Chapter 5
Grup Chat yang Isinya Tidak Nyambung
Bima benar-benar membawa palu ke sekolah.
Palu sungguhan.
Palu yang biasanya dipakai untuk memaku kayu, memperbaiki kursi, atau dalam kasus tertentu, membuat guru piket mempertanyakan keamanan lingkungan belajar.
Benda itu kini tergeletak di atas meja tim inti.
Berat.
Kusam.
Dan sama sekali tidak terlihat seperti simbol keadilan.
Lebih terlihat seperti alat bukti.
Alya menatap palu itu cukup lama.
Lalu menatap Bima.
Lalu kembali menatap palu.
“Bima.”
“Iya?”
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Rumah.”
“Orang rumahmu tahu?”
Bima diam.
Keheningan itu menjawab lebih banyak daripada kata-kata.
Naya langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
Salsa memegang ujung mapnya, ragu antara ikut tertawa atau khawatir.
Raka menatap palu itu dengan wajah datar.
“Kalau ada pemeriksaan tas, kamu susah menjelaskan.”
Bima tampak tersinggung.
“Kenapa kalian semua melihat ini sebagai masalah?”
“Karena itu palu,” kata Alya.
“Palu bisa menjadi properti.”
“Palu juga bisa menjadi alasan pemanggilan orang tua.”
Naya mengangkat tangan. “Sebagai pembela, aku merasa kasus ini berat.”
“Aku belum jadi terdakwa.”
“Semua orang yang membawa palu ke sekolah punya potensi jadi terdakwa.”
Bima memegang dada.
“Aku membawa ini demi stand.”
“Stand kita konsep sidang anak sekolah,” kata Salsa pelan. “Bukan rekonstruksi kriminal.”
Raka mengangguk kecil.
“Dan terlalu berat. Kalau dipakai mukul meja, mejanya bisa rusak.”
Bima melihat palu itu.
Lalu melihat meja.
Seolah baru menyadari kemungkinan tersebut.
Alya menarik napas panjang.
“Palu ini kamu bawa pulang lagi.”
“Tapi kewibawaan sidang—”
“Kita bikin properti dari kayu bekas atau kardus tebal.”
“Kardus tidak berwibawa.”
“Lebih berwibawa daripada dipanggil BK.”
Bima terdiam.
Kalimat itu sulit dilawan.
Naya menepuk bahu Bima.
“Tenang. Kita bisa bikin palu hakim versi aman. Namanya juga Ruang Sidang Anak Sekolah. Bukan Ruang Sidang Pengadilan Negeri.”
Bima masih terlihat tidak rela.
“Tapi bunyinya pasti beda.”
Raka mengambil spidol dari meja, lalu mengetuk pelan permukaan meja.
Tok.
Semua menoleh.
“Bunyinya cukup,” kata Raka.
Bima menatap spidol itu dengan ekspresi seperti baru melihat pengkhianatan.
“Kamu ingin mengganti simbol keadilan dengan alat tulis?”
“Lebih aman.”
“Lebih lemah.”
“Tapi tidak disita.”
Alya menunjuk Raka.
“Setuju.”
Bima menatap satu per satu wajah mereka.
Naya tersenyum.
Salsa tersenyum sopan.
Alya tidak tersenyum sama sekali.
Raka sudah kembali menunduk ke daftar barang.
Bima akhirnya mengambil palu itu dengan gerakan dramatis.
“Baik. Aku akan memulangkan simbol keadilan ini.”
“Sekarang,” kata Alya.
“Sekarang?”
“Iya. Titipkan ke satpam atau taruh di motormu kalau kamu bawa motor.”
“Aku naik angkot.”
“Berarti titipkan ke satpam.”
Bima memeluk palu itu seperti perpisahan terakhir.
“Selamat tinggal, rekan perjuangan.”
Naya bertepuk tangan pelan.
“Pidato pemakaman untuk palu. Hari ini lengkap.”
Bima berjalan keluar kelas dengan langkah berat.
Dua menit kemudian, ia kembali.
Tanpa palu.
Dengan wajah orang yang baru kehilangan hak asuh.
Alya tidak memberi kesempatan untuk berkabung.
“Kita lanjut rapat.”
Bima duduk.
“Hatiku belum siap.”
“Hatimu tidak masuk agenda.”
Alya membuka buku catatan.
Hari itu, mereka punya tiga tugas utama.
Pertama, membuat grup koordinasi.
Kedua, membagi tugas properti dan promosi.
Ketiga, memastikan Bima tidak membawa benda berbahaya lagi ke sekolah.
Poin ketiga, lagi-lagi, tidak ditulis.
Tapi semua orang tahu.
“Untuk koordinasi,” kata Alya, “kita butuh grup chat khusus tim inti.”
Bima langsung mengangkat tangan.
“Aku buat.”
“Jangan,” kata Alya cepat.
“Kenapa?”
“Aku ingin nama grupnya normal.”
Bima tampak terluka.
“Aku belum usul.”
“Justru itu.”
Naya mengeluarkan ponsel. “Aku aja yang buat.”
Alya menoleh.
“Kamu bisa bikin nama normal?”
“Bisa.”
Lima detik kemudian, ponsel mereka bergetar.
Naya baru saja membuat grup.
Namanya:
MAHKAMAH RECEH XI IPA 2
Alya menatap layar ponselnya.
Lalu menatap Naya.
“Ini normal menurutmu?”
“Normal untuk kita.”
Bima langsung tersenyum lebar.
“Aku suka.”
“Itu masalahnya,” kata Alya.
Salsa tertawa kecil sambil menyimpan nomor mereka satu per satu.
Raka melihat nama grup itu.
Diam.
Lalu mengetik sesuatu.
Beberapa detik kemudian, muncul pesan pertama dari Raka.
Raka: Grup ini untuk koordinasi stand?
Naya langsung membalas.
Naya: Bukan. Ini grup dakwah hukum.
Bima: Saya siap menjadi jaksa umat.
Alya: Tolong serius.
Salsa: Aku sudah masuk ya.
Naya: Selamat datang, saksi yang selalu dipercaya.
Bima: Keberatan. Saksi terlalu cantik bisa memengaruhi hakim.
Alya: Bima.
Bima: Baik, saya cabut keberatan.
Raka menatap layar beberapa detik.
Lalu menaruh ponselnya menghadap bawah.
Naya melihatnya.
“Raka menyerah duluan.”
“Aku membaca seperlunya.”
“Ini baru lima pesan.”
“Sudah cukup menggambarkan masa depan.”
Salsa menahan tawa.
Alya mengetuk meja dengan spidol.
“Sekarang kita serius.”
Bima menatap spidol di tangan Alya.
“Lihat? Bahkan kamu mulai memakai palu versi alat tulis.”
Alya langsung meletakkan spidol.
“Bima.”
“Maaf.”
Rapat dimulai.
Atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai rapat.
Alya membagi tugas dengan rapi.
Naya dan Bima bertugas membuat daftar kasus dan skenario sidang.
Salsa bertugas membuat konsep poster, promosi media sosial, dan desain kartu kasus.
Raka bertugas membuat alur teknis, daftar barang, dan sistem antrean.
Alya mengawasi semuanya, menyusun proposal, mengurus anggaran, dan memastikan kelas tidak berubah menjadi pasar malam tanpa izin.
“Kenapa tugasmu paling banyak?” tanya Salsa.
Alya berhenti menulis.
“Karena proposal harus dikumpulkan minggu depan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu alasan.”
Naya menopang dagu.
“Bu Ketua, kamu tahu kan kerja tim itu artinya tidak semua hal harus kamu pegang?”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu tetap pegang semua.”
“Aku cuma memastikan.”
“Memastikan semua beban hidup pindah ke tasmu?”
Alya menatap Naya.
Naya tersenyum polos.
Bima mengangkat tangan. “Aku bisa bantu proposal.”
Alya diam.
Naya diam.
Salsa diam.
Raka bahkan berhenti menulis.
Bima melihat reaksi mereka.
“Kenapa hening?”
Alya menjawab hati-hati, “Kamu yakin?”
“Aku bisa mengetik.”
“Itu bukan satu-satunya syarat.”
“Aku juga bisa memakai huruf kapital.”
Naya berbisik pada Salsa, “Kemajuan besar.”
Bima menunjuknya. “Aku dengar.”
Raka tiba-tiba berkata, “Aku bisa bantu format proposal.”
Alya menoleh.
“Format?”
“Iya. Bagian teknis, kebutuhan barang, alur pengunjung. Nanti kamu tinggal susun konsep utama dan anggaran.”
Alya menatapnya beberapa detik.
Bukan karena tidak mengerti.
Tapi karena otaknya perlu waktu menerima bahwa seseorang baru saja mengambil sebagian beban tanpa ia minta.
“Kamu yakin?” tanyanya.
Raka mengangguk.
“Bisa.”
Naya langsung tersenyum miring.
“Ohoo.”
Alya menoleh cepat.
“Jangan.”
“Aku cuma bilang ohoo.”
“Itu masalahnya.”
Bima menepuk meja. “Sebagai jaksa, aku mencium kerja sama profesional.”
“Itu bukan kasus,” kata Salsa.
“Belum.”
Raka tidak bereaksi.
Ia hanya membuka buku catatan dan mulai menyalin poin-poin teknis.
Alya kembali melihat bukunya.
Anehnya, daftar pekerjaannya terasa sedikit lebih manusiawi.
Rapat berlanjut.
Naya mulai membaca beberapa contoh kasus yang ia buat.
“Kasus pertama: terdakwa mengatakan ‘lima menit lagi sampai’, padahal berdasarkan penyelidikan, ia masih mencari kaus kaki.”
Bima mengangkat tangan.
“Sebagai jaksa, aku bisa membawakan ini dengan penuh amarah.”
“Jangan terlalu penuh,” kata Raka.
“Kenapa?”
“Takut pengunjung kabur.”
“Berarti amarah sedang.”
Naya mencatat.
“Kasus kedua: terdakwa meminjam pulpen lalu hilang.”
Alya mengangguk. “Bagus. Relate.”
“Kasus ketiga: terdakwa bilang ‘aku nggak belajar’ tapi nilainya sembilan puluh.”
Satu meja langsung terdiam.
Salsa menutup mulut.
Bima perlahan menoleh ke Raka.
Raka yang sedang menulis ikut menoleh.
“Apa?”
Bima menunjuknya.
“Tersangka.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Tapi auramu begitu.”
“Aura tidak bisa jadi bukti.”
Naya menepuk meja.
“Kalimat itu bagus. Masukkan ke skenario.”
Salsa menulis cepat.
Aura tidak bisa jadi bukti.
Alya menatap mereka, lalu sadar bahwa ia baru saja membiarkan kalimat Raka masuk ke skenario stand.
Ia ingin protes.
Tapi sebenarnya cocok.
Jadi ia diam.
“Kasus keempat,” lanjut Naya, “terdakwa pura-pura tidak melihat chat grup tugas.”
“Ini kasus berat,” kata Salsa.
“Setuju,” kata Alya.
Bima mengangguk. “Hukuman maksimal.”
Raka menambahkan, “Tapi jangan pakai chat asli.”
Naya menunjuknya.
“Betul. Kita pakai chat karangan. Biar aman.”
Alya mencatat:
Semua kasus harus fiktif. Tidak menyerang orang tertentu.
Di bawahnya, ia menambahkan:
Lucu, tapi nggak jahat.
Kalimat itu mulai terasa seperti aturan sungguhan.
Bukan cuma tulisan miring di papan.
Sementara itu, grup chat baru mereka mulai berbunyi lagi.
Bima mengirim pesan.
Bima: Usul kasus: terdakwa menghilangkan palu keadilan.
Alya: Ditolak.
Bima: Belum disidang.
Naya: Aku sebagai pembela juga menolak.
Salsa: Kasusnya terlalu pribadi.
Raka: Barang bukti sudah diamankan satpam.
Bima menatap Raka dengan wajah tersakiti.
“Kamu ikut mengkhianatiku?”
“Fakta.”
“Fakta bisa menyakiti.”
“Makanya jangan bawa palu.”
Naya tertawa sampai hampir menjatuhkan ponsel.
Alya sebenarnya ingin menegur mereka agar fokus.
Tapi anehnya, meski kacau, mereka tetap menghasilkan sesuatu.
Daftar kasus bertambah.
Daftar properti mulai jelas.
Salsa berhasil membuat sketsa poster pertama.
Raka membuat alur sederhana:
Pengunjung mengambil nomor antrean.
Pengunjung mengambil kartu kasus.
Pengunjung masuk ruang sidang.
Jaksa membaca dakwaan.
Pembela memberi pembelaan.
Saksi memberi komentar.
Hakim memutus hukuman lucu.
Pengunjung mendapat stiker “Sudah Disidang”.
Naya membaca alur itu dengan mata berbinar.
“Kita kasih stiker?”
“Kalau ada anggaran,” kata Raka.
“Harus ada. Itu lucu.”
Bima mengangkat tangan. “Stikernya tulis apa?”
Naya langsung menjawab, “Saya mantan terdakwa.”
Salsa tertawa. “Atau ‘Telah diadili secara tidak serius’.”
Raka menulis.
Alya menatapnya.
“Kamu serius masukin?”
“Bisa jadi ide.”
Bima memegang dada.
“Raka sudah mulai menerima budaya kita.”
“Belum,” kata Raka.
“Tahap penyangkalan.”
Salsa memutar sketsa posternya ke arah mereka.
Di kertas itu, ia menggambar konsep poster seperti pengumuman buronan.
Di tengahnya ada siluet siswa memegang pulpen.
Di atasnya tertulis:
DICARI!
Di bawahnya:
Pelaku Penghilang Pulpen Pinjaman
Naya langsung bertepuk tangan.
“Sal, ini bagus banget!”
Bima mengangguk serius.
“Aku merasakan keadilan.”
Alya memperhatikan detailnya.
“Ini bisa dipakai. Nanti versi digitalnya bisa kamu buat?”
“Bisa,” jawab Salsa. “Tapi aku butuh daftar kasus final dulu.”
“Berarti Naya dan Bima harus selesai hari ini.”
Bima menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa aku disebut setelah Naya?”
“Karena kontribusimu belum stabil.”
“Tidak adil.”
“Stabil dulu.”
Raka melihat poster itu sebentar.
Lalu berkata, “Kalau desainnya seperti buronan, bisa dibuat beberapa versi. Biar orang penasaran.”
Salsa menoleh.
“Misalnya?”
“Bukan cuma pulpen. Bisa charger, gorengan, chat grup. Tiap poster beda kasus.”
Salsa berpikir.
Lalu wajahnya terlihat lebih cerah.
“Iya juga. Jadi promosi bertahap.”
Naya menunjuk Raka.
“Nah! Diam-diam punya ide bagus.”
“Aku tidak diam-diam.”
“Kamu selalu diam-diam.”
“Tidak selalu.”
“Barusan kamu bicara, itu pengecualian.”
Raka memilih tidak membalas.
Alya mencatat ide itu.
Tanpa sadar, ia menulis nama Raka di samping poin promosi.
Lalu berhenti.
Kenapa ia menulis nama Raka?
Raka bagian teknis.
Tapi idenya memang membantu promosi.
Alya menghapus tanda tanya kecil di kepalanya dan lanjut menulis.
Rapat selesai saat langit di luar kelas mulai berubah warna.
Siswa lain sudah banyak yang pulang.
Kelas mereka tinggal berisi lima orang itu dan beberapa suara dari lapangan.
Naya meregangkan tangan.
“Wah, kita produktif juga.”
Bima mengangguk. “Aku bangga pada lembaga ini.”
“Kamu dari tadi lebih banyak membahas palu,” kata Alya.
“Itu bagian dari identitas lembaga.”
Salsa merapikan kertas desainnya.
“Aku nanti coba bikin poster digital malam ini. Kalau sudah, aku kirim ke grup.”
Raka menutup bukunya.
“Aku kirim alur teknis juga.”
Alya mengangguk.
“Aku susun proposal. Besok kita cek bareng.”
Naya menyipitkan mata.
“Kamu susun proposal sendirian?”
Alya berhenti.
“Raka bantu format teknis.”
“Selain itu?”
“Aku bisa.”
Naya menatapnya.
Alya menatap balik.
Salsa menatap keduanya.
Bima berbisik, “Ini seperti duel tanpa musik.”
Raka memasukkan bukunya ke tas, lalu berkata, “Kirim draft-nya ke grup. Kalau ada yang bisa dibagi, dibagi.”
Alya menoleh.
Kalimat itu tidak terdengar seperti perintah.
Tapi cukup membuatnya tidak bisa langsung membantah.
“Aku lihat nanti.”
Naya menunjuk Alya.
“Itu bahasa ketua kelas untuk ‘aku kerjakan sendiri dulu lalu pingsan’.”
“Aku tidak akan pingsan.”
“Belum.”
Bima mengangkat tangan.
“Kalau pingsan, apakah rapat ditunda?”
Alya mengambil buku dan menatapnya tajam.
“Bima.”
“Aku cuma menanyakan prosedur.”
Mereka akhirnya keluar kelas bersama-sama.
Bima berjalan paling depan sambil masih membahas bahwa palu sungguhan seharusnya dipertimbangkan sebagai properti premium.
Naya berjalan di samping Salsa, melihat sketsa poster sambil sesekali menambahkan ide yang makin lama makin tidak masuk akal.
Alya berjalan sedikit di belakang mereka, memeluk buku catatannya.
Raka berjalan di sebelahnya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Cukup dekat untuk mendengar ketika Alya menghela napas pelan.
“Capek?” tanya Raka.
Alya menoleh.
Pertanyaan itu pendek.
Biasa saja.
Tapi karena datang dari orang yang jarang bertanya, rasanya sedikit mengejutkan.
“Lumayan.”
“Proposal bisa dicicil.”
“Aku tahu.”
“Jangan semua malam ini.”
Alya hampir menjawab, “Aku tahu,” lagi.
Tapi kali ini ia berhenti.
Karena kalau ia jujur, ia memang berencana mengerjakan semuanya malam ini.
Naya benar.
Menyebalkan sekali.
“Aku coba,” kata Alya akhirnya.
Raka mengangguk.
“Kalau butuh bagian teknis, kirim saja.”
Alya melihatnya sebentar.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Mereka berjalan lagi.
Di depan, Bima tiba-tiba berhenti dan berbalik.
“Teman-teman.”
Alya langsung waspada.
“Apa?”
“Aku punya ide nama stiker.”
“Jangan yang aneh,” kata Salsa.
Bima mengangkat satu jari dengan wajah serius.
“Lulusan Mahkamah Receh.”
Naya berhenti.
Salsa berhenti.
Alya berhenti.
Raka juga berhenti.
Hening.
Bima menunggu penilaian.
Naya perlahan mengangguk.
“Sayangnya... itu bagus.”
Bima mengepalkan tangan.
“Aku tahu.”
Alya memejamkan mata.
Ia benci harus mengakui ini.
Tapi benar.
Itu bagus.
Salsa langsung membuka ponsel.
“Aku catat.”
Raka berkata pelan, “Bisa dipakai.”
Bima menatap Raka dengan mata berbinar.
“Kamu mengakuinya?”
“Idenya bisa dipakai.”
“Bukan aku?”
“Idenya.”
“Cukup. Aku terima.”
Mereka tertawa kecil di koridor yang mulai sepi.
Tidak keras.
Tidak heboh seperti di kelas.
Tapi cukup untuk membuat langkah pulang terasa sedikit lebih ringan.
Malamnya, grup MAHKAMAH RECEH XI IPA 2 resmi hidup.
Terlalu hidup.
Salsa: Aku kirim draft poster pertama ya.
Salsa mengirim gambar poster buronan pulpen.
Naya: SAL INI KEREN BANGET.
Bima: Aku merasa pulpen-pulpen terwakili.
Alya: Bagus. Tapi tulisan tanggal festival perlu diperbesar.
Raka: Kontras judul sudah oke. Bagian lokasi bisa dipindah ke bawah.
Salsa: Siap, aku revisi.
Lalu Bima mengirim stiker orang mengetuk palu.
Alya: Jangan spam.
Bima: Ini bukan spam. Ini simulasi suasana sidang.
Naya: Tok tok tok.
Bima: Saudara terdakwa, apakah Anda mengaku?
Naya: Saya hanya korban keadaan.
Bima: Semua terdakwa bilang begitu.
Alya: Fokus.
Raka: Aku kirim alur teknis.
Raka mengirim foto catatan rapi.
Beberapa menit kemudian, Alya mengirim dokumen proposal awal.
Alya: Draft kasar. Belum selesai.
Naya langsung membalas.
Naya: Kamu bilang mau dicicil.
Bima: Ketua kelas tertangkap tangan.
Salsa: Alya, ini sudah banyak banget.
Raka: Bagian teknis belum perlu kamu tulis ulang. Pakai punyaku saja.
Alya menatap layar ponselnya.
Di kamarnya, buku catatan terbuka di meja.
Proposal di laptop masih belum selesai.
Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.
Beberapa detik kemudian, pesan baru dari Raka muncul.
Raka: Kirim file-nya kalau mau. Aku rapikan bagian teknis.
Alya membaca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Bukan karena pesannya sulit dimengerti.
Tapi karena ia tidak terbiasa ada orang yang benar-benar menawarkan bantuan sebelum ia meminta.
Naya mengirim pesan lagi.
Naya: Bu Ketua, terima bantuan adalah bagian dari ibadah sosial.
Bima: Setuju. Jangan halangi amal Raka.
Salsa: Biar cepat selesai juga.
Alya menatap layar.
Menghela napas.
Lalu akhirnya mengirim file.
Alya: Jangan ubah bagian konsep dulu. Bagian teknis saja.
Raka: Oke.
Bima: SEJARAH. ALYA MEMBAGI BEBAN.
Naya: Tolong screenshot.
Alya: Bima.
Bima: Baik.
Alya meletakkan ponselnya di meja.
Anehnya, setelah file itu terkirim, bahunya terasa sedikit lebih ringan.
Di sisi lain kota, Raka membuka file proposal itu di laptopnya.
Ia membaca bagian konsep yang ditulis Alya.
Rapi.
Terlalu rapi.
Bahkan catatan kecil pun dibuat lengkap.
Raka terdiam sebentar.
Lalu mulai merapikan bagian teknis sesuai catatannya.
Tidak banyak bicara.
Tidak mengirim pesan tambahan.
Hanya mengerjakan bagian yang sudah ia bilang akan ia kerjakan.
Sementara itu, grup chat terus berjalan.
Naya dan Bima berdebat apakah kasus “makan gorengan terakhir” termasuk pelanggaran ringan atau berat.
Salsa mengirim revisi poster kedua.
Alya beberapa kali mencoba mengetik “sudah cukup, jangan terlalu malam”, tapi selalu tertunda karena ada ide baru yang sebenarnya bagus.
Raka akhirnya mengirim file revisi satu jam kemudian.
Raka: Bagian teknis sudah dirapikan. Aku tambah alur antrean dan daftar barang.
Alya membuka file itu.
Membaca.
Lalu diam.
Rapi.
Jelas.
Tidak berlebihan.
Dan, yang paling menyebalkan, sangat membantu.
Alya: Makasih. Ini bagus.
Balasan Raka muncul beberapa detik kemudian.
Raka: Sama-sama.
Tidak ada emoji.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada kalimat panjang.
Alya menatap dua kata itu sebentar.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Senyum itu hanya bertahan sebentar, karena pesan Bima langsung muncul.
Bima: Teman-teman, aku membuat logo.
Gambar terkirim.
Seekor ayam memakai wig hakim.
Grup hening selama beberapa detik.
Lalu Naya membalas.
Naya: Itu ayam.
Bima: Phoenix hukum.
Alya: Ditolak.
Salsa: Lucu sih.
Raka: Bisa jadi maskot sampingan.
Alya menatap pesan Raka.
Tidak percaya.
Alya: Jangan didukung.
Bima: RAKA DI PIHAKKU.
Raka: Sampingan. Bukan logo utama.
Naya: Terlambat. Dia sudah merasa menang.
Benar saja, Bima langsung mengirim tiga stiker perayaan.
Alya menatap layar ponsel dengan pasrah.
Malam itu, proposal belum selesai sepenuhnya.
Poster belum final.
Daftar kasus masih terlalu banyak.
Logo ayam berwig hakim entah kenapa tersimpan di galeri Salsa.
Tapi untuk pertama kalinya, grup itu terasa seperti sesuatu yang berguna.
Kacau.
Berisik.
Tidak efisien.
Namun hidup.
Dan di antara notifikasi yang terus muncul sampai hampir jam sepuluh malam, Alya menyadari satu hal kecil yang cukup berbahaya.
Mengerjakan sesuatu bersama mereka ternyata tidak seburuk yang ia kira.
Bahkan, meski ia tidak akan mengakuinya keras-keras, sedikit menyenangkan.
Sayangnya, kesenangan itu hanya bertahan sampai pesan terakhir malam itu muncul dari Bima.
Bima: Besok aku bawa palu versi aman.
Alya langsung duduk tegak.
Alya: Maksudnya apa?
Tidak ada balasan.
Bima offline.
Naya mengirim satu pesan terakhir.
Naya: Bu Ketua, besok kita berdoa saja.
Raka membalas singkat.
Raka: Aku bawa lakban.
Alya menatap layar ponselnya.
Entah kenapa, kalimat itu tidak membuatnya tenang.
Sama sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar