Chapter 17
Kembali ke Malam Amplop
Wisata kelas ternyata tidak seburuk yang Raka bayangkan.
Itu bukan berarti ia menikmatinya dengan cara yang sama seperti Naya atau Bima.
Naya menikmati wisata kelas seperti orang yang diberi panggung, mikrofon, dan izin untuk hidup lebih keras dari biasanya.
Bima menikmati wisata kelas seperti orang yang percaya bahwa setiap perjalanan rombongan adalah kesempatan memperluas wilayah kekacauan.
Alya menikmati wisata kelas dengan cara memastikan tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang salah kamar, tidak ada yang lupa makan, dan tidak ada yang mencoba berenang di sungai padahal jadwalnya belum sampai sana.
Salsa menikmati wisata kelas dengan tersenyum pada banyak orang yang mengajaknya foto, sambil sesekali bersembunyi di antara Naya dan Alya untuk menghemat energi sosial.
Sedangkan Raka menikmati wisata kelas dengan duduk di tempat yang tidak terlalu ramai, memperhatikan orang-orang berisik dari jarak aman, dan menjawab pertanyaan seperlunya.
Menurut Raka, itu sudah termasuk menikmati.
Menurut Naya, itu masih seperti mode hemat baterai.
“Kalau kamu lebih diam sedikit lagi, Rak, nanti panitia mengira kamu bagian dari properti penginapan,” kata Naya saat mereka sedang menunggu giliran permainan kelompok sore itu.
Raka memegang botol minumnya.
“Properti penginapan tidak diberi konsumsi.”
“Berarti kamu properti premium.”
Bima yang sedang berdiri di sebelah mereka langsung mengangguk serius.
“Setuju. Raka ini fasilitas kelas atas. Diam, hemat tempat, dan kadang berguna.”
Alya menoleh dari depan barisan.
“Bima, kalau kamu bicara sedikit lagi, aku jadikan kamu fasilitas penitipan barang.”
“Bu Ketua mengancam rakyatnya sendiri.”
“Rakyatnya berisik.”
Naya tertawa sampai bahunya naik turun.
Raka melihatnya sebentar.
Tidak lama.
Hanya cukup untuk menyadari bahwa tawa Naya terdengar berbeda di udara pegunungan. Lebih lepas. Lebih ringan. Seperti suara itu memang cocok berada di tempat terbuka, di antara angin dingin, pohon-pohon tinggi, dan teman-teman sekelas yang setengah lelah tapi masih keras kepala ingin bersenang-senang.
Raka menunduk ke botol minumnya.
Akhir-akhir ini, ia terlalu sering menyadari hal-hal kecil seperti itu.
Awalnya Raka menganggapnya wajar.
Ia memang terbiasa memperhatikan detail. Ia tahu Bima akan melakukan sesuatu yang salah lima detik sebelum Bima benar-benar melakukannya. Ia tahu Alya sedang kesal dari cara gadis itu menarik napas sebelum bicara. Ia tahu Salsa mulai kelelahan ketika senyumnya sedikit lebih lama muncul daripada biasanya.
Masalahnya, Naya berbeda.
Naya sudah lama mengganggu ketenangannya dengan cara yang sulit dihindari. Menepuk meja saat memanggil namanya. Bertanya pendapatnya ketika ia jelas-jelas tidak ingin ikut diskusi. Menyeretnya masuk ke percakapan hanya karena, menurut Naya, “Raka jangan cuma jadi pajangan kelas.”
Raka pernah menganggap semua itu merepotkan.
Masih sering, sebenarnya.
Tapi belakangan, ia mulai sadar bahwa kelas terasa terlalu kosong kalau Naya tidak melakukannya.
Hari pertama wisata diisi dengan perjalanan bus, makan siang, permainan kelompok, foto bersama, dan beberapa kegiatan yang secara resmi bertujuan “mempererat kebersamaan”.
Secara tidak resmi, sebagian besar kegiatan itu bertujuan membuat satu kelas sadar bahwa Bima tidak boleh diberi pengeras suara.
“Bima, turunkan megafon,” kata Alya untuk ketiga kalinya sore itu.
Bima memegang megafon kecil milik panitia dengan kedua tangan.
“Aku hanya membantu koordinasi.”
“Kamu tadi mengumumkan bahwa sandal Dito ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.”
“Itu informasi publik.”
“Dito masih memakai sandal itu.”
“Justru itulah tragedinya.”
Naya tertawa sampai hampir duduk di tanah.
Salsa menutup mulut, gagal menahan tawa.
Raka berdiri beberapa langkah di belakang, memegang botol minum. Sudut bibirnya naik sedikit.
Naya melihatnya.
Biasanya, ia akan langsung menunjuk dan berkata bahwa Raka akhirnya ketahuan tertawa.
Tapi kali ini Naya hanya tersenyum kecil, lalu pura-pura melihat ke arah lain.
Entah kenapa, senyum Raka terasa lebih baik dibiarkan tetap ada.
Satu kelas bersorak.
Sejak festival, beberapa julukan memang masih menempel.
Alya masih sering dipanggil Yang Mulia Ketua.
Bima masih sering dipanggil Jaksa, meski hanya oleh dirinya sendiri.
Naya kadang dipanggil Pembela, terutama saat ia membela orang yang jelas-jelas salah.
Salsa masih sesekali disebut Saksi.
Dan Raka, entah kenapa, tetap menjadi Petugas Ketertiban.
Padahal festival sudah selesai sebulan lalu.
Raka tidak pernah mengaku menerima jabatan itu.
Namun ia juga tidak pernah berhasil menolaknya.
Malam harinya, setelah makan malam, mereka dikumpulkan di aula penginapan.
Begitu melihat amplop putih dibagikan satu per satu, Raka baru mengerti kenapa Naya sejak tadi terlihat terlalu senang.
Tentu saja.
Acara kesan-pesan.
Sesuatu yang menurut panitia bertujuan mempererat hubungan antar teman.
Sesuatu yang menurut Bima berpotensi menjadi sumber informasi ilegal.
Sesuatu yang menurut Raka seharusnya bisa diselesaikan dengan kalimat pendek dan tulisan yang rapi.
Di depan lingkaran, Naya berdiri dengan mikrofon, seolah benda itu memang sudah menjadi bagian dari takdir hidupnya.
“Selamat malam, wahai manusia-manusia yang besok pagi kemungkinan besar bangun kesiangan!”
Satu kelas bersorak.
Bima langsung bertepuk tangan terlalu keras.
“MC terbaik angkatan!”
Naya menunjuknya.
“Makasih. Tapi tepuk tanganmu itu dukungan atau mau manggil satpam?”
“Dukungan versi totalitas.”
“Totalitasmu mengganggu fasilitas umum.”
Satu kelas tertawa.
Raka ikut tersenyum kecil.
Kali ini ia tidak sempat menyangkal, karena Naya sudah mulai menjelaskan aturan.
Raka tidak terlalu mendengarkan semuanya.
Ia menangkap bagian pentingnya saja.
Tulis nama di amplop.
Amplop diputar.
Tulis kesan dan pesan.
Lipat kertasnya.
Jangan mengintip.
Bagian terakhir membuat hampir satu kelas menoleh ke arah Bima.
Bima membuka kedua tangan.
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Kalimat yang sering diucapkan sebelum kamu melakukan sesuatu,” kata Alya.
“Bu Ketua tidak percaya rehabilitasi moral?”
“Tidak untuk kasusmu.”
Naya mengangguk penuh wibawa.
“Sidang ditunda sampai kamu benar-benar bisa dipercaya.”
Bima menatap Raka.
“Kamu mau membelaku?”
Raka menjawab tanpa ekspresi, “Tidak.”
“Netral saja tidak bisa?”
“Aku faktual.”
“Itu lebih menyakitkan.”
Permainan dimulai.
Amplop berpindah dari tangan ke tangan.
Awalnya suasana masih ramai. Ada yang mengeluh karena tidak tahu harus menulis apa. Ada yang minta tambahan kertas. Ada yang terlalu lama berpikir untuk teman sebangku sendiri, lalu langsung dicurigai punya masalah pribadi.
Namun perlahan, aula menjadi lebih tenang.
Raka menulis seperti biasa.
Singkat.
Aman.
Tidak membuka ruang tafsir.
Kesan: rajin.
Pesan: jangan terlalu panik.
Kesan: lucu.
Pesan: jangan tidur saat pelajaran.
Kesan: baik.
Pesan: semangat.
Menurut Raka, itu cukup.
Menurut Bima, kalau ia sempat melihat, itu lebih mirip hasil survei kepuasan pelanggan.
Raka tidak peduli.
Sampai sebuah amplop berhenti di tangannya.
Nama di depannya ditulis dengan huruf besar yang sedikit miring.
Naya.
Raka memegang kertas kecil di tangannya.
Pulpen belum bergerak.
Ia bisa menulis sesuatu yang aman.
Kesan: berisik.
Pesan: jangan terlalu sering memegang mikrofon.
Itu pasti terdengar seperti komentar siapa pun.
Naya mungkin akan tertawa saat membacanya. Mungkin ia akan mengangkat kertas itu keesokan paginya dan berkata, “Siapa pun yang menulis ini, kamu benar, tapi aku tidak akan berubah.”
Aman.
Ringan.
Lucu.
Tapi tangan Raka tetap diam.
Karena begitu melihat nama itu, yang muncul di kepalanya bukan hanya Naya yang berisik.
Yang muncul juga Naya sejak dulu.
Naya yang pernah memanggilnya dari depan kelas hanya untuk bertanya, “Rak, menurutmu ide Bima ini bodoh atau sangat bodoh?”
Naya yang duduk di bangku depannya lalu menoleh tanpa alasan penting, hanya untuk memastikan ia masih hidup karena, katanya, “Kamu diam banget, aku curiga kamu sudah logout dari dunia.”
Lalu ingatannya bergerak ke festival sekolah.
Hujan.
Payung hitam.
Permen herbal.
Senyum kecil Naya setelah ia akhirnya mau duduk sebentar di belakang stand.
Hal-hal yang seharusnya biasa saja, tapi ternyata Raka ingat terlalu jelas.
Raka menunduk.
Ia mulai menulis.
Tidak panjang seperti surat.
Tidak dramatis.
Tidak romantis dengan cara yang akan membuat siapa pun langsung heboh.
Ia hanya menulis hal-hal yang selama ini terlalu sering ia perhatikan.
Bahwa Naya membuat banyak hal terasa lebih hidup.
Bahwa ia sering terlihat kuat bahkan saat sebenarnya lelah.
Bahwa tidak semua hal harus ia tanggung dengan tertawa.
Bahwa sesekali diam juga tidak apa-apa.
Bahwa orang-orang tetap akan tinggal, bahkan ketika ia tidak sedang lucu.
Saat menulis kalimat terakhir, Raka baru sadar bahwa ia menahan napas.
Ia berhenti.
Membaca ulang tulisan itu sebentar.
Dadanya terasa aneh.
Bukan karena tulisannya terlalu panjang.
Bukan juga karena ia takut Naya tahu tulisan itu darinya.
Permainannya anonim.
Seharusnya aman.
Tapi justru karena anonim, tulisan itu terasa lebih jujur daripada yang ia rencanakan.
Lebih jujur dari semua kalimat yang pernah ia ucapkan langsung pada Naya.
Lebih jujur dari semua “tidak apa-apa”, “ambil saja”, “minum dulu”, atau “jangan dipaksakan” yang selama ini terdengar seperti komentar biasa.
Di sebelahnya, Bima tiba-tiba terlalu diam.
Itu bukan hal yang menenangkan.
Raka melipat kertas itu dengan rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop.
“Apa?” tanya Raka tanpa menoleh.
Bima hampir terlambat menjawab.
“Enggak.”
“Kamu aneh.”
“Terima kasih.”
Kini Raka benar-benar menoleh.
Tatapannya curiga.
Bima memasang wajah polos.
Wajah yang sama sekali tidak polos.
Raka tahu ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang terlalu tahu.
Tapi ia tidak melanjutkan.
Karena kalau ia bertanya, mungkin ia harus mengakui bahwa memang ada sesuatu yang bisa diketahui.
Dan ia belum siap.
Amplop berikutnya datang.
Raka menerimanya, tapi pikirannya masih tertinggal di amplop Naya.
Namun kepala Raka tidak sepenuhnya ikut berjalan.
Ia masih tertinggal di kertas kecil di dalam amplop Naya.
Pada kalimat yang sudah telanjur ia tulis.
Pada rasa aneh di dadanya yang tidak juga hilang.
Malam itu, alasan-alasan yang biasa ia pakai mulai terdengar tidak cukup.
Bukan sekadar terbiasa.
Bukan sekadar karena satu circle.
Bukan sekadar karena Naya memang sulit diabaikan.
Yang sebenarnya ada di baliknya mulai terlihat.
Belum ia ucapkan.
Tapi sudah terlalu jelas untuk pura-pura tidak ada.
Beberapa menit kemudian, permainan selesai.
Semua amplop kembali ke pemiliknya masing-masing.
Naya mengangkat mikrofon lagi.
“Amplop dibaca nanti di kamar, ya. Kalau ada yang tersinggung, jangan langsung keluar grup kelas. Minimal tunggu sampai besok pagi, biar dramanya ada saksi.”
Satu kelas tertawa.
Seseorang dari belakang berteriak, “Kalau ada yang jatuh cinta gimana?”
Naya mengangkat bahu.
“Itu bukan tanggung jawab panitia. Panitia cuma menyediakan amplop, bukan menyediakan keberanian.”
Tawa kembali pecah.
Raka diam.
Bima menoleh kepadanya terlalu cepat.
Raka balas menatap.
Bima langsung pura-pura sibuk merapikan amplopnya sendiri.
Amplop itu bahkan belum kusut.
Semakin mencurigakan.
Acara sudah selesai, dan aula perlahan berubah menjadi tempat kerja dadakan.
Beberapa siswa mengangkat kursi.
Sebagian lain melipat tikar dan membereskan perlengkapan acara.
Beberapa anak mencoba membuka amplop diam-diam, lalu langsung diteriaki Naya dari jauh.
“Baca di kamar! Kalau kalian trauma, jangan salahkan aku!”
Di tengah suara gesekan kursi dan obrolan yang mulai bercampur dengan kegiatan beres-beres itu, Bima berdiri di dekat Raka sambil memegang amplopnya sendiri.
Ia belum membuka amplop itu.
Tapi wajahnya sudah seperti orang yang baru membaca sesuatu.
Atau mencuri baca sesuatu.
Raka tidak yakin mana yang lebih buruk.
Bima melirik Raka.
Lalu melirik Naya yang sedang menegur beberapa anak agar tidak membuka amplop di aula.
Lalu kembali melirik Raka.
“Gawat,” bisik Bima pelan.
“Apa lagi?” tanya Raka.
Bima menggeleng sambil tersenyum.
“Kayaknya circle kita bakal seru.”
Raka tidak menjawab.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, suara Naya sudah lebih dulu terdengar dari belakang Bima.
“Bima! Jangan ditumpuk begitu!”
Bima menoleh.
Ternyata tanpa sadar ia sedang menyusun kursi sambil mengobrol dengan Raka.
Menurut Bima, susunannya sangat efisien.
Menurut Naya, itu adalah jebakan maut.
“Aman, kok.”
“Kalau ambruk gimana?”
“Berarti gravitasinya bekerja.”
“Bima!”
Alya datang sambil menghela napas panjang.
“Tolong susun yang benar.”
“Baik, Yang Mulia Ketua.”
“Jangan panggil aku begitu sambil membuat menara kursi ilegal.”
Salsa tertawa sambil mengumpulkan sisa kertas kosong.
Raka mengambil satu kursi yang hampir terseret ke arah kaki Naya.
Gerakannya otomatis.
Terlalu otomatis.
Naya menoleh.
“Tuh, kan. Petugas Ketertiban bekerja.”
“Aku hanya memindahkan kursi.”
“Dengan aura tanggung jawab.”
“Aura apa?”
“Aura orang yang kalau melihat kekacauan langsung ingin memperbaiki, tapi pura-pura tidak peduli.”
Raka terdiam sesaat.
Naya mengatakannya sambil bercanda.
Mungkin ia tidak memikirkan apa-apa.
Tapi kalimat itu mengenai tempat yang terlalu dekat.
Bima, tentu saja, mendengar.
“Wah,” katanya pelan.
Raka menoleh.
Bima langsung mengangkat kursi sebagai tameng.
“Aku tidak berkata apa-apa.”
“Kamu baru saja bilang wah.”
“Itu bukan pernyataan. Itu efek suara.”
Alya menghela napas.
“Efek suara sambil kerja, Bima.”
“Baik, Yang Mulia Ketua.”
“Jangan panggil aku begitu sambil berlindung di balik kursi.”
Naya tertawa.
Suaranya sedikit serak.
Raka menyadarinya sebelum ia sempat mencegah diri sendiri.
Ia hampir mengatakan, “Minum dulu.”
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.
Namun ia menahannya.
Karena tiba-tiba, setelah menulis kalimat-kalimat di amplop Naya, semua hal kecil terasa punya arti yang terlalu jelas.
Memberi permen.
Menyuruh minum.
Mengambil kursi sebelum jatuh.
Memperhatikan suara Naya.
Dulu ia bisa melakukannya tanpa berpikir.
Sekarang ia merasa seluruh tubuhnya terlalu jujur.
Naya menyipit.
“Kenapa?”
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Kamu kelihatan mau komentar.”
“Tidak.”
“Bohong.”
Bima langsung menyahut dari balik kursi.
“Sebagai jaksa, aku mencium kebohongan.”
Alya berkata, “Sebagai ketua kelas, aku mencium bahaya karena kamu masih memegang kursi terbalik.”
Bima melihat kursi di tangannya.
“Oh.”
Salsa tertawa kecil.
Raka akhirnya mengambil botol minum yang ada di meja dekatnya, lalu menyodorkannya pada Naya tanpa menatap terlalu lama.
“Minum. Suaramu mulai serak.”
Naya berkedip.
Lalu menerima botol itu.
“Lihat, kan,” katanya puas. “Petugas Ketertiban memang peduli.”
“Agar besok tidak berisik dengan suara rusak.”
“Aku tetap bisa berisik meski suara rusak.”
“Itu yang kukhawatirkan.”
Naya tertawa lagi.
Raka melihat sebentar.
Dadanya kembali terasa aneh.
Tidak terlalu menyakitkan.
Lebih seperti hangat yang membuatnya ingin segera melihat ke arah lain sebelum ketahuan.
Bima, sayangnya, melihat.
Bima selalu melihat pada saat yang paling tidak diperlukan.
Ia tersenyum kecil.
Raka menatapnya.
Bima langsung berdeham.
“Aku sedang fokus pada kursi.”
“Kursinya di lantai,” kata Salsa lembut.
“Fokus batin.”
Alya menunjuk tumpukan kursi.
“Fokus fisik sekarang.”
Setelah aula beres, siswa-siswa mulai kembali ke kamar masing-masing.
Udara malam di penginapan terasa lebih dingin.
Beberapa anak masih bercanda di koridor. Ada yang sudah membuka amplop diam-diam dan langsung menutupnya lagi dengan wajah seperti baru membaca ramalan buruk.
Naya berjalan di depan circle sambil menggoyangkan amplopnya.
“Aku penasaran isi amplopku.”
Bima langsung menatap Raka.
Raka tidak bereaksi.
Atau setidaknya berusaha terlihat tidak bereaksi.
Alya berkata, “Baca di kamar.”
“Aku tahu. Tapi penasaran.”
Salsa tersenyum.
“Pasti banyak yang bilang kamu berisik.”
Naya mengangkat dagu.
“Itu bukan kritik. Itu identitas.”
Bima mengangguk.
“Benar. Kalau Naya tidak berisik, sekolah harus dicek.”
“Kenapa sekolah?”
“Karena pasti ada gangguan sistem.”
Raka berkata pelan, “Atau dia sakit.”
Naya menoleh.
“Kenapa kamu masih mengingat itu?”
Raka baru sadar ia mengatakannya.
“Pernah terjadi.”
“Itu kan sudah lama.”
“Satu bulan.”
“Lama dalam kalender emosional.”
Raka menatapnya.
“Kalender apa?”
“Punya orang yang tidak mau diingatkan sakit.”
Bima menatap keduanya.
Alya juga.
Salsa tersenyum tipis.
Naya tidak sadar.
Ia hanya berjalan sambil menggoyangkan amplopnya.
Raka menatap punggung Naya sebentar.
Mungkin semuanya memang tidak dimulai dari satu momen besar.
Mungkin dari gangguan-gangguan kecil yang lama-lama ia tunggu tanpa sadar.
Lalu dari hal-hal yang telanjur ia simpan: payung, permen herbal, botol minum, dan roti yang tidak jadi ia makan karena Naya belum sarapan.
Di koridor penginapan yang dingin itu, Raka akhirnya tahu.
Ia tidak memperhatikan semua orang seperti itu.
Ia hanya memperhatikan Naya seperti itu.
Setibanya di koridor kamar, mereka harus berpisah.
Kamar putra di sisi kanan.
Kamar putri di sisi kiri.
Bima berdiri di depan pintu kamar putra sambil menatap amplopnya.
“Aku takut membaca isi amplopku.”
Naya langsung berkata, “Takut dikritik?”
“Takut terlalu banyak yang mengagumiku.”
Alya menatapnya datar.
“Tidur.”
Salsa tertawa.
Naya melambaikan amplopnya.
“Besok pagi kita bahas isi amplop?”
Alya langsung menggeleng.
“Jangan semuanya. Itu anonim.”
“Kalau lucu aja?”
“Kalau pemiliknya mau.”
Bima mengangkat tangan.
“Aku bersedia membacakan pujian untukku.”
“Tidak ada yang minta,” kata Raka.
Bima menatapnya.
“Kamu belum baca. Jangan pesimis.”
“Aku realistis.”
Naya tertawa.
Suaranya menggema sedikit di koridor.
Raka melihatnya.
Tidak lama.
Namun kali ini Bima berdiri cukup dekat untuk melihat.
Setelah para cewek masuk ke kamar mereka, Bima dan Raka masuk ke kamar putra.
Kamar sudah ramai oleh anak-anak yang membuka amplop masing-masing.
Ada yang tertawa.
Ada yang tersinggung ringan.
Ada yang mencoba menebak tulisan siapa, lalu langsung salah tiga kali berturut-turut.
Bima duduk di pinggir kasur, memegang amplopnya seperti memegang hasil vonis.
Raka duduk di kasur sebelah dan meletakkan amplopnya di atas tas.
“Rak,” kata Bima.
“Hm?”
“Kamu nggak baca?”
“Nanti.”
“Kenapa?”
“Mengantuk.”
Bima menyipit.
“Alasanmu terlalu normal.”
“Memang.”
Bima menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Raka tahu tatapan itu.
Tatapan Bima saat ia sedang menahan pertanyaan.
Itu pemandangan langka.
Hampir layak difoto.
Namun Bima akhirnya hanya membuka amplopnya sendiri.
Beberapa detik kemudian, ia memegang dada.
“Kenapa ada yang menulis ‘jangan jadi jaksa beneran’?”
Raka melirik.
“Karena mereka peduli masa depan negara.”
Anak-anak kamar tertawa.
Bima menunjuk Raka.
“Bahkan di kamar pun kamu menyerang.”
Raka tidak menjawab.
Ia mengambil amplopnya.
Melihat namanya sendiri di bagian depan.
Lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa membuka.
Bima melihat.
“Serius besok?”
“Besok.”
“Kenapa?”
“Biar tidak lama membaca sebelum tidur.”
Bima menyipit.
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Tidak ada.”
“Bima.”
“Aku sedang belajar menghormati privasi.”
Raka menatapnya lebih lama.
Itu kalimat yang sangat tidak Bima.
Namun akhirnya Raka hanya berkata, “Bagus.”
Bima berbaring di kasur sambil menatap langit-langit.
Lampu kamar masih menyala.
Anak-anak lain masih ribut membaca amplop.
Namun Raka tahu Bima belum sepenuhnya membaca isi amplopnya sendiri.
Sebagian pikiran Bima masih tertinggal di aula.
Raka bisa merasakannya.
Mungkin Bima melihat sesuatu.
Mungkin tidak.
Mungkin ia hanya curiga karena Raka terlalu lama menulis.
Mungkin ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.
Raka menatap tasnya sendiri.
Amplop miliknya ada di dalam sana.
Ia belum ingin membukanya.
Bukan karena takut dikritik.
Ia hanya belum siap kalau ada yang menulis sesuatu yang terlalu benar.
Dari kasur sebelah, Bima masih sesekali melirik dengan wajah yang terlalu tahu.
Raka membuka mata.
“Apa lagi?”
Bima menoleh.
“Apa?”
“Wajahmu berisik.”
Bima memegang dada.
“Itu tuduhan baru.”
“Dan akurat.”
Bima tertawa kecil.
Raka menarik selimutnya.
“Tidur, Bim.”
“Siap, Petugas Ketertiban.”
Raka hampir melempar bantal.
Hampir.
Lampu kamar masih menyala. Anak-anak lain masih ribut menebak tulisan anonim. Di luar, udara pegunungan semakin dingin.
Besok pagi, semuanya mungkin terlihat sama.
Naya akan tetap berisik.
Bima akan tetap menyebalkan.
Raka akan tetap diam.
Bedanya, sekarang Raka sudah tahu kenapa diamnya terasa penuh.
Ia memejamkan mata.
Lalu teringat satu hal.
Besok pagi, Naya akan membuka amplopnya.
Dan di dalam amplop itu, ada tulisan Raka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar