Chapter 2
Lima Orang yang Dipaksa Kerja Sama
“Ibu sudah pilih orangnya.”
Begitu Bu Ratna mengatakan kalimat itu, suasana kelas langsung berubah.
Bukan menjadi tegang.
Lebih tepatnya menjadi seperti ruang tunggu dokter gigi.
Semua orang mendadak sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang pura-pura membaca buku. Ada yang menunduk sangat dalam sampai hampir menyatu dengan meja. Ada juga yang tiba-tiba terlihat religius karena memejamkan mata seperti sedang berdoa.
Bima termasuk kelompok terakhir.
Ia memejamkan mata, menunduk, lalu berbisik pelan, “Ya Allah, lindungi hamba dari kepanitiaan.”
Di bangku depan, Naya menoleh.
“Kamu kalau doa jangan keras-keras. Malaikatnya juga males nyatet.”
“Ini darurat.”
“Justru itu. Doamu kurang sopan untuk kondisi darurat.”
Bima membuka satu mata. “Kamu nggak takut kepilih?”
“Takut.”
“Tapi mukamu santai.”
“Karena kalau panik, kerudungku tetap nggak bisa berubah jadi jubah tembus pandang.”
Bima diam sebentar.
“Masuk akal.”
Di depan kelas, Bu Ratna—wali kelas XI IPA 2—tersenyum dengan wajah paling tenang di ruangan itu.
Senyum guru ketika sudah punya rencana biasanya memang menakutkan.
Apalagi kalau rencana itu melibatkan kata “sukarela”.
“Untuk festival sekolah tahun ini,” kata Bu Ratna, “setiap kelas wajib membuat stand. Bukan cuma jualan makanan atau minuman. Tahun ini sekolah ingin setiap kelas punya konsep yang kreatif, interaktif, dan bisa mewakili kekompakan kelas.”
Satu kelas diam.
Kata “kreatif” terdengar seperti jebakan.
Kata “interaktif” terdengar seperti kerja tambahan.
Kata “kekompakan kelas” terdengar seperti fitnah, karena XI IPA 2 bahkan belum kompak menentukan jadwal piket.
“Karena waktunya tinggal satu bulan,” lanjut Bu Ratna, “Ibu butuh tim inti yang bisa mengurus konsep, perencanaan, dekorasi, promosi, dan pelaksanaan stand.”
Bima mengangkat tangan.
Bu Ratna tersenyum. “Ya, Bima?”
“Bu, kalau tidak salah, bukankah kesehatan mental siswa juga penting?”
“Penting.”
“Berarti kita perlu menghindari stres.”
“Betul.”
“Berarti sebaiknya festival ini dibatalkan.”
Satu kelas tertawa.
Bu Ratna ikut tersenyum.
Senyum yang sama sekali tidak memberi harapan.
“Terima kasih masukannya. Tidak diterima.”
Bima menurunkan tangan dengan wajah seperti pejuang yang baru pulang tanpa kemenangan.
“Usaha yang bagus,” bisik Naya.
“Setidaknya aku mencoba menyelamatkan bangsa.”
“Bangsa mana?”
“Bangsa yang tidak mau rapat sepulang sekolah.”
Di sudut belakang dekat jendela, Raka duduk diam sambil memutar pulpen di antara jarinya.
Ia tidak ikut tertawa keras seperti yang lain.
Tapi sudut bibirnya sempat naik sedikit ketika Bima gagal menyelamatkan bangsa.
Tidak ada yang memperhatikan.
Kecuali mungkin Naya, yang kebetulan sedang menoleh ke belakang untuk mencari reaksi teman-temannya.
Namun saat mata mereka hampir bertemu, Raka sudah kembali menunduk ke buku catatannya.
Naya mengangkat alis sebentar.
Lalu kembali menghadap depan.
Bu Ratna mengambil selembar kertas dari mejanya.
“Baik. Tim inti stand XI IPA 2 adalah…”
Seluruh kelas menahan napas.
Bima kembali memejamkan mata.
Naya melipat tangan.
Alya duduk tegak karena sebagai ketua kelas, ia sudah punya firasat buruk.
Salsa yang berada dua meja dari Alya hanya tersenyum tipis, meski jelas berharap namanya tidak disebut.
Raka tetap diam.
Itu adalah pilihan yang terlihat aman.
Sayangnya, hidup tidak selalu menghargai orang yang diam.
“Alya.”
Alya memejamkan mata sebentar.
Tentu saja.
Sebagai ketua kelas, namanya hampir tidak mungkin lolos dari daftar penderitaan.
“Baik, Bu,” jawab Alya, mencoba terdengar tegar.
Bima bertepuk tangan pelan.
Alya menoleh tajam.
Bima langsung berhenti.
“Naya.”
“Waduh,” gumam Naya.
Beberapa siswa langsung bersorak kecil.
“Cocok, Nay!”
“Biar stand-nya rame!”
“Kalau Naya yang ngomong, pengunjung nggak bisa kabur!”
Naya berdiri sedikit dari kursinya dan membungkuk dramatis.
“Terima kasih atas dukungan kalian. Saya merasa dijebak secara demokratis.”
“Belum selesai,” kata Bu Ratna.
Naya langsung duduk lagi.
“Salsa.”
Kali ini reaksi kelas sedikit berbeda.
Beberapa anak cowok langsung terlihat lebih antusias daripada yang diperlukan.
“Setuju, Bu!”
“Salsa bagian promosi aja, Bu!”
“Kalau Salsa yang jagain stand, auto rame!”
Salsa tersenyum.
Senyum ramah yang sudah terlalu sering ia pakai untuk menghadapi komentar seperti itu.
“Baik, Bu,” katanya pelan.
Naya melirik Salsa sebentar.
Senyum Salsa terlihat baik-baik saja.
Tapi entah kenapa, Naya merasa senyum itu sudah latihan terlalu lama.
“Bima.”
“INNALILLAH.”
Satu kelas meledak tertawa.
Bu Ratna menghela napas, tapi sudut bibirnya ikut naik.
“Bima.”
“Bu, saya merasa ada kesalahan teknis.”
“Tidak ada.”
“Nama saya mirip dengan Bimo dari kelas sebelah.”
“Di kelas sebelah tidak ada Bimo.”
“Berarti dia sangat pendiam, Bu.”
“Duduk.”
Bima duduk dengan wajah pasrah.
Naya menepuk bahunya pelan.
“Selamat datang di penderitaan.”
“Aku belum tanda tangan kontrak.”
“Kontraknya sudah diwakili takdir.”
Bu Ratna melihat kertasnya lagi.
“Terakhir, Raka.”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Raka berhenti memutar pulpen.
Beberapa kepala menoleh ke arahnya.
Bima juga ikut menoleh, lalu berbisik cukup keras, “Wah, ini timnya punya teknisi.”
Raka menatapnya.
“Aku belum bilang mau.”
“Justru itu. Orang yang tidak banyak bicara biasanya kerjanya banyak.”
“Itu bukan prinsip ilmiah.”
“Tapi prinsip kepanitiaan.”
Raka tidak membalas.
Ia hanya melihat Bu Ratna.
“Bu,” katanya pelan, “saya kurang cocok kerja yang banyak interaksi.”
“Tidak apa-apa,” jawab Bu Ratna. “Justru Ibu butuh kamu untuk bagian teknis dan perlengkapan. Kamu teliti.”
Raka diam.
Itu bukan pujian yang bisa ditolak dengan mudah.
Akhirnya ia mengangguk kecil.
“Baik, Bu.”
Dan begitulah lima nama itu terkumpul.
Alya.
Naya.
Salsa.
Bima.
Raka.
Lima orang yang pada saat itu bahkan belum bisa disebut dekat.
Apalagi circle.
Sebenarnya, mereka bukan anak-anak yang tidak punya teman.
Mereka hanya tidak punya tempat tetap.
Alya dikenal semua orang, tapi lebih sering dicari saat dibutuhkan daripada diajak istirahat.
Naya bisa masuk ke kelompok mana saja. Justru karena itu, ia jarang menetap.
Bima punya banyak teman untuk tertawa, tapi tidak banyak yang tahan lama.
Salsa disukai terlalu banyak orang sampai sulit tahu siapa yang benar-benar ingin berteman.
Raka ada.
Raka membantu.
Lalu Raka kembali duduk di tempatnya.
Maka ketika Bu Ratna menunjuk mereka berlima sebagai tim inti stand festival, tidak ada yang langsung berpikir, “Wah, mereka pasti cocok.”
Yang ada hanya satu pikiran bersama.
Kasihan.
Terutama kasihan pada Alya.
“Baik,” kata Bu Ratna sambil menutup daftar nama. “Kalian berlima Ibu minta berkumpul sepulang sekolah di kelas ini. Kita bahas konsep awal.”
Bima mengangkat tangan lagi.
“Ya, Bima?”
“Bu, izin bertanya.”
“Silakan.”
“Kalau saya pura-pura demam sepulang sekolah, apakah tetap dihitung anggota?”
“Tetap.”
“Kalau demamnya meyakinkan?”
“Tetap.”
“Kalau demamnya disertai akting?”
“Bima.”
“Baik, Bu.”
Bel pulang sekolah hari itu terdengar seperti suara kebebasan bagi sebagian siswa.
Tapi tidak bagi lima orang yang namanya baru saja dikorbankan untuk festival.
Setelah kelas mulai kosong, Alya langsung berdiri di depan papan tulis dengan buku catatan di tangan.
Gerakannya cepat.
Terlalu cepat untuk orang yang baru saja menerima beban tambahan.
“Karena waktu kita cuma satu bulan, kita harus langsung cari konsep dan bagi tugas,” kata Alya.
Bima yang masih duduk di bangkunya mengangkat tangan.
“Aku bagian memberi dukungan moral.”
“Tidak ada bagian itu.”
“Berarti ini organisasi tidak sehat.”
Alya mengabaikannya.
“Naya, kamu bisa bantu ide konsep dan nanti mungkin bagian acara. Salsa, kamu bisa bantu promosi atau desain visual. Raka, kamu perlengkapan dan teknis. Bima…”
Alya berhenti.
Ia menatap Bima cukup lama.
Bima balas menatap dengan wajah penuh harapan.
“...nanti kita pikirkan.”
“Kenapa aku seperti barang hilang?”
“Karena fungsi pastimu belum ditemukan.”
Naya menahan tawa.
Bima menoleh kepadanya.
“Kamu ketawa?”
“Nggak.”
“Matamu ketawa.”
“Mataku memang ramah.”
Salsa yang duduk di sisi lain meja tersenyum kecil.
Raka duduk di dekat jendela, diam sambil mendengarkan.
Ia tidak terlihat keberatan.
Tapi juga tidak terlihat antusias.
Alya membuka halaman kosong di bukunya.
“Kita butuh konsep stand.”
“Jualan makanan aja,” kata Bima cepat. “Paling aman.”
“Semua kelas pasti jualan makanan.”
“Berarti pasar terbukti ada.”
“Kita butuh sesuatu yang beda.”
“Jualan makanan sambil menangis?”
Alya menatapnya.
“Biar emosional,” tambah Bima.
Naya mengangkat tangan.
“Kalau jualan makanan, masalahnya modal. Kita harus beli bahan, masak, jaga kualitas, belum lagi kalau nggak laku.”
“Pesimis sekali,” kata Bima.
“Realistis.”
“Aku baru tahu Naya bisa realistis.”
“Aku juga baru tahu kamu bisa mendengar.”
Salsa ikut bicara, “Kalau stand foto?”
“Banyak juga,” jawab Alya. “Dan dekorasinya pasti butuh biaya.”
“Horor?” usul Bima.
“Sudah ada kelas IPS 1,” jawab Salsa.
“Stand konsultasi cinta?” tanya Naya.
Bima langsung menunjuk Raka.
“Dia jadi konsultan.”
Raka menoleh pelan.
“Aku?”
“Iya. Kamu mukanya seperti orang yang tidak pernah membuat keputusan bodoh dalam hidup.”
“Itu bukan berarti aku paham cinta.”
“Justru bagus. Objektif.”
Alya menulis beberapa ide di papan.
Makanan.
Foto.
Horor.
Konsultasi cinta.
Setelah itu, masih ada beberapa ide lain yang muncul, tapi semuanya mati muda.
Ada yang terlalu mahal.
Ada yang terlalu biasa.
Ada yang terlalu bergantung pada kemampuan Bima untuk tidak mempermalukan kelas, dan itu jelas risiko besar.
Rapat pertama itu berjalan selama hampir tiga puluh menit.
Hasilnya: tidak ada.
Kecuali gambar phoenix berbentuk ayam di pojok papan tulis.
Alya menatap gambar itu.
“Bima.”
“Apa?”
“Itu apa?”
“Logo tim.”
“Itu gambar ayam.”
“Burung phoenix.”
“Itu ayam.”
“Phoenix versi hemat anggaran.”
Alya memijat pelipis.
Raka menunduk sedikit.
Kali ini, Naya melihatnya.
Cowok itu tersenyum kecil.
Tidak besar.
Tidak sampai tertawa.
Tapi cukup untuk membuat Naya menunjuknya.
“Nah! Raka ketawa!”
Raka langsung mengangkat wajah.
“Aku nggak ketawa.”
“Senyum.”
“Nggak.”
“Mulutmu barusan melakukan gerakan sosial.”
Bima langsung menoleh dengan dramatis.
“Raka bisa senyum?”
Raka menatap Bima datar.
“Bisa.”
“Coba ulang.”
“Tidak.”
“Sebagai bukti ilmiah.”
“Tidak.”
Naya tertawa.
“Sudah, jangan diganggu. Nanti dia kembali ke mode hemat baterai.”
Raka tidak menjawab.
Tapi kali ini, sudut bibirnya naik lagi sedikit.
Alya mengetuk papan tulis dengan spidol.
“Fokus. Kita butuh ide yang bisa dikerjakan.”
Semuanya kembali melihat papan.
Makanan.
Foto.
Horor.
Konsultasi cinta.
Semua terlihat biasa saja.
Atau terlalu berisiko.
Atau terlalu mahal.
Atau terlalu bergantung pada Bima, yang jelas merupakan keputusan buruk.
Naya menyandarkan dagu ke telapak tangan.
Matanya memperhatikan tulisan-tulisan di papan.
Lalu pandangannya turun ke gambar ayam phoenix Bima.
Tiba-tiba ia duduk tegak.
“Eh.”
Alya langsung waspada.
Nada “eh” dari Naya punya dua kemungkinan.
Ide bagus.
Atau bencana.
Sering kali keduanya sama saja.
“Kenapa?” tanya Salsa.
Naya menunjuk papan tulis.
“Kalau kita bikin stand sidang gimana?”
Bima mengernyit.
“Sidang?”
“Iya. Sidang.”
Alya menatapnya.
“Maksudnya?”
“Pengunjung masuk sebagai terdakwa.”
“Kenapa pengunjung langsung jadi terdakwa?” tanya Raka.
“Biar cepat. Kalau jadi saksi dulu kelamaan.”
Bima menepuk meja.
“Aku suka arah pembicaraan ini.”
Naya mulai bersemangat.
“Jadi nanti setiap pengunjung ambil kartu kasus. Isinya kasus receh. Misalnya, ‘menghilangkan pulpen pinjaman’, ‘bilang otw padahal masih di rumah’, ‘makan gorengan terakhir tanpa izin’, atau ‘membaca chat tapi tidak membalas’.”
Salsa tertawa kecil.
“Itu lucu juga.”
“Terus mereka disidang,” lanjut Naya. “Ada hakim, jaksa, pembela, saksi. Semuanya lebay. Habis itu mereka dapat hukuman lucu.”
“Hukuman?” tanya Alya.
“Iya. Misalnya nyanyi lagu nasional dengan wajah bersalah. Atau baca permintaan maaf untuk pulpen yang hilang.”
Bima berdiri.
“Aku mau jadi jaksa.”
“Belum tentu,” kata Alya.
“Aku punya bakat menuduh.”
“Itu bukan bakat yang membanggakan.”
“Tapi berguna.”
Salsa tersenyum.
“Kalau konsepnya sidang, dekorasinya bisa sederhana. Kita cuma butuh meja, palu hakim, kartu kasus, dan properti kecil.”
Alya mulai berpikir.
Ekspresinya berubah.
Dari curiga menjadi menghitung kemungkinan.
“Interaktif,” gumamnya.
“Murah,” tambah Naya.
“Bisa ramai,” kata Salsa.
“Bisa kacau,” kata Raka.
Semua menoleh kepadanya.
Raka diam sebentar, lalu menambahkan, “Tapi… mungkin justru itu yang bikin ramai.”
Naya langsung menunjuk Raka dengan semangat.
“Dengar! Anak paling hemat kata di ruangan ini setuju!”
“Aku tidak bilang setuju.”
“Tapi nadamu mendukung.”
“Nada tidak bisa dijadikan bukti.”
“Bisa. Ini stand sidang. Semua bisa dijadikan bukti.”
Bima menepuk meja lagi.
“Keberatan, Yang Mulia! Terdakwa Raka terbukti mendukung ide ini secara emosional!”
Raka menatap Bima.
“Aku pulang.”
“Keberatan ditolak!”
Alya mengetuk meja dengan spidol.
“Diam dulu.”
Anehnya, mereka benar-benar diam.
Mungkin karena suara Alya terdengar seperti ketua kelas yang sudah mencapai batas kesabaran.
Alya menatap papan tulis.
Lalu menulis besar-besar:
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Kemudian berbalik ke arah mereka.
“Ini ide paling aneh yang muncul hari ini.”
Naya tersenyum bangga.
“Tapi,” lanjut Alya, “dibanding ide lain, ini paling mungkin dikerjakan.”
Bima mengangkat kedua tangan.
“Berarti kita resmi menjadi lembaga hukum.”
“Kita belum resmi apa-apa.”
“Aku menuntut seragam jaksa.”
“Kamu menuntut terlalu banyak.”
Salsa tertawa pelan.
Raka hanya melihat papan tulis.
Ruang Sidang Anak Sekolah.
Ide itu memang terdengar aneh.
Tapi untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ruangan itu terasa sedikit hidup.
Bukan hidup yang rapi.
Bukan hidup yang terencana.
Lebih seperti kipas angin tua yang tiba-tiba menyala setelah dipukul.
Berisik.
Goyang.
Tapi bekerja.
Alya mulai menulis pembagian kasar.
“Naya, kamu susun konsep kasus dan alur sidang. Bima, kamu…”
“Jaksa.”
“Kamu bantu Naya bikin daftar kasus.”
“Sebagai jaksa.”
“Terserah.”
Bima mengepalkan tangan penuh kemenangan.
“Salsa, kamu pikirkan promosi dan visual. Kita butuh poster yang menarik, tapi tidak terlalu mahal.”
Salsa mengangguk. “Bisa.”
“Raka, kamu bantu teknis. Kita perlu sistem antrean, kartu kasus, properti, dan alur supaya pengunjung nggak numpuk.”
Raka mengangguk kecil.
“Bisa.”
Alya berhenti sebentar.
Mungkin ia baru sadar bahwa untuk pertama kalinya sejak dipilih, tim itu benar-benar terdengar seperti tim.
Belum solid.
Belum akrab.
Belum bisa disebut circle.
Tapi setidaknya mereka punya sesuatu.
Sesuatu yang bentuknya masih buruk, berantakan, dan sangat mungkin memalukan.
Namun tetap sesuatu.
“Baik,” kata Alya. “Besok kita rapat lagi.”
Bima langsung lemas.
“Besok?”
“Iya.”
“Kenapa penderitaan punya sekuel?”
“Karena festivalnya belum selesai.”
Naya menepuk bahu Bima.
“Tenang. Kamu kan jaksa.”
Bima langsung tegak lagi.
“Benar juga.”
Raka berdiri sambil merapikan bukunya.
Saat yang lain masih berdebat soal apakah Bima layak memegang palu hakim atau tidak, Naya berusaha mengambil spidol di dekat papan.
Spidol itu jatuh lebih dulu dari meja.
Sebelum Naya sempat membungkuk, Raka sudah mengambilnya dan meletakkannya di pinggir papan.
“Ini,” katanya singkat.
“Oh. Makasih.”
Raka mengangguk.
Lalu kembali memasukkan bukunya ke tas.
Bukan hal besar.
Bahkan terlalu kecil untuk disebut kejadian.
Naya juga tidak terlalu memikirkannya.
Ia hanya kembali melihat papan, membaca tulisan besar yang tadi dibuat Alya.
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Lalu tertawa sendiri.
“Kayaknya ini bakal kacau.”
Bima menyahut dari belakang, “Kacau yang bersejarah.”
Alya menutup buku catatannya.
“Jangan terlalu percaya diri dulu. Kita bahkan belum punya proposal.”
Salsa tersenyum.
“Setidaknya kita sudah punya nama.”
Raka menyampirkan tasnya ke bahu.
“Dan masalah.”
Naya menoleh kepadanya, lalu tertawa.
“Nah, itu baru realistis.”
Raka tidak membalas.
Tapi lagi-lagi, sudut bibirnya naik sedikit.
Rapat pertama selesai tanpa tepuk tangan, tanpa semangat membara, dan tanpa keyakinan bahwa mereka akan berhasil.
Namun hari itu, untuk pertama kalinya, lima orang yang biasanya berdiri di tempat masing-masing mulai duduk di meja yang sama.
Belum sebagai teman dekat.
Belum sebagai circle.
Hanya lima orang yang dipaksa bekerja sama.
Dan kadang, bencana terbesar memang dimulai dari kalimat sesederhana itu.
Besoknya, mereka baru tahu bahwa membuat konsep stand sidang jauh lebih mudah daripada membuat satu kelas mau membantu.
Terutama ketika separuh kelas mengira “Ruang Sidang Anak Sekolah” adalah ide untuk menghukum siswa yang belum bayar kas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar