja, kantong permen herbal dari Raka masih tergeletak.

Ia mengambil satu.

Membuka bungkusnya.

Rasanya agak aneh.

Tidak terlalu manis.

Sedikit pedas.

Tapi tenggorokannya terasa lebih lega.

Ia membuka grup Mahkamah Receh.

Pesan baru sudah masuk.

Bima: Kunjungan pasien sukses. Buah berhasil diamankan.

Alya: Jangan habiskan sendiri.

Salsa: Nay, istirahat ya. Desainnya nanti aku kirim, tapi nggak perlu dicek malam ini.

Raka: Jangan banyak balas chat.

Naya menatap pesan terakhir.

Lalu mengetik.

Naya: Kamu ini satpam tenggorokan?

Raka: Kalau perlu.

Bima: JABATAN BARU LAGI.

Alya: Bima, buahnya jangan habis.

Bima: Terlambat untuk satu potong.

Salsa: Baru satu potong?

Bima: Dua.

Naya tertawa kecil.

Kali ini tidak sampai batuk.

Ia menyandarkan kepala ke sofa, menatap layar ponsel, lalu tanpa sadar tersenyum.

Rumahnya kembali tenang.

Tapi entah kenapa, tenang kali ini tidak terasa kosong.

Keesokan harinya, Naya masih belum masuk.

Alya langsung mengirim pesan agar ia benar-benar istirahat.

Salsa mengirim foto kartu kasus yang sudah selesai.

Bima mengirim foto jeruk dengan caption: Doa untuk pasien.

Raka tidak mengirim banyak pesan.

Hanya satu.

Raka: Kalau masih demam, jangan masuk dulu.

Naya membaca pesan itu sambil memeluk bantal.

Lalu membalas:

Naya: Siap, Pak Satpam Tenggorokan.

Raka tidak membalas.

Tapi lima menit kemudian, ia mengirim foto papan tulis kelas.

Di sana tertulis jadwal kerja festival hari itu.

Di pojok kanan bawah, ada tulisan kecil dengan spidol berbeda:

Naya dilarang komentar sampai sembuh.

Naya langsung tertawa.

Lalu mengetik panjang.

Berhenti.

Menghapus.

Mengingat larangan.

Akhirnya ia hanya membalas:

Naya: Kejam.

Beberapa detik kemudian, balasan Raka masuk.

Raka: Istirahat.

Naya menatap pesan itu lama.

Lalu meletakkan ponsel di meja.

Untuk sekali ini, ia menurut.

Di sekolah, Raka menatap layar ponselnya sebentar, memastikan Naya tidak membalas lagi.

Lalu ia menyimpan ponsel.

Bima yang duduk di depannya langsung berbalik.

“Kamu senyum?”

Raka mengangkat wajah.

“Tidak.”

“Aku lihat.”

“Efek cahaya.”

“Kita di kelas. Lampunya mati.”

Raka diam.

Bima menunjuknya.

“Kasus ini belum selesai.”

Alya dari depan kelas langsung berkata, “Bima, kerja.”

“Baik, Bu Ketua.”

Raka kembali menunduk ke daftar teknis.

Di papan tulis, tulisan Naya dilarang komentar sampai sembuh masih terlihat di pojok.

Salsa melihat tulisan itu.

Lalu melihat Raka.

Lalu tersenyum kecil.

Mungkin Raka memang perhatian ke semua orang.

Mungkin.

Tapi ada beberapa perhatian yang bentuknya terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.

Dan untuk pertama kalinya, Salsa mulai benar-benar menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar