Minggu, 21 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 12 / 20

 


Chapter 12

Orang yang Selalu Diperhatikan

Naya kembali masuk sekolah dua hari kemudian.

Secara medis, ia sudah lebih baik.

Secara perilaku, tidak ada yang berubah.

“Selamat pagi, rakyat pengadilan yang hampir kehilangan saya!”

Suara Naya terdengar dari pintu kelas.

Tidak sekeras biasanya.

Masih sedikit serak.

Tapi cukup untuk membuat setengah kelas langsung menoleh.

Bima berdiri dari kursinya dengan ekspresi seperti menyambut pahlawan perang.

“Dia kembali!”

Dito ikut berseru dari belakang, “Akhirnya ada yang bisa mengimbangi Bima!”

Bima menoleh tersinggung.

“Aku tidak perlu diimbangi.”

“Justru perlu,” jawab beberapa orang bersamaan.

Naya membungkuk dramatis.

“Terima kasih atas sambutan yang tidak diminta. Saya terharu, tapi tenggorokan saya belum siap pidato.”

Alya langsung menunjuk kursi Naya.

“Duduk.”

“Baru datang sudah diperintah.”

“Duduk, minum, jangan banyak bicara.”

Naya menatap Alya.

Lalu menatap Salsa.

Salsa hanya tersenyum sambil mengangkat botol minum seolah mendukung perintah itu.

Naya menoleh ke Bima.

Bima juga mengangguk serius.

“Sebagai perwakilan hukum, aku mendukung pembatasan bicara terdakwa kesehatan.”

“Kamu senang karena akhirnya aku tidak bisa membalasmu maksimal?”

“Sedikit.”

Naya menunjuknya.

“Jahat.”

Lalu ia menoleh ke Raka.

Raka duduk di kursinya seperti biasa, buku terbuka di depan, pulpen di tangan.

Naya mengangkat alis.

“Kamu nggak ikut menyuruhku diam?”

Raka mengangkat wajah.

“Sudah diwakili.”

“Wah. Efisien.”

“Minum.”

Naya berhenti.

Satu kelas tertawa.

Bima menepuk meja.

“Dia ikut juga akhirnya!”

Naya menghela napas seperti orang yang dikhianati oleh seluruh sistem sosial.

“Baik. Aku minum. Puas?”

Raka tidak menjawab.

Ia hanya melihat botol minum di meja Naya.

Naya menyadari arah pandangnya, lalu mengangkat botol itu.

“Ini. Bukti kepatuhan.”

“Bagus.”

“Jangan ngomong kayak guru UKS.”

“Jangan bertingkah kayak pasien kabur.”

Kelas langsung ribut.

Bima berdiri.

“Catat! Raka menyerang balik!”

Alya menatap Bima.

“Duduk.”

Bima duduk.

Naya menatap Raka beberapa detik, lalu tertawa kecil.

Tawa yang ia tahan agar tidak berubah menjadi batuk.

“Baiklah. Aku kalah.”

Raka kembali menunduk ke bukunya.

Seolah percakapan itu selesai begitu saja.

Namun di sisi lain kelas, Salsa melihat semuanya.

Tidak lama.

Tidak mencolok.

Tapi cukup.

Ia melihat cara Raka tidak perlu banyak bicara untuk membuat Naya menurut.

Ia melihat cara Naya, yang biasanya sulit sekali diatur, akhirnya duduk dan minum hanya karena satu kata pendek.

Ia melihat bahwa perhatian Raka pada Naya tidak heboh.

Tidak manis secara terang-terangan.

Tidak seperti adegan romansa yang membuat orang langsung bersorak.

Justru karena itu, perhatian itu mudah lewat.

Terlalu mudah.

Sampai seseorang benar-benar memperhatikan.

Dan sekarang Salsa memperhatikan.

Alya juga.

Meski Alya lebih dulu pura-pura sibuk menulis jadwal latihan.

Hari itu, kelas terasa kembali normal.

Atau setidaknya versi normal milik XI IPA 2.

Naya tidak bicara sebanyak biasanya, tapi tetap cukup banyak untuk ukuran orang yang baru sembuh.

Bima beberapa kali mencoba memancingnya berdebat, lalu dimarahi Alya.

Salsa membagikan kartu kasus yang sudah selesai dipotong.

Raka mengecek jumlah properti.

Alya menyusun jadwal latihan terakhir sebelum festival.

Semua berjalan cukup lancar sampai jam istirahat, ketika Naya melihat tulisan di pojok papan tulis.

Naya dilarang komentar sampai sembuh.

Tulisan itu masih ada.

Sedikit memudar.

Tapi masih jelas.

Naya berdiri di depan papan tulis, membaca tulisan itu dengan ekspresi datar.

Lalu perlahan menoleh ke arah meja tim inti.

“Siapa.”

Bima langsung menunjuk Raka.

Raka mengangkat wajah.

Alya berkata, “Bima.”

“Apa? Itu fakta.”

Naya menatap Raka.

“Kamu?”

Raka tidak menyangkal.

“Iya.”

Naya berkacak pinggang.

“Berani sekali.”

“Efektif.”

“Menurut siapa?”

“Kamu cuma balas ‘kejam’ kemarin.”

Bima langsung berdiri.

“Wah, berarti ini berhasil?”

Naya menunjuk tulisan itu.

“Ini pembungkaman.”

“Ini perawatan,” kata Raka.

“Ini pelanggaran hak komentar.”

“Kamu sakit.”

“Aku sudah sembuh.”

“Belum total.”

“Siapa yang menentukan?”

Raka diam sebentar.

Lalu berkata, “Suaramu.”

Naya membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Alya menutup buku catatan untuk menyembunyikan senyum.

Salsa menunduk sambil pura-pura merapikan kartu kasus.

Bima tidak punya kemampuan menyembunyikan apa pun.

Ia langsung berbisik keras, “Ohoo.”

Naya menoleh ke Bima.

“Jangan ohoo-in orang yang baru sembuh.”

“Maaf. Refleks sosial.”

Raka berdiri, berjalan ke papan tulis, lalu menghapus tulisan itu.

Naya memperhatikannya.

“Kenapa dihapus?”

“Kamu sudah lihat.”

“Jadi tujuanmu cuma memastikan aku tahu?”

“Ya.”

Naya menyipit.

“Kamu menyebalkan dengan cara yang rapi.”

Raka menaruh penghapus.

“Makasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Tapi bisa dipakai.”

Naya tertawa lagi.

Kali ini sedikit lebih bebas.

Tidak batuk.

Raka melihat sebentar.

Lalu kembali ke mejanya.

Alya melihatnya.

Salsa juga.

Dan entah kenapa, Bima justru melihat ke arah Alya.

“Alya.”

“Apa?”

“Aku punya teori baru.”

“Tidak.”

“Tapi kali ini kuat.”

“Tidak.”

“Raka dan Naya—”

Alya langsung menutup mulut Bima dengan buku catatan.

“Tidak di kelas.”

Bima menggumam tidak jelas di balik buku.

Naya menoleh.

“Ada apa?”

“Tidak ada,” jawab Alya cepat.

Salsa hanya tersenyum kecil.

Raka tidak menoleh.

Atau pura-pura tidak menoleh.

Menjelang pulang sekolah, mereka mengadakan latihan opening terakhir.

Naya kembali menjadi MC, tapi kali ini Alya membatasi jumlah pengulangan.

“Dua kali saja,” kata Alya. “Naya belum boleh terlalu banyak bicara.”

Naya menunjuk dirinya sendiri.

“Aku merasa dikeroyok oleh sistem kesehatan.”

“Bagus,” kata Bima. “Sekarang kamu tahu rasanya jadi aku dikeroyok sistem hukum.”

“Kamu dikeroyok karena membawa palu.”

“Simbol keadilan.”

“Palu.”

“Palkim.”

“Palu.”

Bima menoleh ke Raka.

“Rak, bela aku.”

Raka memeriksa stopwatch.

“Palkim bisa dipakai. Tapi tetap palu kardus.”

Bima memegang dada.

“Bahkan pembelaanmu menyakitkan.”

Salsa berdiri di sisi panggung kecil dengan poster opening.

Alya duduk sebagai hakim.

Bima menjadi terdakwa.

Naya berdiri di tengah, mengangkat tangan seperti memegang mikrofon.

Raka berdiri di bawah panggung.

“Mulai.”

Naya menarik napas.

“Saudara-saudara sekalian! Hari ini kita berkumpul untuk menyaksikan perkara besar yang mengguncang akal sehat dunia pendidikan!”

Suaranya masih sedikit serak.

Tapi ritmenya kembali.

Bima masuk dengan ekspresi dramatis.

Alya mengetuk meja.

Salsa mengangkat poster di saat yang tepat.

Raka memberi tanda ketika durasi mendekati batas.

Latihan pertama selesai dalam tiga menit lima detik.

Latihan kedua selesai dalam dua menit lima puluh sembilan detik.

Naya mengangkat kedua tangan.

“Lihat! Aku kembali!”

Bima bersorak.

“Mahkamah kembali lengkap!”

Alya tampak lega.

Salsa bertepuk tangan kecil.

Raka menatap stopwatch.

“Pas.”

Naya menatapnya.

“Cuma pas?”

“Bagus.”

Naya memegang dada dramatis.

“Teman-teman, Raka memuji. Tolong catat tanggal.”

Bima langsung mengambil buku penyelidikan.

“Sudah.”

Raka menatap Bima.

“Jangan.”

“Terlambat.”

Alya turun dari kursi hakim.

“Karena latihan sudah cukup, kita lanjut finalisasi properti. Jangan ada yang pulang sebelum barang dibereskan.”

Bima mengangkat tangan.

“Pertanyaan.”

“Kalau bertanya soal hak terdakwa, tidak.”

Bima menurunkan tangan.

Mereka bekerja sampai sore.

Tidak terlalu lama.

Tapi cukup melelahkan.

Naya duduk di meja sambil menulis ulang beberapa kartu hukuman.

Alya mengecek daftar barang.

Salsa menempel label pada kotak kartu kasus.

Bima mencoba menghias Palkim dengan pita, lalu ditolak karena membuatnya terlihat seperti hadiah lomba.

Raka memperbaiki nomor antrean yang salah urut.

“Kenapa nomor lima ada dua?” tanya Raka.

Bima mengangkat tangan.

“Aku yang gunting.”

“Kenapa nomor tujuh tidak ada?”

“Mungkin berevolusi.”

“Bima.”

“Aku salah tulis.”

Raka mengambil spidol dan mengganti salah satu angka lima menjadi tujuh.

Naya yang duduk di sampingnya tersenyum kecil.

“Untung ada Pak Inventaris Kehidupan.”

“Ini bukan inventaris kehidupan. Ini angka.”

“Angka juga bagian dari hidup.”

Raka tidak membalas.

Namun saat Naya mengambil kartu hukuman lain, ia tanpa sadar menarik napas lebih berat.

Raka menoleh.

“Capek?”

Naya langsung duduk lebih tegak.

“Nggak.”

“Berhenti dulu.”

“Aku cuma—”

Raka mengambil kartu di tangan Naya.

Naya menatap tangannya yang kosong.

“Loh.”

“Aku lanjut.”

“Raka.”

“Minum.”

“Ini lagi?”

“Iya.”

Naya menatapnya beberapa detik.

Lalu mengambil botol minum.

“Baik. Aku menurut karena tenggorokanku masih dalam masa percobaan.”

“Bagus.”

Di seberang meja, Alya pura-pura mengecek daftar barang.

Salsa pura-pura menempel label.

Bima tidak pura-pura.

Ia langsung menatap mereka dengan ekspresi kemenangan.

“Aku tidak akan bilang ohoo,” kata Bima.

Alya menoleh tajam.

“Tapi wajahmu bilang.”

“Wajahku punya kebebasan berekspresi.”

Naya menunjuk Bima sambil minum.

“Jangan bikin teori.”

“Aku tidak bikin teori. Aku mengumpulkan data.”

Raka mengganti kartu di tangan Naya dan mulai menulis ulang hukuman dengan tulisan yang jauh lebih kecil dan rapi.

Naya melihat tulisannya.

“Raka, tulisanmu rapi banget.”

“Biasa.”

“Ini bukan biasa. Ini tulisan orang yang tidak pernah panik saat ujian.”

“Aku pernah panik.”

“Kapan?”

“Kalau Bima satu kelompok.”

Bima menatapnya.

“Pengkhianatan makin sering terjadi.”

Naya tertawa.

Alya akhirnya benar-benar tersenyum.

Salsa menatap kartu yang ditulis Raka, lalu kartu tulisan Naya.

Perbedaannya mencolok.

Tulisan Naya besar, hidup, sedikit miring, dan seperti ingin keluar dari kertas.

Tulisan Raka kecil, rapi, tenang, dan memuat lebih banyak kata daripada yang terlihat mungkin.

Aneh.

Mereka sangat berbeda.

Tapi kartu itu, setelah disusun bersama, justru tampak lengkap.

Salsa menunduk lagi.

Ada rasa aneh yang pelan-pelan ia pahami.

Sebelumnya, ia mengira Raka perhatian dengan cara yang sama pada semua orang.

Mungkin memang benar.

Raka membantu Alya.

Raka membantunya saat ia tidak nyaman.

Raka mengimbangi Bima dengan komentar pendek.

Tapi pada Naya, perhatian Raka punya bentuk yang berbeda.

Lebih cepat.

Lebih otomatis.

Seolah sebelum Naya meminta, Raka sudah melihat.

Salsa tidak sedih.

Belum.

Mungkin karena ia sendiri belum benar-benar tahu apa yang ia rasakan.

Tapi ada sesuatu yang bergerak di dadanya.

Sesuatu yang membuatnya sedikit lebih diam sore itu.

Alya merasakannya juga.

Bukan dari Salsa.

Dari dirinya sendiri.

Ketika melihat Raka mengambil alih kartu Naya tanpa banyak bicara, Alya teringat sore saat kardus kas hilang.

Saat Raka berkata bahwa bertanggung jawab bukan berarti harus mencari sendiri.

Saat Raka membantunya mengurangi anggaran.

Saat Raka merapikan bagian teknis proposal.

Alya sempat merasa nyaman.

Terlalu nyaman untuk orang yang biasanya tidak suka bergantung pada siapa pun.

Namun kini, melihat cara Raka memperhatikan Naya, Alya mulai mengerti sesuatu yang agak mengganggu.

Raka membantu semua orang.

Tapi ia mencari Naya.

Perbedaannya tipis.

Sangat tipis.

Tapi bagi orang yang terbiasa memperhatikan detail agar semuanya berjalan lancar, Alya bisa melihatnya.

Dan itu membuatnya diam lebih lama dari biasanya.

“Bu Ketua.”

Alya tersentak kecil.

Naya menatapnya dari seberang meja.

“Kamu bengong.”

“Tidak.”

“Bengong.”

“Aku sedang berpikir.”

“Tentang festival?”

Alya melihat daftar barang di tangannya.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Itu tidak sepenuhnya bohong.

Festival memang ada di pikirannya.

Hanya saja, bukan cuma festival.

Bima mengangkat tangan.

“Kalau Alya bengong, apakah itu berarti sistem mengalami loading?”

Alya mengambil satu kartu kasus dan melemparnya ke Bima.

Bima menangkapnya.

“Wah. Respons cepat. Sistem normal.”

Suasana kembali ringan.

Namun setelah itu, Alya dan Salsa beberapa kali saling melihat tanpa mengatakan apa-apa.

Seolah keduanya menyimpan pertanyaan yang sama, tapi belum ingin membukanya.

Sore itu, setelah semua properti dibereskan, mereka berjalan keluar kelas bersama-sama.

Festival tinggal beberapa hari lagi.

Poster mereka sudah dikenal.

Opening sudah siap.

Kartu kasus sudah tersusun.

Palkim sudah cukup aman.

Dan tim inti yang awalnya dipilih secara paksa kini mulai terlihat seperti benar-benar bisa mengerjakan sesuatu.

Di koridor, Naya berjalan lebih lambat dari biasanya.

Tidak banyak.

Hanya sedikit.

Bima berjalan di depan sambil membahas kemungkinan membuat “sumpah terdakwa” sebelum pengunjung masuk stand.

Alya berjalan sambil mengecek daftar barang untuk kesekian kali.

Salsa berjalan di sampingnya.

Raka berjalan di belakang Naya.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Saat sampai tangga, Naya berhenti sebentar untuk membiarkan beberapa siswa lain lewat.

Ia memegang pegangan tangga, lalu batuk kecil.

Raka otomatis berhenti.

Alya yang berjalan di depan melihat dari sudut matanya.

Salsa juga.

Naya melambaikan tangan tanpa menoleh.

“Aku nggak apa-apa.”

Raka tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menunggu sampai Naya berjalan lagi.

Bima yang sudah beberapa anak tangga di bawah menoleh.

“Kok berhenti?”

“Naya batuk,” jawab Salsa pelan.

Bima langsung panik.

“Nay, jangan tumbang lagi. Aku belum siap jadi MC.”

Naya menuruni tangga sambil menunjuknya.

“Justru ancaman itu yang membuatku ingin sembuh.”

Raka mengikuti di belakang.

Alya dan Salsa saling melirik.

Tidak lama.

Tidak jelas.

Tapi cukup.

Malam itu, grup Mahkamah Receh tidak seramai biasanya.

Mungkin karena semua orang lelah.

Mungkin karena festival semakin dekat.

Mungkin karena beberapa hal mulai terasa sedikit berbeda, meski belum ada yang ingin menyebutnya.

Alya: Besok final check properti. Jangan ada yang telat.

Bima: Siap, Yang Mulia Ketua.

Naya: Aku boleh komentar besok?

Alya: Boleh, asal tidak berlebihan.

Raka: Minum dulu sebelum komentar.

Naya: Kamu bahkan menjadwalkan komentarku.

Raka: Pencegahan.

Salsa: Besok aku bawa semua kartu kasus yang sudah dilabeli.

Bima: Aku bawa Palkim.

Alya: Jangan bawa palu lain.

Bima: Aku tersinggung karena dicurigai.

Naya: Kecurigaan itu berdasarkan sejarah.

Raka: Dan barang bukti.

Bima: Kalian semua melawanku.

Naya tertawa membaca pesan itu.

Di rumahnya, suaranya masih belum pulih total, tapi tubuhnya sudah jauh lebih enak.

Ia mengambil botol minum di meja, lalu menatap layar ponsel.

Pesan Raka masih terlihat.

Minum dulu sebelum komentar.

Naya menggeleng.

“Nyebelin.”

Tapi ia minum juga.

Di rumah lain, Salsa membaca chat itu sambil duduk di depan laptop.

Desain final kartu kasus sudah selesai.

Namun ia belum menutup layar.

Matanya berhenti di pesan Raka.

Lalu di balasan Naya.

Ia tersenyum kecil.

Bukan senyum kalah.

Bukan juga senyum senang sepenuhnya.

Lebih seperti senyum orang yang mulai memahami sesuatu sebelum orang yang bersangkutan memahaminya.

Sementara itu, Alya menatap daftar jadwal di bukunya.

Di sana ada nama semua anggota tim inti.

Naya.

Bima.

Salsa.

Raka.

Namanya sendiri.

Semua tersusun rapi dalam kolom tugas.

Namun semakin ia melihat nama Raka dan Naya yang beberapa kali muncul berdekatan dalam jadwal, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia susun serapi tabel.

Alya menutup bukunya.

Lalu menghela napas.

“Fokus festival dulu.”

Kalimat itu ia ucapkan untuk dirinya sendiri.

Dan mungkin untuk hal lain yang mulai tumbuh terlalu cepat di pikirannya.

Keesokan harinya, final check properti berjalan nyaris lancar.

Nyaris.

Karena Bima datang membawa kotak kecil.

Alya langsung menatapnya.

“Apa itu?”

“Properti tambahan.”

“Bima.”

“Tenang. Aman.”

“Terakhir kamu bilang aman, kamu membawa palu.”

Bima membuka kotak itu dengan bangga.

Di dalamnya ada lima pin kecil dari karton, masing-masing diberi tali.

Tulisannya:

HAKIM
JAKSA
PEMBELA
SAKSI
PETUGAS KETERTIBAN

Naya mengambil salah satu pin.

“Petugas ketertiban?”

Bima menunjuk Raka.

“Untuk dia.”

Raka menatap pin itu.

“Kenapa aku?”

“Karena kamu satu-satunya yang bisa menghentikan aku dengan satu kalimat.”

Alya memandangi pin itu.

Salsa tertawa kecil.

Naya menatap Raka, lalu mengangguk.

“Cocok.”

Raka mengambil pin itu.

Membaca tulisannya.

Lalu berkata datar, “Kalau aku petugas ketertiban, hal pertama yang kulakukan adalah membatasi improvisasimu.”

Bima memegang dada.

“Jabatan ini langsung disalahgunakan.”

Naya tertawa.

Alya akhirnya mengangguk.

“Pin ini bisa dipakai.”

Bima membeku.

“Serius?”

“Iya. Ini membantu pengunjung mengenali peran.”

Bima menatap karyanya dengan mata berbinar.

“Akhirnya kontribusiku diakui.”

“Jangan terbiasa,” kata Alya.

“Telat. Aku sudah tersentuh.”

Mereka mencoba memakai pin masing-masing.

Alya sebagai Hakim.

Bima sebagai Jaksa.

Naya sebagai Pembela.

Salsa sebagai Saksi.

Raka sebagai Petugas Ketertiban.

Dito yang lewat langsung berhenti.

“Wah, kalian beneran kayak tim.”

Lima orang itu saling melihat.

Untuk sesaat, kalimat itu terasa aneh.

Bukan karena salah.

Justru karena terlalu benar.

Mereka memang terlihat seperti tim.

Alya dengan buku catatan.

Bima dengan Palkim.

Naya dengan naskah opening.

Salsa dengan kartu kasus.

Raka dengan daftar alur dan pin petugas ketertiban.

Lima orang yang beberapa minggu lalu bahkan tidak punya meja tetap untuk duduk bersama.

Sekarang berdiri di depan properti yang mereka buat sendiri, memakai pin peran masing-masing, dan ditatap kelas lain sebagai satu paket.

Naya tersenyum lebar.

“Tentu saja. Kami lembaga hukum resmi tidak resmi.”

Bima mengangkat Palkim.

“Mahkamah Receh siap melayani keresahan sosial.”

Alya menghela napas, tapi tidak membantah.

Salsa tersenyum.

Raka melihat pin di tangannya.

Lalu memasangnya di seragam.

Petugas Ketertiban.

Ia tidak tahu kenapa, tapi semua orang tampak puas dengan itu.

Terutama Naya.

“Bagus,” kata Naya. “Sekarang kalau Bima bikin masalah, kamu punya wewenang.”

Raka menatapnya.

“Kalau kamu juga?”

“Aku?”

“Iya.”

Naya menyentuh dadanya dengan wajah tidak percaya.

“Aku sumber kreativitas.”

“Dan kadang masalah.”

Bima langsung menunjuk Naya.

“Setuju!”

Naya menatap Raka, lalu Bima.

“Pengkhianatan berjamaah.”

Raka berkata pelan, “Minum.”

Naya otomatis mengambil botol minum di meja.

Baru setelah meneguk, ia sadar.

Ia menatap botol.

Lalu menatap Raka.

“Kamu…”

Bima menunjuknya dengan mata berbinar.

“Dia nurut!”

Naya langsung menurunkan botol.

“Aku kebetulan haus.”

Alya menunduk, menyembunyikan senyum.

Salsa tersenyum lebih jelas.

Raka hanya berkata, “Bagus.”

Naya tampak ingin membalas.

Namun entah kenapa, kali ini ia tidak langsung menemukan kata-kata.

Bima melihat momen itu.

Matanya melebar.

Ia membuka buku penyelidikan.

Lalu menulis satu kalimat besar:

KASUS PAYUNG BERKEMBANG MENJADI KASUS BOTOL MINUM.

Alya menatap tulisan itu.

Lalu memegang dahinya.

“Festival belum mulai, tapi aku sudah lelah.”

Dan benar saja.

Festival tinggal dua hari lagi.

Namun sebelum mereka sempat merasa siap, pengumuman dari panitia datang.

Stand mereka masuk daftar stand yang akan dinilai langsung oleh kepala sekolah dan beberapa guru tamu.

Bima mendengar kabar itu, lalu langsung berdiri.

“Berarti ini bukan lagi Mahkamah Receh.”

Alya menatapnya lelah.

“Lalu apa?”

Bima mengangkat Palkim tinggi-tinggi.

“Ini Mahkamah Agung Receh.”

Naya tertawa sampai hampir batuk.

Raka langsung menatapnya.

Naya cepat-cepat mengambil botol minum sebelum diperintah.

“Lihat. Aku mandiri.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Salsa melihat mereka.

Alya juga.

Dan kali ini, keduanya tidak perlu saling melirik untuk tahu bahwa mereka memikirkan hal yang sama.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang mungkin belum disadari Naya.

Mungkin belum mau diakui Raka.

Tapi mulai terlalu sering muncul untuk disebut kebetulan.

Sayangnya, mereka tidak punya waktu untuk membahas itu.

Karena festival tinggal dua hari lagi.

Dan Mahkamah Agung Receh baru saja naik level menjadi masalah yang bisa dinilai kepala sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar