Senin, 15 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 6 / 20

Chapter 6

Semua Orang Mulai Nyaman

Keesokan harinya, Alya datang ke kelas dengan satu tekad sederhana.

Apa pun yang terjadi, ia tidak akan panik.

Tidak karena proposal.

Tidak karena anggaran.

Tidak karena poster.

Tidak karena logo ayam berwig hakim yang entah bagaimana mulai mendapat dukungan dari beberapa anggota kelas.

Dan terutama, tidak karena Bima.

Tekad itu bertahan selama sembilan menit.

Sampai Bima masuk kelas sambil membawa sesuatu yang dibungkus plastik hitam.

Alya langsung menatapnya.

“Bima.”

Bima berhenti di ambang pintu.

“Iya?”

“Itu apa?”

“Properti.”

“Properti apa?”

“Palu versi aman.”

Seluruh siswa yang sudah datang ke kelas otomatis menoleh.

Naya, yang sedang duduk di meja depan sambil mengunyah roti, langsung berhenti mengunyah.

Salsa menurunkan ponselnya.

Raka yang baru membuka buku juga ikut melihat.

Alya menatap bungkusan plastik hitam di tangan Bima.

“Kenapa dibungkus seperti barang bukti?”

“Biar dramatis.”

“Buka.”

“Di sini?”

“Sekarang.”

Bima berjalan ke tengah kelas dengan langkah pelan, seolah akan membuka peninggalan sejarah.

Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja tim inti.

Lalu membuka plastiknya.

Satu kelas menunggu.

Naya bahkan berdiri sedikit dari kursinya.

Dari dalam plastik, Bima mengeluarkan sebuah benda.

Bentuknya seperti palu hakim.

Atau setidaknya, niatnya begitu.

Gagangnya terbuat dari bekas gulungan kertas tebal yang dilakban sampai kaku. Kepalanya terbuat dari dua potong kardus yang digulung dan ditempel begitu banyak lakban sampai tampak seperti benda yang baru selamat dari perang.

Warnanya cokelat, hitam, dan bening.

Secara fungsi, mungkin aman.

Secara estetika, menyedihkan.

Hening.

Lalu Naya bertepuk tangan pelan.

“Wah.”

Bima mengangkat dagu.

“Terima kasih.”

“Aku belum muji.”

“Tapi auranya menuju ke sana.”

Salsa menahan tawa.

Alya menatap palu itu dengan ekspresi sulit.

“Ini kamu buat sendiri?”

“Iya.”

“Dengan apa?”

“Tekad.”

“Dan lakban berlebihan,” kata Raka.

Bima menunjuknya cepat.

“Jangan menghina fondasi peradaban sekolah.”

“Lakbannya hampir lebih banyak daripada kardusnya.”

“Itu namanya struktur.”

Naya mengambil palu itu, mengangkatnya, lalu mengetuk meja pelan.

Tok.

Suaranya kecil.

Tidak berwibawa.

Lebih mirip suara pintu lemari yang malu-malu.

Bima langsung membeku.

Naya mengetuk lagi.

Tok.

Lalu menatap Bima dengan wajah prihatin.

“Bim.”

“Jangan.”

“Ini bukan palu hakim.”

“Jangan lanjutkan.”

“Ini palu yang minta maaf sebelum mukul.”

Satu kelas tertawa.

Bima memegang dada.

“Kalian tidak menghargai karya anak bangsa.”

Alya mengambil palu itu dari tangan Naya dan memeriksanya.

Aneh.

Jelek.

Tapi aman.

Tidak akan merusak meja.

Tidak akan membuat guru piket panik.

Tidak akan membuat Bima dipanggil ke ruang BK.

Untuk standar properti buatan Bima, ini termasuk kemajuan besar.

“Bisa dipakai,” kata Alya akhirnya.

Bima langsung tegak.

“Serius?”

“Tapi harus dirapikan.”

“Berarti diterima?”

“Diterima sementara.”

Bima mengangkat kedua tangan.

“Mahkamah menerima simbol keadilan!”

Naya berseru, “Keberatan! Simbol keadilan masih perlu skincare.”

Salsa tertawa.

Raka menatap palu itu sebentar, lalu mengambil spidol hitam.

“Boleh?”

Bima memicingkan mata.

“Kamu mau apa?”

“Rapiin garisnya.”

“Kamu tidak akan mengubah identitasnya?”

“Identitasnya apa?”

Bima melihat palu itu.

Diam.

Lalu berkata, “Perjuangan.”

Raka tidak menjawab.

Ia hanya mulai merapikan bagian pinggir palu dengan spidol hitam, menutupi bekas lakban yang terlalu berantakan.

Alya memperhatikan beberapa detik.

Naya juga.

Tangan Raka bergerak tenang.

Tidak cepat, tapi rapi.

Benda yang tadinya terlihat seperti korban bencana pelan-pelan mulai tampak seperti properti yang sengaja dibuat.

Tidak bagus-bagus amat.

Tapi cukup.

Bima menatap dengan mata berbinar.

“Rak.”

“Hm?”

“Kamu menyelamatkan harga diriku.”

“Palu ini belum tentu menyelamatkan stand.”

“Tapi harga diriku dulu.”

Alya memijat pelipis.

Namun kali ini, ia tidak benar-benar kesal.

Setelah pelajaran pertama selesai, poster Salsa mulai menyebar.

Awalnya hanya di grup kelas.

Lalu di story beberapa anak.

Lalu diunggah ulang oleh anak kelas lain.

Poster pertama menampilkan ilustrasi siluet siswa memegang pulpen, dengan tulisan besar:

DICARI!
Pelaku Penghilang Pulpen Pinjaman

Di bawahnya ada kalimat:

Segera datang ke Ruang Sidang Anak Sekolah XI IPA 2.
Pengadilan paling tidak penting, tapi paling dekat dengan kehidupanmu.

Tidak sampai satu jam, beberapa anak dari kelas lain mulai bertanya.

“Eh, ini beneran stand kalian?”

“Kalau pengunjung disidang beneran?”

“Kasusnya bisa request?”

“Kalau yang hilang perasaan, bisa disidang juga?”

Pertanyaan terakhir datang dari Dito, yang entah kenapa selalu muncul saat pembahasan mulai tidak penting.

Naya langsung menjawab, “Kalau perasaanmu hilang, itu bukan kasus. Itu evaluasi diri.”

Dito memegang dada.

“Aku cuma nanya.”

“Pertanyaanmu punya luka batin.”

Bima berdiri di samping Naya sambil membawa palu kardus yang sudah dirapikan.

“Sebagai jaksa, saya siap memproses kasus kehilangan perasaan.”

Alya menoleh cepat.

“Tidak ada kasus itu.”

“Tapi pasarnya ada.”

“Bima.”

“Baik.”

Salsa duduk di meja tim inti sambil membuka ponsel.

Ia terlihat senang.

Bukan senang yang heboh.

Lebih seperti lega karena sesuatu yang ia buat benar-benar dihargai.

“Poster kedua aku unggah nanti sore,” katanya. “Kasus charger hilang.”

Naya langsung mengangguk antusias.

“Bagus. Besok gorengan.”

Bima mengangkat palu.

“Gorengan adalah kasus berat.”

“Palu turunkan,” kata Alya.

Bima menurunkan palu.

Raka duduk di sisi meja, menulis sesuatu di buku catatan.

Alya melirik.

“Kamu tulis apa?”

“Pertanyaan yang sering muncul.”

“Untuk apa?”

“Biar nanti alurnya jelas. Kalau banyak yang tanya request kasus, kita perlu batasan.”

Alya menatap catatan itu.

Di sana tertulis beberapa poin:

  • Apakah pengunjung boleh pilih kasus?

  • Apakah boleh datang berkelompok?

  • Durasi tiap sidang maksimal berapa menit?

  • Hukuman lucu harus aman dan sukarela.

  • Perlu antrean saat ramai.

  • Perlu orang yang menjelaskan aturan di depan stand.

Alya terdiam.

Lagi-lagi, Raka sudah memikirkan hal yang belum sempat ia pikirkan.

“Makasih,” katanya.

Raka mengangguk.

“Biar nanti nggak kacau.”

Bima menoleh.

“Rak, aku hargai usahamu. Tapi stand ini secara konsep memang mengandung kekacauan.”

“Makanya perlu batas.”

“Batas itu musuh seni.”

“Batas itu alasan seni tidak dilaporkan guru.”

Naya menunjuk Raka dengan roti di tangannya.

“Kalimat itu masuk poster.”

“Jangan.”

“Masuk prinsip hidup.”

“Jangan juga.”

Salsa tertawa sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

Alya melihat mereka satu per satu.

Bima dengan palu kardusnya.

Naya dengan roti dan daftar kasus absurdnya.

Salsa dengan poster yang mulai menarik perhatian sekolah.

Raka dengan daftar teknis yang selalu muncul sebelum masalah terjadi.

Mereka masih kacau.

Tapi tidak sepenuhnya tidak berguna.

Itu perkembangan yang cukup besar.

Saat istirahat kedua, mereka mencoba simulasi sidang pertama.

Tempatnya di kelas.

Terdakwanya: Dito.

Bukan karena Dito dipilih.

Tapi karena ia sendiri yang menawarkan diri dengan kalimat, “Gue mau coba dulu, tapi jangan yang memalukan.”

Kalimat itu jelas tidak dipahami oleh Bima.

Bima langsung berdiri di depan kelas dengan palu kardus di tangan.

“Sidang perkara nomor satu dibuka!”

Alya duduk di kursi hakim karena semua orang sepakat ia paling cocok terlihat mengintimidasi tanpa perlu berusaha.

Naya menjadi pembela.

Salsa menjadi saksi.

Raka berdiri di samping papan tulis, memegang catatan alur dan stopwatch dari ponselnya.

Dito duduk di kursi terdakwa dengan ekspresi mulai menyesal.

Beberapa anak berkumpul menonton.

Bima mengambil kartu kasus pertama, lalu membacanya dengan suara lantang.

“Terdakwa Dito didakwa atas kasus berat: membaca chat grup, tidak membalas, tetapi muncul pertama saat ada info makanan gratis.”

Kelas langsung ribut.

“Itu benar!”

“Saksi hidup!”

“Gue pernah lihat!”

Dito panik.

“Lah, kok kasusnya pas banget?”

Naya berdiri sebagai pembela.

“Yang Mulia, klien saya tidak bersalah. Ia hanya memiliki prioritas hidup yang jelas.”

Bima menunjuk Naya.

“Prioritas itu makanan?”

“Bukankah makanan adalah hak dasar manusia?”

Beberapa anak bertepuk tangan.

Alya mengetuk meja dengan palu kardus.

Tok.

Suaranya masih kecil.

Alya menatap palu itu.

Bima langsung berbisik, “Nanti aku perbaiki suaranya.”

“Jangan bawa palu sungguhan lagi.”

“Belum tentu solusinya itu.”

“Bima.”

“Baik.”

Salsa berdiri sebagai saksi.

“Saya pernah melihat Dito membaca chat grup tugas selama lima menit, lalu tidak membalas apa pun.”

Dito menunjuk Salsa.

“Loh, Sal, kamu lihat?”

Salsa tersenyum.

“Iya.”

“Kenapa nggak negur?”

“Aku menunggu hati nuranimu bekerja.”

Kelas tertawa.

Dito menunduk.

“Hati nuraniku buffering.”

Naya langsung menunjuk Dito.

“Yang Mulia, klien saya mengaku memiliki masalah jaringan moral.”

“Keberatan!” seru Bima. “Itu bukan istilah hukum.”

“Ini Mahkamah Receh, semua istilah bisa diterima.”

Raka melihat stopwatch.

“Sudah dua menit.”

Alya langsung sadar.

“Sidang jangan terlalu panjang. Keputusan.”

Bima mengangkat palu.

“Sebentar. Aku belum menyampaikan dakwaan penutup.”

“Tidak ada dakwaan penutup,” kata Alya.

“Aku sudah menyiapkan.”

“Potong.”

Bima terlihat seperti orang yang baru dilarang bernapas.

Alya menatap Dito.

“Dengan ini, terdakwa dinyatakan bersalah secara sosial.”

Kelas bersorak.

“Hukumannya,” lanjut Alya, membaca daftar hukuman yang sudah mereka siapkan, “terdakwa harus membaca kalimat permintaan maaf kepada grup kelas dengan nada pembawa berita.”

Dito berdiri.

Mengambil kertas hukuman.

Lalu membaca dengan suara dibuat-buat serius.

“Selamat siang, pemirsa. Saya, Dito, menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh anggota grup kelas karena telah membaca chat tanpa membalas. Ke depan, saya berjanji akan minimal mengirim stiker jempol sebagai bentuk kontribusi.”

Kelas meledak tertawa.

Bahkan beberapa anak yang tadi hanya lewat ikut berhenti di depan kelas.

Naya tertawa sambil menepuk meja.

Salsa menutup mulut, bahunya bergetar.

Bima mengangkat palu kardus tinggi-tinggi seperti baru memenangkan perkara besar.

Alya mencoba tetap serius, tapi gagal sepenuhnya.

Raka menunduk melihat stopwatch.

Sudut bibirnya naik.

Kali ini lebih jelas.

Naya yang masih tertawa sempat melihatnya.

“Raka!”

Raka langsung mengangkat wajah.

“Apa?”

“Kamu ketawa.”

“Nggak.”

“Kali ini jelas.”

“Aku cuma melihat waktunya.”

“Stopwatch lucu, ya?”

Raka menatap ponselnya.

Lalu berkata datar, “Dua menit empat puluh detik.”

Naya menyipitkan mata.

“Itu pengalihan.”

“Data.”

Bima menunjuk Raka.

“Data tidak bisa menyembunyikan perasaan.”

Alya langsung menatap Bima.

“Jangan mulai sidang baru.”

“Aku hanya menyampaikan kemungkinan.”

Dito yang baru selesai dihukum duduk lagi sambil berkata, “Aneh, tapi seru.”

Kalimat itu membuat meja tim inti hening sesaat.

Karena dari semua komentar yang bisa muncul, itu yang paling mereka butuhkan.

Aneh.

Tapi seru.

Alya menulis cepat di bukunya.

Simulasi berhasil. Durasi perlu dipersingkat. Hukuman aman. Penonton tertawa.

Salsa langsung membuka ponsel.

“Aku bisa pakai video pendek simulasi ini buat teaser, tapi muka Dito jangan kelihatan jelas kalau dia nggak mau.”

Dito langsung berkata, “Kalau muka gue kelihatan, harus ganteng.”

Naya mengangguk serius.

“Berarti jangan kelihatan.”

Dito tersinggung.

Bima menepuk bahunya.

“Tenang. Di mata hukum, semua terdakwa sama.”

“Entah kenapa itu tidak menghibur.”

Raka melihat kerumunan kecil di depan kelas.

“Kalau saat festival ramai seperti ini, kita butuh pembatas antrean.”

Alya mengangguk.

“Tali rafia?”

“Bisa. Atau pita bekas yang kemarin.”

“Nanti aku cek lagi.”

“Aku bisa cek.”

Alya menoleh.

Raka sudah menulis di catatannya.

“Aku sekalian lihat kursi yang bisa dipinjam.”

Alya menahan diri untuk tidak langsung berkata, “Nanti aku ikut.”

Karena ia sadar, ia tidak harus ikut semua hal.

Jadi ia hanya berkata, “Oke.”

Naya langsung menatapnya.

Alya menatap balik.

“Apa?”

“Nggak. Aku bangga.”

“Jangan.”

“Bu Ketua sedang belajar melepas beban.”

“Aku bisa menarik kembali izinnya.”

“Baik, saya diam.”

Bima berbisik kepada Salsa, “Perkembangan karakter.”

Salsa tersenyum. “Lumayan cepat.”

Setelah simulasi itu, suasana kelas berubah.

Ruang Sidang Anak Sekolah tidak lagi terdengar seperti ide absurd yang cuma lucu di kepala Naya.

Sekarang mereka sudah melihat bentuknya.

Mereka sudah mendengar tawa penonton.

Mereka sudah tahu bagian mana yang harus diperbaiki.

Dan yang paling penting, anak-anak kelas lain mulai penasaran.

Saat pulang sekolah, beberapa siswa dari IPS 1 muncul di depan kelas.

“Eh, katanya di sini ada sidang?”

Bima langsung berdiri.

Alya menarik kerah seragamnya dari belakang.

“Belum buka.”

Bima menoleh.

“Tapi pengadilan tidak boleh menolak rakyat.”

“Pengadilan kita belum punya proposal disetujui.”

“Birokrasi memang menghambat keadilan.”

Naya muncul di samping pintu.

“Datang pas festival. Nanti kalian bisa disidang resmi.”

Salah satu anak IPS 1 menunjuk Bima.

“Dia jaksa?”

Bima langsung menegakkan badan.

“Calon jaksa utama.”

Alya berkata, “Belum diputuskan.”

“Sudah takdir,” kata Bima.

Raka yang sedang membereskan catatan berkata pelan, “Takdir juga bisa direvisi.”

Naya langsung tertawa.

Bima menunjuk Raka dengan wajah kecewa.

“Kamu makin sering menyerangku.”

“Fakta makin sering muncul.”

Anak-anak IPS 1 tertawa sebelum akhirnya pergi.

Alya menghela napas.

“Kalau promosi terlalu cepat, nanti ekspektasi orang tinggi.”

“Bagus dong,” kata Naya.

“Bagus kalau kita siap.”

“Kita akan siap.”

Alya menatapnya.

Naya tersenyum lebar.

Terlalu percaya diri.

Tapi anehnya, tidak sepenuhnya kosong.

Di belakang senyum itu, ada keyakinan yang membuat orang lain ingin sedikit ikut percaya.

Alya mengalihkan pandangan ke Raka.

“Menurutmu?”

Raka menutup bukunya.

“Bisa siap. Kalau Bima tidak improvisasi terlalu jauh.”

“Kenapa syaratnya aku?” protes Bima.

“Karena faktor risiko utama.”

Salsa menahan tawa.

Bima menatap mereka semua.

“Aku merasa tidak dihargai.”

“Kamu dihargai,” kata Naya.

“Sebagai?”

“Ancaman yang harus dikelola.”

“Terima kasih. Itu hampir pujian.”

Sore itu, mereka tidak langsung pulang.

Tanpa disuruh, mereka tetap tinggal di kelas.

Salsa merevisi poster kedua.

Naya dan Bima memperbaiki daftar kasus setelah simulasi.

Alya menyusun catatan evaluasi.

Raka mengecek barang properti dan menempel ulang bagian palu kardus yang mulai lepas.

Pekerjaan mereka belum selesai.

Tapi untuk pertama kalinya, tidak ada yang benar-benar mengeluh ingin pulang.

Bima tetap mengeluh, tentu saja.

Namun ia mengeluh sambil menulis daftar dakwaan.

Itu sudah dihitung bekerja.

Sekitar setengah jam kemudian, azan Asar terdengar dari masjid dekat sekolah.

Raka yang sedang memotong lakban berhenti.

Ia merapikan gunting, menutup spidol, lalu berdiri.

“Aku ke masjid dulu.”

Naya mengangkat wajah.

“Oh, iya. Hati-hati.”

Bima langsung menoleh.

“Rak, kamu kalau dengar azan responsnya cepat banget.”

Raka menyampirkan tas kecil berisi sajadah tipis ke bahu.

“Memang waktunya.”

“Kalau dengar bel matematika, bisa respons cepat juga nggak?”

“Tidak.”

Naya tertawa.

Alya menatap daftar barang.

“Setelah itu balik lagi?”

“Iya. Ada lakban yang belum selesai.”

Bima menunjuk lakban di meja.

“Dia kembali demi lakban. Dedikasi yang mengharukan.”

Raka tidak menanggapi.

Ia berjalan keluar kelas.

Beberapa detik setelah ia pergi, Naya mengambil palu kardus yang tadi sedang diperbaiki Raka.

Bagian pinggirnya sudah lebih rapi.

Lakbannya tidak lagi berantakan.

Spidol hitam menutupi sisi-sisi yang sebelumnya terlihat asal.

Naya memutar palu itu di tangan.

“Dia rapi juga, ya.”

Alya menulis tanpa mengangkat wajah.

“Raka memang teliti.”

Salsa menatap pintu tempat Raka tadi keluar.

“Dan lumayan perhatian.”

Naya mengangguk.

“Iya. Ke barang.”

Salsa tersenyum kecil.

“Ke orang juga.”

Naya menoleh.

“Hm?”

Salsa hanya tersenyum dan kembali ke poster.

Naya mengerutkan kening sebentar.

Lalu mengangkat bahu.

“Memang dia baik.”

Bima yang sejak tadi mendengar langsung menunjuk Naya.

“Nah, itu masalahnya.”

“Apa?”

“Kalau orang terlalu baik, susah dibedain mana baik umum, mana baik khusus.”

Alya berhenti menulis.

Salsa menahan senyum.

Naya menatap Bima.

“Kamu ngomong kayak orang yang paham.”

“Aku memang paham.”

“Kamu?”

“Aku banyak mengamati kehidupan.”

“Kamu kemarin bawa palu ke sekolah.”

“Itu juga bagian dari kehidupan.”

Alya memutuskan untuk tidak membiarkan pembicaraan berkembang terlalu jauh.

“Fokus. Kita masih harus finalkan daftar kasus.”

Bima kembali menulis, tapi masih bergumam, “Catat ucapanku. Suatu hari teori ini akan terbukti.”

Naya tidak menanggapi.

Ia hanya meletakkan palu kardus kembali ke meja.

Beberapa menit kemudian, Raka kembali.

Tanpa banyak bicara, ia duduk lagi dan melanjutkan memperbaiki palu.

Naya menyodorkan potongan lakban yang sudah ia siapkan.

“Ini.”

Raka menatap lakban itu.

Lalu menerimanya.

“Makasih.”

“Biar cepat. Katanya kamu kembali demi lakban.”

“Itu kata Bima.”

“Tapi benar?”

Raka melihat palu kardus di tangannya.

“Sebagian.”

“Sebagian lagi?”

Raka diam sebentar.

“Barangnya belum selesai.”

Naya mengangguk.

Jawaban itu terdengar sangat Raka.

Praktis.

Datar.

Tidak mencurigakan.

Jadi Naya tidak memikirkannya lagi.

Salsa yang melihat dari seberang meja hanya tersenyum tipis.

Alya juga melihat, tapi ia lebih sibuk memastikan daftar kasus tidak mengandung hal yang bisa membuat mereka dimarahi guru.

Bima melihat.

Tentu saja.

Namun Bima melihat sambil menyipitkan mata terlalu dramatis, sehingga tidak ada yang menganggapnya serius.

Menjelang sore, mereka akhirnya punya hasil.

Poster kedua siap.

Daftar kasus sementara selesai.

Palu kardus sudah layak dipakai.

Alur teknis sudah diperbarui.

Proposal hampir final.

Alya menatap semua itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.

Kemarin, ini semua terasa seperti beban.

Hari ini, masih beban.

Tapi bebannya punya suara tawa.

Itu sedikit membantu.

Naya berdiri sambil meregangkan tangan.

“Menurutku, kita perlu foto dokumentasi.”

“Untuk apa?” tanya Alya.

“Bukti bahwa kita pernah produktif.”

Bima langsung berdiri sambil membawa palu.

“Aku setuju.”

Salsa mengangkat ponselnya.

“Ayo. Sekalian buat arsip promosi.”

Raka mulai berdiri menjauh.

Naya langsung menunjuknya.

“Raka, jangan kabur.”

“Aku tidak kabur.”

“Kamu bergerak menjauh dari kamera.”

“Itu definisi kabur secara visual,” kata Bima.

Raka berhenti.

Alya menahan senyum.

“Sekali saja. Buat dokumentasi.”

Raka melihat mereka.

Lalu menghela napas kecil.

“Baik.”

Mereka berdiri di depan papan tulis.

Di belakang mereka tertempel tulisan:

RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH

Dan kertas kecil yang masih sedikit miring:

LUCU, TAPI NGGAK JAHAT

Bima berdiri paling depan memegang palu kardus.

Naya berdiri di sampingnya, sengaja menunjuk palu itu seperti presenter iklan.

Salsa memegang poster.

Alya memegang buku catatan.

Raka berdiri sedikit di belakang, tapi masih masuk kamera.

Salsa mengatur timer ponsel di meja.

“Tiga…”

“Dua…”

“Satu…”

Foto terambil.

Hasilnya langsung mereka lihat bersama.

Bima terlihat terlalu bangga.

Naya tertawa.

Salsa tersenyum manis.

Alya terlihat seperti ketua kelas yang belum sepenuhnya menerima nasib.

Raka tampak diam seperti biasa.

Namun kalau diperhatikan baik-baik, sudut bibirnya sedikit naik.

Naya menunjuk layar.

“Tuh! Ketahuan senyum!”

Raka melihat foto itu.

“Tidak.”

“Itu senyum.”

“Itu efek cahaya.”

“Cahaya dari mana? Jendela aja di samping.”

“Pantulan.”

Bima menatapnya serius.

“Raka, berhentilah menyalahkan fenomena alam.”

Salsa tertawa.

Alya mengirim foto itu ke grup.

Tidak sampai satu menit, beberapa anggota kelas lain membalas.

Dito: Tim hukum receh.

Mira: Bima kenapa kayak mau mukul meja orang?

Fajar: Itu Raka senyum?

Naya: NAH KAN.

Raka: Efek cahaya.

Bima: Fenomena alam kembali dijadikan kambing hitam.

Alya membaca balasan itu sambil menggeleng.

Namun ia menyimpan foto tersebut.

Bukan karena sentimental.

Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Malamnya, poster kedua Salsa diunggah.

Kasus charger hilang.

Responsnya lebih ramai daripada poster pertama.

Beberapa siswa dari kelas lain mulai menandai teman mereka.

Komentar-komentar bermunculan.

“Ini gue banget.”

“Yang minjam charger gue tolong sadar.”

“Stand XI IPA 2 kayaknya seru.”

“Gue mau disidang.”

Dalam waktu satu hari, sesuatu yang awalnya cuma ide absurd di papan tulis mulai berubah menjadi pembicaraan kecil di angkatan mereka.

Belum besar.

Belum legenda.

Tapi mulai bergerak.

Di grup Mahkamah Receh, notifikasi kembali ramai.

Salsa: Poster kedua sudah naik.

Naya: KEREN. Besok gorengan.

Bima: Kasus gorengan harus mendapat perlakuan khusus.

Alya: Jangan terlalu banyak poster. Jadwal unggah harus diatur.

Raka: Dua hari sekali mungkin cukup. Biar tidak cepat habis.

Salsa: Setuju.

Naya: Wah, Raka sudah jadi konsultan promosi.

Raka: Tidak.

Bima: Semua orang di grup ini punya jabatan kecuali aku yang belum diresmikan sebagai jaksa.

Alya: Karena memang belum.

Bima: Tirani.

Naya: Sabar, calon terdakwa.

Bima: Aku jaksa.

Raka: Bisa berubah.

Bima: RAKA.

Alya tertawa kecil di kamarnya.

Kali ini ia tidak langsung sadar.

Ketika sadar, ia berhenti sebentar.

Lalu melihat layar ponselnya lagi.

Grup itu berisik.

Sangat berisik.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus mematikan notifikasi.

Sementara itu, di rumahnya, Naya membaca ulang chat sambil tersenyum sendiri.

Bukan karena ada hal khusus.

Hanya karena semua orang terdengar seperti diri mereka masing-masing.

Bima yang terlalu percaya diri.

Alya yang berusaha mengatur.

Salsa yang menenangkan.

Raka yang muncul sesekali dengan kalimat pendek yang entah kenapa selalu tepat.

Naya mengetik pesan.

Naya: Besok jangan ada yang telat rapat ya. Terutama jaksa gadungan.

Bima: Saya bukan gadungan. Saya belum diakui negara.

Raka: Negara belum rugi.

Naya tertawa keras sampai ibunya dari luar kamar bertanya, “Kenapa?”

“Nggak, Bu! Ada orang aneh!”

Ia hampir mengetik balasan, tapi berhenti saat melihat pesan Raka itu lagi.

Negara belum rugi.

Untuk ukuran Raka, itu lumayan niat bercanda.

Naya tersenyum.

Lalu mengetik:

Naya: Raka mulai berbahaya. Dia sudah bisa roasting.

Balasan Raka muncul setengah menit kemudian.

Raka: Belajar dari lingkungan.

Bima: Aku merasa dijadikan bahan penelitian.

Alya: Memang.

Salsa: Sedikit.

Naya: Banyak.

Grup kembali ramai.

Dan malam itu, tanpa mereka sadari, sesuatu benar-benar mulai berubah.

Bukan perubahan besar.

Bukan perubahan yang membuat siapa pun berhenti dan berkata, “Mulai hari ini kita sahabat.”

Tidak ada deklarasi.

Tidak ada janji.

Tidak ada momen dramatis.

Hanya lima orang yang awalnya tidak punya tempat tetap, perlahan mulai punya meja yang sama.

Punya grup yang sama.

Punya bahan tertawaan yang sama.

Dan punya satu proyek berantakan yang entah kenapa mulai terasa sayang kalau dikerjakan sendirian.

Namun tentu saja, kenyamanan itu tidak boleh berlangsung terlalu lama.

Karena dua hari kemudian, saat proposal akhirnya dikumpulkan dan mereka merasa sedikit aman, Bu Ratna masuk kelas dengan pengumuman baru.

“Anak-anak, ada perubahan dari panitia festival.”

Alya langsung menegakkan badan.

Naya berhenti mengunyah.

Bima menurunkan palu kardusnya.

Salsa menatap Bu Ratna.

Raka menutup buku catatannya.

Bu Ratna tersenyum.

Senyum guru yang lagi-lagi tidak membawa kabar baik.

“Setiap stand wajib menampilkan satu sesi pembuka di panggung kecil festival untuk menarik pengunjung.”

Satu kelas terdiam.

Lalu perlahan, semua mata menoleh ke arah tim inti.

Lebih tepatnya, ke arah Naya.

Naya menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa lihat aku?”

Bima menjawab pelan, “Karena kalau ada panggung, biasanya kamu alasan panggung itu dibuat.”

Alya memejamkan mata.

Raka menatap papan tulis.

Salsa menahan tawa gugup.

Dan Naya, setelah diam selama tiga detik, akhirnya tersenyum.

Senyum yang membuat Alya langsung merasa keadaan akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik.

“Berarti,” kata Naya, “kita butuh opening yang norak.”

Bima langsung mengangkat palu kardus.

“Sidang keliling.”

Alya berkata cepat, “Tidak.”

Namun terlambat.

Karena mata Naya sudah berbinar.

Dan kalau mata Naya sudah berbinar, biasanya satu kelas hanya punya dua pilihan.

Ikut.

Atau terseret.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar