Kamis, 25 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 16 / 20

 


Chapter 16

Setelah Legenda, Lalu Apa?

Hari setelah festival, XI IPA 2 masuk kelas dengan kondisi yang tidak bisa disebut segar.

Lebih tepatnya, mereka hadir secara fisik.

Jiwa mereka masih tertinggal di stand, di antara sisa lakban, potongan karton, antrean yang terlalu panjang, dan teriakan “keberatan, Yang Mulia” yang entah kenapa masih terngiang di kepala.

Piala Stand Terbaik Festival diletakkan di meja guru untuk sementara, karena Bu Ratna ingin memajangnya di lemari kelas setelah diberi label.

Benda itu berdiri di sana, mengilap, sedikit tidak nyata.

Seolah kemarin mereka tidak benar-benar hampir panik di depan kepala sekolah.

Seolah Bima tidak hampir membaca kartu jahat di depan setengah antrean.

Seolah Salsa tidak berdiri di tengah tatapan orang-orang dan berkata bahwa ia tidak harus tersenyum untuk semua hal.

Seolah mereka tidak benar-benar menang.

Bima datang paling akhir.

Bukan terlambat.

Hampir.

Ia masuk kelas sambil membawa tas kain kecil yang dipeluk seperti benda berharga.

Alya langsung menatapnya.

“Jangan bilang.”

Bima berhenti di ambang pintu.

“Aku belum bicara.”

“Kamu membawa sesuatu.”

“Semua orang membawa sesuatu.”

“Bima.”

Bima membuka tas kain itu sedikit.

Palkim terlihat dari dalam.

Alya memejamkan mata.

“Kamu bawa itu lagi?”

Bima memeluk tas kainnya.

“Palkim trauma kalau ditinggal.”

“Itu palu kardus.”

“Justru rapuh.”

Naya, yang sedang duduk di meja depan sambil mengunyah roti, menunjuk tas kain itu.

“Kamu bawa Palkim pakai tas khusus?”

“Ini bentuk penghargaan terhadap jasa pahlawan.”

“Pahlawan yang ditempel lakban.”

“Banyak pahlawan punya luka.”

Raka duduk di kursinya, membuka buku, lalu berkata pelan, “Palkim juga hampir lepas bagian kepalanya.”

Bima langsung menatapnya.

“Jangan ungkit masa sulitnya.”

Salsa tertawa kecil sambil menaruh tas di kursinya.

“Setelah festival selesai, Palkim pensiun?”

Bima tampak tersinggung.

“Simbol keadilan tidak pensiun. Ia hanya menunggu kasus berikutnya.”

Alya menutup buku catatan festival yang masih ia bawa.

“Tidak ada kasus berikutnya.”

Bima menoleh cepat.

“Jangan berkata begitu. Hidupku baru saja menemukan arah.”

“Cari arah lain.”

“Tidak semudah itu, Bu Ketua.”

Naya menepuk meja.

“Tenang. Kalau kamu bingung, kami bisa menyidang nilai matematikamu.”

Bima memegang dada.

“Tidak semua hal harus dibawa ke ranah hukum.”

“Katamu hidupmu butuh kasus.”

“Aku butuh kasus yang tidak menyerangku.”

Kelas tertawa.

Tawa itu terasa berbeda dari sebelum festival.

Dulu, kalau Naya dan Bima ribut, mereka hanya dianggap dua orang yang memang sulit diam.

Sekarang, setiap kali mereka mulai saling menyerang, beberapa anak otomatis menoleh seperti menunggu sesi sidang dimulai.

Festival sudah selesai.

Tapi efeknya masih tersisa di kelas mereka.

Beberapa siswa masih membicarakan video opening yang tersebar di story. Dito bahkan mendapat panggilan baru dari beberapa anak kelas lain:

Terdakwa Makanan Gratis.

Ia tidak terlihat senang.

Tapi juga tidak benar-benar menolak.

Saat jam istirahat, beberapa anak dari kelas lain mampir ke pintu XI IPA 2.

“Eh, kapan Mahkamah Receh buka lagi?”

“Kalau ada sidang ulangan remedial, kabarin.”

“Bima, palunya mana?”

Bima langsung berdiri dengan wajah bangga.

Alya menunjuknya.

“Jangan keluarkan Palkim.”

Bima duduk lagi dengan wajah patah.

“Dunia tidak siap menerima keadilan.”

Naya menepuk pundaknya.

“Dunia siap. Alya yang tidak.”

“Aku mendengar,” kata Alya.

“Bagus. Berarti komunikasi berhasil.”

Salsa duduk di samping Naya sambil membuka ponsel.

“Video opening kita masih banyak yang repost.”

Naya melongok.

“Yang Bima minta maaf ke Palkim?”

“Iya.”

Bima menegakkan badan.

“Aktingku menyentuh.”

“Orang ketawa, Bim.”

“Tertawa adalah bentuk tersentuh yang keluar lewat mulut.”

Raka menatapnya.

“Definisi yang memaksa.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Aku ambil saja.”

Salsa menggeser layar ponselnya.

Komentar-komentar dari siswa lain cukup ramai.

Stand paling niat.

Sidangnya lucu tapi nggak bikin malu.

Yang jadi hakim serem beneran.

Alya membaca komentar terakhir.

“Serem?”

Naya langsung tertawa.

“Bu Ketua, itu pujian.”

“Tidak terdengar seperti pujian.”

“Di konteks hakim, itu pujian.”

Bima mengangguk.

“Wibawa.”

Salsa lanjut membaca.

Yang jadi pembela lucu banget.

Naya mengangkat dagu.

“Tentu saja.”

Yang saksi cantik tapi savage.

Salsa berhenti sebentar.

Dulu, mungkin ia akan langsung tersenyum malu dan membiarkan komentar seperti itu lewat begitu saja.

Kali ini, ia mengangkat alis.

“Savage-nya boleh. Cantiknya tidak usah jadi laporan utama.”

Naya langsung menunjuknya.

“Nah. Petugas stiker naik level.”

Salsa tertawa kecil.

“Aku cuma belajar memilih bagian mana yang perlu kuterima.”

Alya menatap Salsa sebentar.

Tidak berkata apa-apa.

Tapi senyumnya muncul sedikit.

Bima juga tidak membuat lelucon.

Untuk ukuran Bima, itu perkembangan besar.

Salsa menggeser layar lagi.

“Ini ada komentar tentang Raka.”

Naya langsung tegak.

“Petugas ketertiban?”

Salsa membaca, “Petugas antreannya pendiam tapi bikin orang nurut.”

Bima langsung menepuk meja.

“Betul! Raka punya aura petugas kelurahan.”

Raka mengangkat wajah.

“Apa hubungannya?”

“Datar, rapi, dan membuat orang merasa dokumennya kurang lengkap.”

Naya tertawa sampai hampir tersedak roti.

Raka menggeser botol minum Naya ke dekat tangannya.

Naya yang masih tertawa otomatis mengambil botol itu.

Salsa melihat.

Alya juga.

Bima pun melihat.

Namun kali ini, Bima hanya menatap sebentar, lalu menunduk ke buku penyelidikannya.

Ia tidak menulis apa-apa.

Belum.

Karena semakin sering ia melihat, semakin aneh rasanya kalau ia langsung menjadikannya lelucon.

Ada hal yang lucu kalau dilihat dari luar.

Tapi mungkin tidak sesederhana itu bagi orang yang berada di dalamnya.

Atau mungkin Bima hanya terlalu lelah setelah festival.

Kemungkinan kedua juga masuk akal.

Setelah istirahat, Bu Ratna masuk kelas dengan membawa piala festival.

Beliau berdiri di depan kelas, tersenyum.

“Anak-anak, sebelum pelajaran dimulai, Ibu ingin mengucapkan terima kasih.”

Kelas langsung lebih tenang.

Bima bahkan menaruh Palkim di pangkuan dan duduk rapi.

“Stand kalian kemarin sangat baik. Bukan hanya karena menang, tapi karena kalian bekerja sama. Ibu lihat banyak yang membantu. Bahkan yang biasanya menghilang saat kerja kelas juga ikut bergerak.”

Beberapa anak tertawa sambil menoleh ke Dito.

Dito menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa gue?”

“Riwayat,” kata Bima pelan.

Bu Ratna melanjutkan, “Tapi ada satu hal lagi yang membuat Ibu bangga.”

Kelas menjadi lebih diam.

Alya otomatis duduk lebih tegak.

Salsa menunduk sebentar ke meja.

Bima berhenti memainkan ujung tas kain Palkim.

“Kemarin,” kata Bu Ratna, “Ibu melihat kalian tahu kapan harus berhenti bercanda. Itu tidak mudah, apalagi saat stand sedang ramai dan semua orang menunggu untuk tertawa.”

Tidak ada yang langsung menanggapi.

Naya melirik Salsa.

Salsa mengangkat wajah.

Kali ini, senyumnya kecil.

Tapi tenang.

Bu Ratna melihat mereka berlima.

“Lucu itu bagus. Tapi menjaga teman kalian tetap lebih penting. Kemarin kalian melakukan dua-duanya.”

Bima menunduk sedikit.

Alya menatap piala di meja guru.

Raka tetap diam, tapi tangannya berhenti menulis.

Bu Ratna tersenyum lagi.

“Piala ini akan Ibu simpan di lemari kelas. Tapi Ibu ingin tim inti maju dulu.”

Satu kelas langsung bersorak.

“Tim Mahkamah maju!”

“Jaksa!”

“Hakim!”

“Pembela!”

“Saksi!”

“Petugas ketertiban!”

Bima langsung berdiri paling cepat.

Alya tampak sedikit malu, tapi tetap maju.

Salsa berdiri sambil tersenyum.

Naya maju dengan gaya seperti hendak menerima penghargaan nasional.

Raka berdiri paling terakhir.

Naya menoleh.

“Rak, jangan mode figuran.”

“Aku maju.”

“Majunya setengah niat.”

Raka akhirnya berjalan lebih cepat sedikit.

Mereka berlima berdiri di depan kelas.

Bu Ratna menyerahkan piala kepada mereka.

Alya yang memegang pertama.

Lalu Bima ingin ikut memegang.

Naya ikut memegang.

Salsa ikut menyentuh sisi piala.

Raka berdiri di samping.

Naya menoleh lagi.

“Raka.”

“Apa?”

“Pegang juga.”

“Penuh.”

“Jari aja cukup.”

Raka menghela napas kecil, lalu menyentuh bagian bawah piala dengan satu tangan.

Bima berbisik, “Partisipasi minimal tapi sah.”

Raka menatapnya.

“Yang penting sah.”

Satu kelas tertawa.

Fajar mengambil foto mereka dari depan.

“Sekali lagi! Bima jangan nutupin piala!”

“Aku bagian dari piala.”

“Bim, minggir dikit!”

“Baik.”

Foto diambil.

Hasilnya langsung dikirim ke grup kelas.

Dalam foto itu, Alya terlihat masih seperti ketua kelas yang mencoba menjaga martabat.

Bima tersenyum terlalu lebar.

Naya tertawa.

Salsa tersenyum lembut.

Raka terlihat datar, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Naya langsung menunjuk layar.

“Efek cahaya lagi?”

Raka melihat foto itu.

“Bisa jadi.”

“Lampunya mati.”

“Pantulan piala.”

Bima menepuk meja.

“Dia berkembang. Alibinya makin kreatif.”

Bu Ratna tertawa, lalu meminta mereka kembali ke tempat duduk.

Pelajaran dimulai.

Namun hari itu, sulit sekali membuat kelas sepenuhnya fokus.

Karena setiap beberapa menit, ada saja yang menoleh ke piala di meja guru.

Alya mencoba menulis catatan seperti biasa, tapi pikirannya beberapa kali melayang ke festival kemarin.

Salsa membuka buku, tapi senyumnya muncul setiap kali seseorang menyebut “kartu jahat ditolak”.

Bima menggambar Palkim di pojok bukunya.

Naya menulis daftar kasus baru yang seharusnya tidak diperlukan lagi.

Raka mencatat pelajaran.

Benar-benar mencatat pelajaran.

Namun di halaman samping, ada satu baris kecil yang ia tulis tanpa sadar:

Kembalikan meja, kursi, kain hitam, tali antrean.

Bahkan setelah festival selesai, kepalanya masih menyusun daftar.

Saat pulang sekolah, tim inti berkumpul lagi untuk mengembalikan barang-barang.

Bima tampak bahagia.

“Lihat? Aku bilang hidupku masih punya tujuan.”

Alya menatap kotak properti.

“Tujuanmu mengangkat kardus.”

“Itu tetap tujuan.”

Naya mengangkat kotak berisi kartu kasus.

“Setelah ini kartu kasus mau diapakan?”

“Simpan,” kata Salsa. “Sayang kalau dibuang.”

“Bisa buat reuni,” kata Bima.

“Reuni kapan? Kita bahkan belum naik kelas XII,” kata Alya.

Bima mengangkat jari.

“Justru harus berpikir jangka panjang.”

Raka mengangkat kotak kain hitam.

“Sebagian properti punya sekolah. Harus dikembalikan hari ini.”

Naya menatap kotak yang ia bawa.

“Kartu kasus ini milik siapa?”

“Bikinan kita,” jawab Salsa.

“Berarti bisa disimpan?”

Alya berpikir sebentar.

“Simpan di lemari kelas. Tapi jangan dipakai untuk menyidang orang sembarangan.”

Bima langsung tampak kecewa.

“Kamu mematikan inovasi.”

“Aku menjaga ketertiban.”

“Raka saja yang petugas ketertiban tidak seketat itu.”

Raka menatapnya.

“Aku setuju dengan Alya.”

Bima menggeleng pelan.

“Pengkhianatan dari lembaga sendiri.”

Mereka berjalan bersama membawa barang ke gudang.

Kali ini tidak ada kardus hilang.

Tidak ada Palkim jatuh.

Tidak ada Bima berdiri di atas bangku.

Itu perkembangan besar.

Setelah semua barang dikembalikan, mereka kembali ke kelas untuk menyimpan sisa properti buatan sendiri.

Kartu kasus.

Palkim.

Pin peran.

Poster cadangan.

Buku catatan jadwal Alya.

Semuanya dimasukkan ke dalam satu kotak.

Bima menatap kotak itu dengan sedih.

“Rasanya seperti pemakaman kecil.”

Naya duduk di meja depan.

“Bim, itu cuma properti.”

“Properti yang menyatukan kita.”

Kalimat itu membuat ruangan sedikit diam.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Karena meski terdengar sangat Bima, kalimat itu tidak sepenuhnya salah.

Alya menatap kotak itu.

Salsa menurunkan poster yang ia pegang.

Raka berhenti merapikan lakban.

Naya tidak langsung menjawab.

Bima sendiri tampak kaget karena ucapannya barusan terdengar agak serius.

Ia segera berdeham.

“Maksudku, tentu saja dalam konteks hukum dan dekorasi.”

Naya tersenyum kecil.

“Penyelamatan yang buruk.”

“Iya. Aku panik.”

Salsa menatap kotak properti.

“Setelah ini kita nggak rapat lagi, ya?”

Alya membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Secara teknis, tidak ada alasan rapat.

Festival selesai.

Barang dikembalikan.

Piala sudah diterima.

Hanya laporan akhir yang tersisa, dan itu bisa dikerjakan Alya sendiri.

Atau setidaknya, biasanya ia akan berkata begitu.

Namun kali ini, sebelum Alya sempat bicara, Raka berkata, “Laporan akhir belum.”

Alya menoleh.

Raka melanjutkan, “Pengeluaran, dokumentasi, evaluasi. Bu Ratna mungkin minta.”

Bima langsung hidup kembali.

“Rapat evaluasi!”

Naya menunjuk Raka.

“Lihat. Alasan logistik menyelamatkan hubungan sosial.”

Raka menatapnya.

“Aku hanya bilang laporan.”

“Itu versi kamu dari ‘ayo kumpul lagi’.”

“Bukan.”

“Bisa dipakai.”

Salsa tersenyum.

“Aku bisa bantu dokumentasi.”

Bima mengangkat tangan.

“Aku menyumbang perspektif terdakwa.”

“Aku bisa bantu bagian konsep,” kata Naya.

Alya menatap mereka satu per satu.

Biasanya, tawaran seperti ini membuatnya berkata, “Tidak usah, aku bisa.”

Tapi kali ini, ia berhenti.

Mengingat chat malam itu.

Mengingat Raka yang membantu format proposal.

Mengingat Naya yang menyuruhnya bernapas.

Mengingat Salsa yang menariknya makan saat festival.

Mengingat Bima yang meski kacau, benar-benar bekerja.

Alya menarik napas.

“Baik. Besok setelah pulang sekolah, kita rapat laporan akhir. Sebentar saja.”

Bima langsung menunjuk Naya.

“Kalimat berbahaya.”

Naya mengangguk.

“Sebentar versi Alya bisa sampai magrib.”

Alya menatap mereka.

“Kali ini benar-benar sebentar.”

Raka berkata pelan, “Buat daftar dulu. Biar cepat.”

Alya mengangguk.

Naya langsung menyipit.

“Ohoo. Ketua kelas dan petugas ketertiban kembali sinkron.”

Alya menunjuk Naya.

“Jangan mulai.”

“Aku cuma mengamati.”

“Pengamatanmu berbahaya.”

Bima ikut menyipit.

“Benar.”

Naya menatap Bima.

“Kenapa kamu setuju?”

“Karena pengamatan memang bisa membuka kasus.”

Raka menatap buku penyelidikan yang mulai keluar dari tas Bima.

“Jangan buka kasus baru.”

Bima menutup tasnya kembali.

“Belum waktunya.”

Alya mendengar kalimat itu.

Salsa juga.

Naya tidak terlalu memperhatikan karena sedang membuka kotak kartu kasus lagi.

Raka memperhatikan Bima sebentar.

Namun Bima hanya tersenyum polos.

Sangat tidak meyakinkan.

Keesokan harinya, rapat laporan akhir benar-benar dilakukan.

Dan ajaibnya, hanya berlangsung empat puluh menit.

Alya menyusun laporan pengeluaran.

Salsa memilih foto dokumentasi.

Naya menulis bagian konsep kegiatan dengan gaya yang harus direvisi karena terlalu banyak kalimat “kami menegakkan keadilan receh”.

Bima menulis evaluasi dari sudut pandang jaksa, yang akhirnya hanya dipakai dua kalimat.

Raka merapikan alur teknis dan menambahkan catatan antrean.

Hasilnya cukup rapi.

Bu Ratna menerima laporan itu dengan senang.

Dan dengan demikian, secara resmi, proyek festival benar-benar selesai.

Tidak ada lagi alasan logistik.

Tidak ada lagi rapat wajib.

Tidak ada lagi properti yang harus dikembalikan.

Kotak Mahkamah Receh masuk ke lemari kelas.

Piala masuk ke rak.

Poster diturunkan.

Palkim disimpan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, sepulang sekolah mereka tidak perlu tinggal di kelas.

Namun anehnya, tidak ada yang langsung pulang.

Bima berdiri di depan lemari, menatap kotak properti.

Alya membereskan buku catatan.

Salsa mengecek ponsel, tapi tidak benar-benar pergi.

Naya duduk di meja depan, mengayunkan kaki.

Raka memasukkan pulpen ke tas.

Kelas mulai kosong.

Satu per satu siswa pulang.

Dito lewat sambil berkata, “Kalian nggak pulang?”

Bima menjawab, “Kami sedang mengalami krisis pasca-festival.”

Dito mengangguk seolah mengerti.

Padahal jelas tidak.

Setelah Dito pergi, Naya berkata, “Makan bakso depan sekolah, yuk.”

Empat orang menoleh.

Naya mengangkat bahu.

“Ngapain? Kalian berdiri kayak NPC nunggu quest baru.”

Bima langsung menunjuknya.

“Itu dia! Quest baru.”

Alya tampak ragu.

“Aku harus pulang sebelum jam lima.”

“Sekarang masih jam tiga,” kata Salsa.

Raka melihat jam.

“Bisa.”

Semua menoleh ke Raka.

Raka berhenti.

“Apa?”

Naya tersenyum.

“Tidak. Aku cuma senang proposal bakso disetujui petugas ketertiban.”

“Aku lapar.”

“Alasan yang valid.”

Bima mengangkat tangan.

“Dengan ini, rapat evaluasi berubah menjadi rapat bakso.”

Alya menghela napas.

“Tapi cuma sebentar.”

Naya dan Bima langsung saling pandang.

Lalu berkata bersamaan, “Bahaya.”

Alya menatap mereka.

“Kenapa?”

“Kalimat itu punya riwayat,” kata Raka.

Naya langsung menunjuk Raka.

“Nah! Dia paham.”

Alya memutar mata, tapi kali ini sambil tersenyum.

Mereka akhirnya berjalan ke warung bakso depan sekolah.

Tidak ada agenda.

Tidak ada daftar tugas.

Tidak ada properti.

Tidak ada guru yang memilih mereka.

Hanya lima orang yang, entah sejak kapan, memilih untuk tetap berjalan bersama.

Warung bakso itu tidak besar.

Letaknya di dekat gerbang samping, tempat Naya biasanya menunggu jemputan.

Mereka duduk di meja panjang dekat kipas angin.

Bima langsung memesan bakso paling banyak dengan alasan “pemulihan moral”.

Alya memesan yang biasa.

Salsa memesan tanpa sambal.

Naya memesan dengan sambal sedikit, lalu menambahkan sambal lagi setelah mangkuk datang.

Raka melihat itu.

“Naya.”

Naya menatapnya.

“Apa?”

“Baru sembuh.”

“Ini sedikit.”

“Itu sendok kedua.”

“Sendok pertama pemanasan.”

Alya langsung mengambil tempat sambal dari dekat Naya.

“Cukup.”

Naya menatap Alya.

Lalu Raka.

“Kalian kerja sama?”

“Demi tenggorokanmu,” kata Salsa, tersenyum.

Bima mengangguk.

“Ini sidang kesehatan.”

“Tidak ada yang membelaku?” tanya Naya.

Raka mengambil botol air mineral dan meletakkannya di dekat Naya.

“Minum.”

Naya menghela napas.

“Kalian semua berubah jadi orang tua.”

“Kalau kamu tidak seperti anak kecil yang baru bebas dari obat, kami tidak perlu,” kata Alya.

Bima menepuk meja.

“Putusan tajam dari Bu Ketua.”

Naya akhirnya makan bakso tanpa sambal tambahan.

Meski sambil mengeluh.

Meski tetap mencuri sedikit kuah pedas dari mangkuk Bima saat Bima tidak melihat.

Raka melihat.

Namun tidak langsung melapor.

Naya menyadari ia ketahuan.

Ia menatap Raka dengan mata memohon.

Raka menatap balik.

Lalu berkata pelan, “Sedikit.”

Naya tersenyum puas.

“Petugas ketertiban bisa dinegosiasi.”

“Tidak. Ini dispensasi.”

“Bahasamu birokratis.”

Bima menoleh.

“Apa yang kudengar? Ada transaksi kuah pedas ilegal?”

Naya langsung menyeruput kuahnya.

“Barang bukti sudah hilang.”

Bima menatap mangkuknya.

“Kamu mencuri dari jaksa.”

“Meminjam tanpa izin.”

“Itu kasus!”

Salsa tertawa.

Alya menggeleng.

Raka makan baksonya dengan tenang.

Namun sudut bibirnya naik lagi.

Kali ini Naya tidak menunjuk.

Tidak meledek.

Ia hanya melihat sebentar.

Lalu tersenyum sendiri.

Bima melihat itu.

Refleks pertamanya adalah membuka buku penyelidikan.

Namun tangannya berhenti di resleting tas.

Ia ingat kartu yang tidak dibaca sampai selesai.

Ia ingat Salsa yang berdiri di depan antrean, tidak lagi tersenyum untuk menyenangkan semua orang.

Lalu Bima melepaskan resleting itu.

Belum.

Tidak semua hal harus langsung dijadikan perkara.

Kadang bukti perlu disimpan sampai pemiliknya siap bicara.

Kalimat itu terdengar terlalu bijak untuk Bima.

Jadi ia segera mengambil bakso dan memasukkannya ke mulut sebelum sempat mengatakan sesuatu yang merusak reputasinya sendiri.

Setelah makan, mereka tidak langsung pulang.

Bima bercerita tentang rencana membuat “Mahkamah Receh Season 2” jika sekolah mengadakan acara lain.

Alya berkata tidak.

Naya berkata mungkin.

Salsa berkata kalau ada waktu.

Raka berkata tergantung logistik.

Bima menganggap semua jawaban itu sebagai dukungan.

Saat matahari mulai turun, mereka akhirnya bubar.

Alya dijemput.

Salsa memesan ojek.

Bima pergi ke halte.

Naya menunggu sepupunya di warung.

Raka berdiri di dekat gerbang, mengecek jadwal salat di ponselnya.

Naya menoleh.

“Mau ke masjid?”

Raka mengangguk.

“Sebentar lagi.”

“Duluan aja. Aku tunggu di sini.”

Raka melihat jalan.

“Jemputan?”

“Katanya lima menit.”

Raka menatapnya.

Naya mengangkat tangan.

“Aku tahu, aku tahu. Kalimat mencurigakan. Tapi kali ini dia sudah kirim foto jalan.”

Raka melihat layar ponsel Naya yang ditunjukkan.

Benar.

Ada foto jalan.

Namun foto itu bisa saja diambil dari mana pun.

Raka tidak mengatakan itu.

Naya sepertinya sudah tahu.

Ia tertawa kecil.

“Aku tunggu di dalam warung. Aman.”

Raka mengangguk.

“Kalau lama, kabari.”

Naya mengangkat alis.

“Ke grup?”

“Boleh.”

“Atau ke kamu?”

Raka diam sebentar.

Pertanyaan itu keluar ringan.

Terlalu ringan.

Naya sendiri mungkin tidak sadar efeknya.

Bima, untungnya, sudah cukup jauh sehingga tidak mendengar.

Salsa sedang melihat ponsel.

Alya sudah masuk mobil.

Raka akhirnya menjawab, “Ke grup.”

“Oh.”

Naya tersenyum.

“Baik, Pak Prosedur.”

Raka mengangguk, lalu berjalan ke arah masjid.

Naya melihatnya pergi sebentar.

Lalu duduk kembali di warung.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk di grup.

Naya: Laporan: masih menunggu jemputan. Saya tidak berdiri di pinggir jalan.

Bima: Bagus. Terdakwa kesehatan patuh.

Alya: Kalau lebih dari 15 menit, telepon rumah.

Salsa: Aku sudah di jalan.

Raka: Di dalam warung?

Naya tersenyum.

Naya: Iya. Bahkan pesan es teh. Tenang.

Raka: Jangan terlalu dingin.

Naya menatap es teh di depannya.

Lalu mengetik:

Naya: Terlambat.

Raka: Minum pelan.

Bima: Grup ini berubah menjadi layanan kesehatan Naya.

Alya: Karena pasiennya susah diatur.

Naya: Aku merasa disudutkan.

Salsa: Dengan fakta.

Naya tertawa sendiri.

Di warung itu, di tempat yang biasanya hanya ia pakai untuk menunggu jemputan, sore itu terasa sedikit berbeda.

Bukan karena baksonya.

Bukan karena es tehnya.

Tapi karena sekarang, menunggu tidak lagi terasa seperti kegiatan sendirian.

Beberapa minggu setelah itu, kebiasaan kecil mulai terbentuk.

Tidak setiap hari.

Tidak selalu direncanakan.

Kadang setelah sekolah, Bima mengajak makan gorengan.

Kadang Naya mengajak mampir ke warung bakso.

Kadang Salsa ingin mencetak sesuatu dan yang lain ikut.

Kadang Alya bilang hanya mau mengembalikan buku ke perpustakaan, tapi berakhir duduk bersama mereka di depan kelas.

Kadang Raka bilang mau ke masjid dulu, lalu kembali karena tas Bima tertinggal atau karena Naya lupa botol minum.

Mereka tidak pernah secara resmi berkata, “Mulai sekarang kita circle.”

Tidak ada deklarasi.

Tidak ada nama grup baru.

Grup Mahkamah Receh tetap dipakai, meski isinya semakin jauh dari festival.

Bima: Ada yang lihat penghapusku?

Naya: Penghapusmu mengajukan resign.

Alya: Terakhir di meja Dito.

Salsa: Aku lihat tadi dekat jendela.

Raka: Di bawah buku paketmu.

Bima: KETEMU. Raka mengerikan.

Naya: Dia punya CCTV batin.

Raka: Bukumu miring.

Bima: Penjelasanmu lebih mengerikan.

Dan begitu saja, tanpa mereka sadari, meja mereka di kelas mulai menjadi tempat tetap.

Kalau ada yang mencari Alya, ia sering ditemukan di sana.

Kalau ada yang mencari Naya, suaranya biasanya sudah terdengar dari sana.

Kalau ada yang mencari Bima, kemungkinan besar ia sedang ditertawakan di sana.

Kalau ada yang mencari Salsa, ia duduk di sana dengan senyum yang lebih santai daripada dulu.

Kalau ada yang mencari Raka, ia mungkin duduk sedikit di pinggir, tidak banyak bicara, tapi tetap ada.

Satu bulan berlalu.

Festival berubah dari acara menjadi cerita.

Cerita berubah menjadi julukan.

Dan julukan itu melekat pada mereka berlima.

Tim Mahkamah Receh.

Anak-anak legenda festival.

Circle yang awalnya tidak direncanakan.

Lalu, menjelang akhir semester, Bu Ratna masuk kelas dengan pengumuman lain.

Kali ini senyumnya tidak semenakutkan saat memilih tim inti festival.

Tapi tetap cukup membuat Bima waspada.

“Anak-anak,” kata Bu Ratna, “untuk kegiatan penutup sebelum naik kelas XII, sekolah mengadakan wisata kelas selama dua hari satu malam.”

Kelas langsung bersorak.

Bima berdiri.

“Apakah ada stand?”

Bu Ratna tertawa.

“Tidak.”

Bima duduk kembali, sedikit kecewa.

Naya menoleh ke Raka.

“Wisata, Rak. Kamu siap menghadapi manusia-manusia bangun kesiangan?”

“Tidak.”

“Bagus. Jawaban jujur.”

Alya langsung membuka buku catatan.

“Kita harus atur daftar perlengkapan kelas.”

Salsa tersenyum.

“Belum apa-apa sudah kerja.”

“Aku realistis.”

Bima mengangkat tangan.

“Apakah di wisata nanti boleh ada sidang?”

Alya menjawab cepat, “Tidak.”

Naya tersenyum lebar.

“Bisa ada kesan-pesan.”

Raka menoleh.

“Kesan-pesan?”

“Iya. Acara malam. Biar ada yang malu-malu.”

Bima menyipit.

“Malu-malu dalam konteks apa?”

Naya mengangkat bahu.

“Entah. Biasanya acara malam wisata selalu punya potensi.”

Alya menatapnya.

“Potensi masalah?”

“Potensi cerita.”

Raka kembali menunduk ke bukunya.

Namun Bima melihat sesuatu.

Tidak jelas.

Mungkin hanya gerakan kecil.

Mungkin hanya cara Raka berhenti menulis sebentar saat Naya menyebut kesan-pesan.

Mungkin juga Bima terlalu ingin menemukan kasus baru.

Tapi ia tetap membuka buku penyelidikannya.

Di halaman yang dulu sempat ia tulis, ada judul:

SIAPA YANG SEBENARNYA RAKA PERHATIKAN?

Bima menatap judul itu.

Lalu menatap Raka.

Lalu Naya.

Lalu Raka lagi.

Ia belum menulis jawaban.

Belum.

Tapi wisata kelas sepertinya akan memberi panggung baru.

Bukan panggung festival.

Bukan ruang sidang.

Kali ini, mungkin panggungnya jauh lebih berbahaya.

Amplop anonim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar