Sabtu, 27 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 18 / 20

 

Chapter 18

Jangan Bikin Satu Circle Jadi Detektif

Pagi setelah malam kesan-pesan, suasana penginapan dipenuhi tiga jenis manusia.

Pertama, manusia yang bangun tepat waktu dan terlihat seperti benar-benar menghargai jadwal.

Jumlahnya sedikit.

Alya termasuk di dalamnya.

Kedua, manusia yang bangun tepat waktu, tapi jiwanya belum kembali dari mimpi.

Jumlahnya banyak.

Raka termasuk di dalamnya, meski wajahnya memang tidak terlalu berbeda antara sadar penuh dan baru bangun.

Ketiga, manusia yang tidak bangun tepat waktu dan harus dipanggil seperti sedang dievakuasi.

Bima termasuk di dalamnya.

“Bima!” suara Naya menggema di depan kamar putra. “Kalau kamu nggak keluar dalam tiga menit, aku lapor ke Bu Ratna bahwa kamu menyimpan Palkim di tas!”

Dari dalam kamar terdengar suara panik.

“Jangan bawa-bawa Palkim!”

Alya berdiri di samping Naya sambil memegang daftar kehadiran.

“Kita harus sarapan lima menit lagi.”

“Nah.” Naya mengetuk pintu kamar. “Dengar? Ketua kelas sudah mengaktifkan mode hitung mundur.”

Salsa yang baru datang sambil membawa jaket tersenyum.

“Dia pasti begadang baca amplop.”

Pintu kamar terbuka sedikit.

Wajah Bima muncul.

Rambutnya berantakan.

Matanya setengah terbuka.

Harga dirinya tidak ditemukan.

“Aku tidak begadang.”

Naya menyipit.

“Matamu bilang kamu membaca tiga puluh lembar kritik sosial terhadap dirimu sendiri.”

Bima terdiam.

Lalu berkata, “Dua puluh tujuh.”

Alya menghela napas.

“Cepat siap-siap.”

“Sudah.”

“Kamu masih pakai sandal beda warna,” kata Salsa.

Bima melihat kakinya.

Benar.

Sandal kanan biru.

Sandal kiri hitam.

Bima menatap mereka semua dengan serius.

“Ini bentuk keberagaman.”

“Ini bentuk belum sadar,” kata Raka dari belakang mereka.

Semua menoleh.

Raka baru keluar dari kamar putra dengan tas kecil di bahu. Rambutnya rapi, wajahnya biasa saja, dan entah bagaimana ia terlihat seperti orang yang tidak ikut menginap dengan satu kelas yang ribut semalam.

Naya menunjuknya.

“Lihat. Ini contoh manusia yang bangun seperti tidak punya dosa.”

Bima langsung menoleh pada Raka.

“Jangan percaya. Dia punya rahasia.”

Kalimat itu membuat udara berhenti sebentar.

Tidak lama.

Hanya cukup untuk membuat Alya melirik Bima.

Salsa juga.

Raka menatap Bima.

Naya mengangkat alis.

“Rahasia apa?”

Bima baru sadar mulutnya bergerak lebih cepat daripada pertahanan dirinya.

Ia langsung menunjuk sandalnya.

“Rahasia sandal. Aku merahasiakan konsep fashion-ku.”

Naya memandang sandal Bima.

Lalu wajah Bima.

“Buruk.”

“Aku tahu.”

Alya menepuk daftar kehadiran ke bahu Bima.

“Ganti sandal. Sekarang.”

“Baik.”

Bima menutup pintu lagi.

Naya menoleh ke Raka.

“Kamu sudah baca amplopmu?”

“Belum.”

Naya terkejut.

“Serius?”

“Ya.”

“Kamu tidak penasaran?”

“Sedikit.”

“Tapi tidak dibaca?”

“Nanti.”

Naya menatapnya seolah sedang melihat spesies baru.

“Aku tadi subuh sudah baca sebagian.”

Alya menoleh.

“Kamu bangun subuh untuk baca amplop?”

“Bukan. Aku kebangun, terus amplopnya seperti memanggil.”

Salsa tertawa.

“Isinya gimana?”

Naya langsung tersenyum bangga.

“Sejauh ini, banyak yang bilang aku berisik.”

Raka berkata pelan, “Benar.”

Naya menunjuknya cepat.

“Tidak diminta validasi.”

“Tapi akurat.”

“Sebentar lagi aku tulis kesan-pesan balasan untukmu.”

“Aku belum baca punyaku.”

“Bagus. Jadi kamu tidak tahu apakah ada yang memujimu atau menyuruhmu lebih sering senyum.”

Raka diam.

Naya menyipit.

“Jangan-jangan ada.”

Salsa menahan senyum.

Alya melihat Raka sebentar.

Bima akhirnya keluar lagi dengan sandal yang benar.

“Siap.”

“Bagus,” kata Alya. “Sarapan.”

Mereka berjalan menuju ruang makan penginapan bersama-sama.

Koridor dipenuhi siswa lain yang juga baru bangun, beberapa masih membawa amplop masing-masing. Ada yang tertawa membaca ulang pesan. Ada yang protes karena disebut “terlalu sering pinjam tipe-x”. Ada yang mencoba menebak siapa yang menulis “jangan kebanyakan galau di story”.

Acara anonim semalam ternyata tidak benar-benar selesai semalam.

Ia masih hidup pagi ini, menempel di obrolan semua orang.

Di ruang makan, mereka duduk di meja yang sama.

Itu terjadi begitu saja.

Tidak ada yang mengatur.

Tidak ada yang berkata, “Kita duduk berlima.”

Namun lima kursi langsung terisi seperti kebiasaan.

Alya duduk di sisi ujung, dekat jalur keluar.

Salsa di sebelahnya.

Naya di tengah.

Bima di depan Naya.

Raka di samping Bima, agak miring menghadap meja.

Menu sarapan pagi itu nasi goreng, telur, kerupuk, dan teh hangat.

Naya langsung mengambil kerupuk Bima sebelum Bima sempat bereaksi.

“Naya.”

“Apa?”

“Itu kerupukku.”

“Belum ada bukti kepemilikan.”

“Ada di piringku.”

“Piring hanya tempat sementara. Kepemilikan kerupuk bersifat dinamis.”

Lalu, sebelum Bima sempat menyusun argumen hukum, Naya menggigit kerupuk itu dengan santai.

Kriuk.

Bima menatapnya.

Naya mengangkat bahu.

“Barang bukti sudah diamankan.”

Bima menatap Raka.

“Petugas ketertiban, tolong.”

Raka melihat piring Bima.

Lalu Naya.

“Kerupuknya sudah dimakan.”

Bima memegang dada.

“Jadi hukum menyerah pada kenyataan?”

“Kadang.”

Alya menahan tawa.

Salsa tersenyum.

Bima menunjuk Raka.

“Kamu berubah sejak bergaul dengan kami.”

“Jadi lebih buruk?” tanya Raka.

“Lebih tajam.”

“Masih bisa lebih.”

Naya tertawa.

“Wah. Raka mengancam.”

“Aku memperingatkan.”

“Bahaya. Dia makin sosial.”

Bima membuka mulut untuk membalas, tapi berhenti ketika melihat amplop putih menyembul dari tas Naya.

Amplop itu.

Bima langsung ingat.

Nama di amplop.

Tulisan Raka.

Kalimat yang terlalu spesifik.

Ia menelan nasi goreng sedikit lebih susah daripada biasanya.

Alya melihat perubahan wajahnya.

“Kamu kenapa?”

“Pedas.”

“Belum pakai sambal,” kata Salsa.

Bima melihat piringnya.

Benar.

Naya menyipit.

“Bim.”

“Hm?”

“Kamu dari semalam aneh.”

“Aku memang aneh.”

“Beda. Biasanya anehmu mengganggu. Ini anehmu menyimpan sesuatu.”

Bima menatap Naya.

Lalu Raka.

Raka sedang mengambil teh hangat.

Seolah tidak mendengar.

Tapi Bima tahu Raka mendengar.

Karena Raka adalah tipe orang yang terlihat tidak mendengar, lalu tiba-tiba menjawab bagian paling tepat dari obrolan.

“Aku cuma...” Bima berhenti.

Alya meletakkan sendok.

“Kamu benar-benar tahu sesuatu?”

Salsa ikut menatapnya.

Naya bersandar di kursi.

“Wah. Ini serius?”

Bima memegang gelasnya.

Ia bisa mengalihkan.

Bisa bercanda.

Bisa bilang ia tahu rahasia bahwa Dito membawa mi instan ilegal ke kamar.

Namun entah kenapa, kata-kata itu tidak keluar.

Mungkin karena semalam ia sudah memilih menahan diri.

Dan setelah sekali menahan diri, rahasia itu terasa lebih berat.

Bima menarik napas.

“Aku cuma mikir.”

Naya mengangkat alis.

“Kamu?”

“Jangan menghina proses langka.”

“Maaf. Lanjut.”

Bima melihat mereka satu per satu.

“Semalam kalian baca amplop, kan?”

Alya mengangguk.

Salsa juga.

Naya mengangguk cepat.

Raka diam.

Bima melanjutkan, “Ada nggak sih, satu pesan yang bikin kalian kepikiran?”

Meja itu langsung lebih tenang.

Pertanyaannya sederhana.

Tapi tidak terasa seperti pertanyaan Bima biasanya.

Salsa melihat amplop di tasnya.

“Ada.”

Alya menatap gelas tehnya.

“Ada.”

Naya menyandarkan dagu ke tangan.

“Ada juga.”

Bima menatap Raka.

Raka mengangkat wajah.

“Aku belum baca.”

Naya langsung menunjuknya.

“Nah, masalahnya di situ. Kamu harus baca.”

“Kenapa?”

“Karena ini acara kesan-pesan. Masa kamu cuma jadi penulis misterius tanpa menerima kritik?”

Bima hampir tersedak.

Penulis misterius.

Kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan.

Raka menatap Naya.

“Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Setelah sarapan.”

“Janji?”

Raka diam.

Naya menyipit.

“Rak.”

“Iya.”

Naya tersenyum puas.

Bima melihat mereka.

Alya melihat mereka.

Salsa juga.

Dan lagi-lagi, Naya tidak sadar bahwa tiga orang di meja itu sedang memperhatikan cara ia bisa meminta janji dari Raka hanya dengan memanggil namanya.

Setelah sarapan, acara dilanjutkan dengan jalan santai ke area kebun dan foto kelas.

Bu Ratna membagi mereka menjadi beberapa kelompok kecil untuk permainan ringan.

Tentu saja, kelompok Bima kalah di permainan pertama karena Bima salah memahami instruksi.

“Kamu disuruh memindahkan bola pakai sendok,” kata Alya.

“Aku memindahkan sendoknya dulu.”

“Bim.”

“Itu langkah awal.”

“Itu salah.”

Naya tertawa sampai duduk di batu kecil dekat jalan.

Raka berdiri tidak jauh, menyerahkan botol minum yang tadi hampir ditinggalkan Naya di meja makan.

Naya menerimanya.

“Makasih.”

“Kamu lupa lagi.”

“Aku tidak lupa. Aku menguji sistem pengingat.”

“Berarti sistemnya capek.”

Naya menatapnya.

“Berani sekali sistem mengeluh pada pengguna.”

Raka tidak membalas.

Namun senyumnya muncul sedikit.

Bima melihat dari kejauhan.

Ia sedang memegang sendok lomba yang gagal ia gunakan dengan benar.

“Lihat,” gumamnya.

Alya yang berdiri di sebelahnya ikut melihat.

Salsa juga.

Naya sedang minum.

Raka berdiri di sampingnya, tangan masuk saku jaket, wajah biasa saja.

Tidak ada yang istimewa jika dilihat sambil lalu.

Tapi justru itu masalahnya.

Tidak ada yang istimewa.

Karena mereka sudah terlalu terbiasa.

Alya berkata pelan, “Kamu mau melakukan apa dengan yang kamu tahu?”

Bima menoleh cepat.

“Hah?”

Alya tidak menatapnya.

Matanya masih ke arah Naya dan Raka.

“Kamu dari semalam menahan diri. Itu bukan kebiasaanmu.”

Bima terdiam.

Salsa menatap Alya, lalu Bima.

“Kamu benar-benar tahu sesuatu?”

Bima menatap mereka berdua.

Biasanya, kalau tertangkap, ia akan membuat drama.

Kali ini tidak.

Ia hanya berkata pelan, “Aku belum yakin harus ngomong apa.”

Alya akhirnya menoleh.

“Itu jawaban paling dewasa yang pernah kamu ucapkan.”

Bima memegang dada.

“Aku ingin tersinggung, tapi konteksnya benar.”

Salsa tersenyum kecil.

“Kalau itu tentang Raka…”

Bima langsung tegang.

Alya menatap Salsa.

Salsa tidak menyelesaikan kalimatnya.

Mereka bertiga diam.

Karena mereka sama-sama tahu, meski tidak ada yang mengucapkan nama Naya.

Di sisi lain, Naya melambai pada mereka.

“Hei! Kalian bertiga serius amat! Lagi rapat tanpa aku?”

Bima langsung berteriak, “Rapat kegagalan lomba sendok!”

Naya mengacungkan jempol.

“Bagus. Akui dari awal!”

Bima menghela napas lega.

Raka melihat Bima sebentar.

Tidak mengatakan apa-apa.

Tapi Bima merasa tatapan itu seperti bertanya.

Sore harinya, rombongan kembali ke penginapan untuk istirahat sebelum pulang.

Sebagian siswa duduk di aula.

Sebagian membereskan barang.

Sebagian membaca ulang amplop.

Raka duduk di teras kecil dekat aula, akhirnya membuka amplopnya.

Bima melihat dari dalam aula.

Ia hampir mendekat.

Tapi Alya menahan bahunya.

“Jangan.”

“Aku cuma mau—”

“Jangan.”

Bima menghela napas.

“Sulit sekali menjadi orang baik.”

“Makanya latihan.”

Di teras, Raka membaca kertas pertama.

Kesan: pendiam.
Pesan: lebih sering ngomong, suaramu tidak berbahaya.

Raka diam.

Kertas kedua:

Kesan: baik, tapi terlalu diam.
Pesan: kalau ada apa-apa, bilang. Jangan cuma bantu orang diam-diam.

Kertas ketiga:

Kesan: alim.
Pesan: tetap jadi orang baik.

Raka mengernyit sedikit.

Ia tidak tahu harus bereaksi apa terhadap kata “alim”.

Kertas berikutnya:

Kesan: petugas ketertiban alami.
Pesan: tolong tertibkan Bima selamanya.

Raka menoleh ke dalam aula.

Bima sedang mencoba duduk di atas koper.

Kopernya hampir terguling.

Raka kembali membaca.

Beberapa pesan membuatnya hampir tersenyum.

Beberapa biasa saja.

Lalu ia menemukan satu kertas dengan tulisan besar yang sangat mudah dikenali.

Kesan: pendiam, tapi kalau sudah komentar, biasanya langsung kena.

Raka diam.

Lanjutannya:

Pesan: kalau ketawa jangan selalu nyalahin efek cahaya. Semua orang juga sudah tahu.

Raka menatap kertas itu lebih lama.

Tidak ada nama.

Tapi ia tahu.

Tentu saja ia tahu.

Tulisan itu terlalu miring.

Terlalu hidup.

Terlalu Naya.

Sudut bibir Raka naik sedikit.

Ia melipat kertas itu kembali dengan lebih hati-hati dibanding kertas lain.

Sayangnya, ia tidak tahu bahwa dari dalam aula, Bima melihat senyum itu.

Alya juga.

Salsa juga.

Naya tidak.

Karena Naya sedang duduk di sisi aula, memegang amplopnya sendiri dengan wajah yang tidak biasa.

Biasanya, jika Naya membaca sesuatu yang lucu, suaranya langsung terdengar sampai setengah ruangan.

Kali ini ia diam.

Itu cukup membuat Salsa mendekat lebih dulu.

“Nay?”

Naya mengangkat wajah terlalu cepat.

“Hm?”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Apa? Iya. Aku kenapa?”

Jawaban itu terlalu banyak untuk pertanyaan sederhana.

Salsa duduk di sebelahnya.

Alya ikut menoleh dari dekat meja koper.

Bima yang tadi hampir jatuh dari koper langsung lupa pada harga dirinya dan mendekat.

Naya melihat mereka satu per satu.

“Kenapa kalian lihat aku begitu?”

Bima menyipit.

“Kamu diam.”

“Aku bisa diam.”

“Secara teori, iya,” kata Bima. “Secara sejarah, jarang.”

Alya mendekat sambil melipat tangan.

“Kamu baca sesuatu?”

“Ya namanya juga amplop kesan-pesan.”

“Yang bikin kamu diam?” tanya Salsa lembut.

Naya membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Itu lebih mencurigakan daripada jawaban apa pun.

Bima menunjuknya pelan.

“Teman-teman.”

Alya langsung berkata, “Jangan dramatis.”

Bima menurunkan tangannya sedikit.

“Tapi ini peristiwa.”

“Nggak ada peristiwa,” kata Naya cepat.

“Tadi kamu hampir tidak membalas. Itu sudah masuk arsip nasional.”

Naya mengambil salah satu kertas dari amplopnya, lalu memasukkannya lagi.

Gerakannya cepat.

Tapi tidak cukup cepat untuk membuat Salsa tidak melihat.

Salsa tersenyum kecil.

“Pesannya bagus?”

Naya memalingkan wajah.

“Lumayan.”

Bima membelalak.

“Lumayan?”

“Apa?”

“Kalau kamu benar-benar biasa saja, kamu pasti sudah bilang ‘pesannya sok bijak’ atau ‘penulisnya butuh panggung motivasi’. Tapi kamu cuma bilang lumayan.”

Naya menatap Bima.

“Aku menyesal kamu mulai berkembang.”

Alya menahan senyum.

Salsa tertawa pelan.

Bima tampak bangga.

“Jadi benar?”

Naya meraih bantal kecil dari kursi aula dan melemparkannya ke Bima.

Bima berhasil menghindar.

Itu membuat beberapa anak lain menoleh.

Naya langsung berdiri.

“Aku cari udara dulu.”

Alya melihatnya.

“Nay.”

“Aku nggak kenapa-kenapa. Sumpah. Cuma...”

Naya berhenti.

Tidak jadi menyelesaikan kalimatnya.

Lalu ia berjalan ke teras.

Bima hendak mengikuti.

Alya menarik bagian belakang jaketnya.

“Jangan.”

“Aku cuma mau memastikan—”

“Jangan.”

Salsa melihat ke arah teras.

Di luar, Raka masih duduk dengan amplop di tangan.

Naya berhenti beberapa langkah dari kursinya.

Raka mengangkat wajah.

Mereka saling melihat sebentar.

Salsa tersenyum tipis.

“Bim,” katanya pelan.

Bima menoleh.

Salsa tidak berkata apa-apa lagi.

Namun Bima paham.

Jangan.

Belum.

Dan yang paling sulit: biarkan.

Di teras, Naya berdiri sambil memegang amplopnya.

Udara sore di penginapan lebih sejuk daripada di aula. Dari halaman, suara beberapa siswa terdengar bercampur dengan roda koper, tawa, dan panggilan Bu Ratna yang menyuruh semua orang memastikan barang tidak tertinggal.

Raka melipat kertas terakhir dari amplopnya.

“Sudah baca?” tanya Naya.

“Sudah.”

“Gimana?”

“Banyak yang bilang aku pendiam.”

“Berarti akurat.”

“Banyak juga yang bilang aku harus menertibkan Bima.”

“Lebih akurat.”

Raka melihat amplop di tangan Naya.

“Kamu?”

“Banyak yang bilang aku berisik.”

“Akurasinya tinggi.”

Naya menatapnya.

“Kalau kamu mengulang validasi itu sekali lagi, aku masukkan ke laporan pelanggaran sosial.”

Raka hampir tersenyum.

Naya duduk di kursi teras sebelahnya.

Tidak terlalu dekat.

Cukup dekat untuk bicara tanpa perlu meninggikan suara.

“Ada juga yang bilang aku bikin kelas nggak tegang,” kata Naya.

Raka menatapnya.

“Itu benar.”

Naya berhenti memainkan amplopnya.

Lalu tersenyum kecil.

“Tumben langsung muji.”

“Karena benar.”

“Biasanya kamu pakai jalur tidak langsung.”

“Jalur apa?”

“Jalur inventaris. Misalnya, ‘minum’, ‘jangan berdiri di pinggir jalan’, ‘jangan kebanyakan sambal’.”

Raka diam.

Naya tertawa pelan.

“Diam berarti iya.”

“Tidak semua diam berarti iya.”

“Tapi kali ini?”

Raka tidak menjawab.

Naya menatap amplopnya lagi.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak duduk, suaranya turun sedikit.

“Ada satu pesan yang agak aneh.”

Raka menoleh.

“Aneh?”

“Iya.”

Naya membuka salah satu kertas dari amplopnya.

Raka tidak melihat isi kertas itu.

Naya juga tidak menunjukkannya.

Ia hanya membaca dalam hati sebentar, lalu menatap halaman penginapan.

“Katanya, aku bikin banyak hal terasa lebih hidup.”

Raka berhenti.

Tangannya yang memegang amplop sedikit mengeras.

Naya masih menatap kertas itu.

“Terus dia juga nulis, aku nggak harus menanggung semuanya dengan tertawa.”

Ia tertawa kecil, tapi kali ini tidak sepenuhnya lepas.

“Dan kalau capek, diam juga nggak apa-apa.”

Raka diam.

Naya memutar kertas itu di tangannya.

“Kalimatnya biasa aja. Nggak ada hiasan. Nggak ada tanda seru. Nggak ada usaha bikin aku ketawa.”

Ia tertawa kecil.

“Jadi agak kurang sopan, sebenarnya.”

Raka diam.

“Kurang sopan?”

“Iya. Masa orang nulis sesuatu yang terlalu tepat terus anonim. Kan curang.”

Raka menatap halaman.

Naya memutar kertas itu di tangannya.

“Aku malu bacanya.”

Raka menoleh.

Naya langsung mengangkat kertas itu seperti tameng kecil, wajahnya masih menghadap halaman.

“Jangan lihat.”

Raka langsung kembali melihat halaman.

“Baik.”

“Jangan nurut secepat itu juga. Aku jadi tambah malu.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.”

“Baik.”

Naya menutup wajahnya sebentar dengan kertas itu.

Dari dalam aula, Bima yang mengintip dari balik koper langsung memegang dada.

“Naya malu,” bisiknya.

Alya, yang berdiri di sebelahnya, ikut melihat.

Salsa menutup mulut.

Itu memang pemandangan langka.

Naya bisa marah.

Naya bisa tertawa sampai menangis.

Naya bisa menuduh Bima sebagai ancaman fasilitas umum.

Tapi Naya yang benar-benar malu?

Itu kejadian yang pantas dicatat.

Bima mulai membuka buku penyelidikannya.

Alya menutup buku itu dengan satu tangan.

“Jangan.”

“Aku cuma mau memberi judul.”

“Jangan.”

Di teras, Naya akhirnya menurunkan kertas dari wajahnya.

“Aku nggak tahu kenapa aku malu,” katanya.

Raka tidak langsung menjawab.

Naya melanjutkan, kali ini lebih pelan, “Mungkin karena biasanya orang bilang aku rame, lucu, berisik. Dan aku bisa jawab. Tinggal bercanda balik. Gampang.”

Ia menatap kertas itu.

“Tapi yang ini... susah dibalas.”

“Kenapa?” tanya Raka.

“Karena benar.”

Angin sore lewat pelan di antara mereka.

Dari dalam aula, suara Bima sempat terdengar karena kopernya kembali jatuh. Alya memarahinya. Salsa tertawa.

Biasanya Naya akan langsung menoleh dan memberi komentar.

Kali ini ia tetap duduk.

“Rak.”

“Hm?”

“Kamu pernah merasa begitu nggak?”

“Apa?”

“Kayak... orang keburu mengenal kamu sebagai satu hal. Terus kamu bingung kalau suatu hari kamu bukan itu.”

Raka menatapnya.

Pertanyaan itu terlalu jujur untuk dijawab dengan candaan.

Naya sepertinya menyadarinya juga, karena ia cepat-cepat mengangkat tangan.

“Maaf. Berat. Abaikan. Mungkin otakku masih efek nasi goreng penginapan.”

“Pernah,” kata Raka.

Naya menoleh lagi.

Raka melihat halaman penginapan di depan mereka.

“Aku sering dianggap diam karena tidak peduli. Atau karena tidak mau ikut. Padahal kadang cuma... tidak tahu harus masuk dari mana.”

Naya tidak langsung menjawab.

Ini salah satu momen langka ketika Raka bicara lebih dari satu kalimat tanpa dipancing Bima.

“Kalau kamu?” tanya Raka.

Naya memegang kertas itu dengan dua tangan.

“Aku kadang capek juga.”

Suaranya ringan.

Tapi tidak bercanda.

“Bukan capek karena mereka. Aku suka kok bikin orang ketawa. Aku suka kalau kelas jadi hidup. Cuma kadang kalau aku diam sedikit, orang langsung nanya aku kenapa. Jadi rasanya kayak aku nggak boleh diam.”

Raka menatapnya.

Naya tersenyum kecil.

“Lucu, ya. Kamu susah masuk karena terlalu diam. Aku susah berhenti karena terlalu berisik.”

“Tidak lucu.”

Naya berkedip.

Raka melanjutkan, “Maksudku, itu bukan hal yang harus ditertawakan.”

Naya menatapnya.

Selama beberapa detik, tidak ada suara dari mereka.

Lalu Naya menarik napas pelan.
“Kamu kalau berdua gini bahaya, ya.”

Raka menoleh.
“Kenapa?”

“Kamu jadi nggak terlalu pendiam.”

“Mungkin karena aku nyaman.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Terlalu jujur.

Naya berhenti bergerak.
Raka juga.

Baru setelah itu Raka sadar apa yang baru saja ia katakan.

Ia menunduk ke kertas di tangannya.
“Maksudku,” katanya, sedikit lebih cepat dari biasanya, “ngobrolnya. Kalau berdua. Kamu tidak terlalu ramai.”

Alis Naya naik.
“Aku tidak terlalu ramai?”

Raka diam.

Perbaikan itu jelas tidak membantu.

“Maksudku bukan begitu.”

“Terus maksudmu gimana?”

Raka membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.

Naya menunggu, dan untuk pertama kalinya malam itu, Raka terlihat seperti orang yang ingin mundur tapi tidak menemukan pintu keluar.

Akhirnya ia berkata pelan,
“Aku nyaman karena kamu bisa diam juga.”

Suara Raka tetap pelan.

Tapi kali ini tidak sedatar biasanya.

Naya tidak langsung menjawab.

Senyumnya muncul pelan-pelan. Kecil. Gugup. Tapi ada.

“Wah.”

Raka menoleh sedikit.

“Apa?”

“Kamu bisa salting juga.”

“Aku tidak salting.”

“Barusan kamu memperbaiki kalimat terus malah makin bahaya.”

“Itu bukan salting.”

“Itu definisi salting versi Raka.”

Raka melihat kertas di tangannya lagi.

“Kalau begitu definisinya salah.”

Naya tertawa kecil.

Tidak keras seperti biasanya.

Justru karena itu, Raka merasa lebih sulit menatapnya.

“Tenang,” kata Naya. “Bukan keluhan.”

Raka diam.

Naya menatap kertas di tangannya lagi, tapi senyum kecilnya belum benar-benar hilang.

“Siapa pun yang nulis ini,” katanya pelan, “dia terlalu memperhatikan.”

Raka tidak menjawab.

Karena tidak ada jawaban aman.

Naya menoleh padanya.

Matanya menyipit sedikit.

“Menurutmu, orang yang nulis pesan anonim kayak gini biasanya niat nggak?”

Raka berhenti sebentar.

“Tergantung pesannya.”

“Kalau pesannya terlalu sok tahu?”

“Mungkin dia memperhatikan.”

Naya menatapnya.

“Jawabanmu mencurigakan.”

Raka melihat halaman.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak tanya isi lengkapnya.”

Raka diam.

Naya menunjuknya dengan kertas.

“Nah. Diam lagi.”

“Tidak semua diam berarti iya.”

“Tapi kali ini?”

Raka tidak menjawab.

Naya tersenyum kecil.

Ada rasa gugup di senyum itu.

Itu juga aneh.

Naya jarang gugup.

Atau mungkin ia sering, tapi biasanya menutupinya dengan suara lebih keras.

“Kalau aku menebak penulisnya,” kata Naya, “terus tebakanku benar, orangnya harus ngaku nggak?”

Raka menatapnya.

“Tidak harus.”

“Kenapa?”

“Mungkin belum siap.”

Naya mengangguk pelan.

“Kalau orang yang baca pesannya juga belum siap?”

Raka tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Tidak berat seperti drama.

Tidak ringan seperti candaan.

Lebih seperti pintu yang dibuka sedikit, lalu keduanya sama-sama ragu apakah boleh masuk.

Dari dalam aula, suara Bima tiba-tiba terdengar terlalu keras.

“ALYA! KOPERKU MAKAN SANDAL!”

Naya otomatis menoleh.

Raka juga.

Di dalam aula, Bima sedang menarik sandal dari celah resleting koper yang entah bagaimana bisa terjepit di sana.

Alya berdiri di depannya dengan wajah lelah.

Salsa tertawa sampai memegang kursi.

Naya menutup mata sebentar.

“Circle kita memang tidak mendukung suasana serius.”

Raka berkata pelan, “Mungkin itu fungsinya.”

“Apa?”

“Biar tidak terlalu berat.”

Naya menatapnya lagi.

Lalu tersenyum.

Kali ini lebih ringan.

“Kalau aku capek, diam saja, ya?”

Raka menatapnya.

“Ya.”

“Nanti kamu yang ngomong?”

Raka berpikir sebentar.

“Sedikit.”

“Wow. Kesepakatan besar.”

“Jangan terlalu berharap.”

“Aku berharap secukupnya.”

Raka hampir tersenyum.

Hampir.

Naya menunjuknya.

“Jangan salahkan efek cahaya. Kita di tempat teduh.”

Raka akhirnya benar-benar tersenyum kecil.

“Baik.”

Naya diam.

Karena kali ini, entah kenapa, ia lupa meledek.

Beberapa detik kemudian, Bu Ratna memanggil semua siswa untuk bersiap pulang.

Momen itu selesai.

Seperti banyak momen lain.

Tidak diberi nama.

Tidak diumumkan.

Tidak berubah menjadi adegan besar.

Namun saat Naya berdiri, ia memasukkan satu kertas itu ke saku kecil tasnya, bukan ke amplop bersama kertas-kertas lain.

Raka melihat.

Tidak mengatakan apa-apa.

Naya sadar Raka melihat.

Kali ini ia yang cepat-cepat menoleh ke arah lain.

Dari dalam aula, Bima melihat semuanya.

Ia membuka mulut.

Alya langsung berkata, “Jangan.”

Bima menutup mulut.

Lalu berbisik pada Salsa, “Naya malu.”

Salsa tersenyum.

“Iya.”

“Ini langka.”

“Sangat.”

“Aku harus melakukan sesuatu?”

“Jangan.”

Bima menghela napas.

“Semua perkembangan karakterku selalu berupa tidak melakukan sesuatu.”

“Itu justru perkembangan besarnya,” kata Alya.

Perjalanan pulang dengan bus dipenuhi kelelahan.

Siswa-siswa yang berangkat dengan energi penuh kini pulang dalam berbagai posisi tidur yang tidak manusiawi.

Bima tidur dengan kepala menempel di jendela dan mulut sedikit terbuka.

Alya masih sempat mengecek daftar siswa sebelum akhirnya tertidur.

Salsa mendengarkan musik dengan mata setengah tertutup.

Naya duduk di kursi dekat jendela, tidak banyak bicara.

Raka duduk di kursi seberang lorong, beberapa baris di belakang.

Ia melihat Naya beberapa kali.

Tidak lama.

Hanya memastikan.

Naya menyandarkan kepala ke jendela.

Matanya terbuka, melihat jalan yang bergerak.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak merasa harus mengisi perjalanan dengan komentar.

Dan anehnya, itu tidak terasa salah.

Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar.

Pesan dari Raka.

Raka: Capek?

Naya menatap pesan itu.

Lalu menoleh sedikit ke belakang.

Raka sedang melihat ponselnya.

Naya mengetik.

Naya: Sedikit.

Raka: Tidur saja.

Naya: Kalau aku tidur, Bima bisa foto.

Raka: Dia sudah tidur.

Naya menoleh ke arah Bima.

Benar.

Bima tidur dalam posisi yang akan sangat mudah difoto balik.

Naya tersenyum.

Naya: Kesempatan emas.

Raka: Jangan. Nanti dia balas.

Naya: Kamu benar. Aku sedang lemah.

Raka: Tidur.

Naya menatap pesan itu.

Lalu membalas:

Naya: Kamu kalau nyuruh tidur kayak ayah grup.

Raka tidak membalas selama hampir satu menit.

Lalu:

Raka: Bima pernah bilang begitu.

Naya menutup mulut, menahan tawa.

Ia melihat ke belakang lagi.

Raka menatapnya dari seberang lorong.

Tidak lama.

Hanya sebentar.

Lalu Naya mengirim pesan terakhir.

Naya: Baik, Pak Ayah Grup.

Raka: Jangan.

Naya tersenyum.

Kemudian ia benar-benar memejamkan mata.

Di seberang lorong, Raka menyimpan ponselnya.

Di kursi dekat depan, Salsa yang belum sepenuhnya tidur melihat pantulan mereka di kaca bus.

Di kursi sebelahnya, Alya juga membuka mata sebentar.

Mereka tidak bicara.

Tidak perlu.

Sementara itu, Bima tidur tanpa tahu bahwa kasus yang ia tahan-tahan sejak semalam sedang bergerak sendiri tanpa perlu ia dorong.

Ketika bus akhirnya sampai di sekolah sore hari, semua orang turun dengan wajah kusut.

Orang tua dan jemputan sudah menunggu di depan gerbang.

Siswa-siswa mengambil koper dan tas masing-masing.

Bima bangun dalam kondisi bingung.

“Sudah sampai?”

Naya menatapnya.

“Kamu tidur seperti orang pingsan administratif.”

“Apa itu pingsan administratif?”

“Tidak tahu. Tapi cocok.”

Alya menghitung jumlah siswa sekali lagi.

Salsa membantu mengambil tas kecil yang tertinggal.

Raka menurunkan koper dari bagasi.

Ketika koper Naya keluar, Raka mengambilnya dan meletakkannya di dekatnya.

Naya menoleh.

“Makasih.”

“Ya.”

Bima melihat.

Ia baru bangun, tapi insting detektifnya ternyata tetap bekerja.

“Rak.”

Raka menoleh.

“Kamu kenapa selalu—”

Alya langsung menyikut pelan lengan Bima.

Bima berhenti.

Naya menatap mereka.

“Selalu apa?”

Bima memegang lengannya.

“Selalu... sigap.”

Naya mengangguk.

“Iya. Dia memang begitu. Petugas ketertiban.”

Raka mengangkat koper lain.

“Ini punya siapa?”

Salsa menunjuk.

“Itu punyaku.”

Raka meletakkannya di dekat Salsa.

Bima menunjuk cepat.

“Lihat! Ke semua orang.”

Alya menatapnya.

“Bima, kamu ngomong apa?”

“Tidak ada. Aku sedang menyeimbangkan data.”

Naya mengerutkan kening.

“Kamu makin aneh.”

“Aku berkembang.”

“Ke arah mana?”

“Belum tahu.”

Mereka berpisah di gerbang sekolah.

Alya pulang dengan orang tuanya.

Salsa dijemput kakaknya.

Bima naik angkot sambil masih membawa amplopnya di saku.

Naya menunggu sepupunya.

Raka berjalan ke arah masjid dekat sekolah karena azan magrib mulai terdengar.

Sebelum pergi, ia berhenti sebentar.

“Naya.”

Naya menoleh.

“Hm?”

“Jangan berdiri di pinggir jalan.”

Naya tersenyum.

“Aku tahu.”

“Di warung.”

“Iya, Pak Ayah Grup.”

Raka menatapnya.

“Jangan pakai itu.”

“Masih percobaan.”

“Gagal.”

Naya tertawa.

Raka berjalan pergi.

Naya melihatnya sebentar.

Lalu berjalan ke warung.

Setelah beberapa langkah, ia berhenti.

Membuka tas.

Mengambil kertas kecil dari saku depan.

Ia membaca lagi kalimat yang sejak tadi membuatnya tidak bisa sepenuhnya kembali seperti biasa.

Tidak semua hal harus kamu tanggung dengan tertawa.

Kalau capek, diam juga tidak apa-apa.

Naya melipat kertas itu lagi.

Lebih rapi daripada sebelumnya.

Lalu ia melihat ke arah Raka yang sudah berjalan menuju masjid.

Punggungnya tenang.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Seperti biasa.

Tapi untuk pertama kalinya, Naya merasa kata “seperti biasa” tidak cukup menjelaskan apa yang ia rasakan saat melihatnya.

Dari dalam angkot yang belum jalan, Bima melihat semuanya lewat jendela.

Ia membuka buku penyelidikannya.

Halaman itu masih sama.

SIAPA YANG SEBENARNYA RAKA PERHATIKAN?

Kali ini, ia tidak ragu.

Ia menulis nama.

Naya.

Lalu di bawahnya, setelah berpikir cukup lama, ia menambahkan:

Masalah: Naya mungkin mulai sadar.

Bima menatap kalimat itu.

Lalu menulis lagi:

Masalah tambahan: kalau Naya mulai sadar sebelum Raka siap bicara, satu circle bisa berubah jadi ruang sidang beneran.

Bima menatap kalimat itu.

Lalu menambahkan satu baris lagi:

Terutama kalau aku ikut campur.

Angkot mulai bergerak.

Bima menutup buku.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kasus ini bukan sekadar untuk dipecahkan.

Kasus ini harus dijaga agar tidak meledak terlalu cepat.

Sayangnya, Bima adalah Bima.

Dan tidak ikut campur bukanlah keahliannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar