Selasa, 16 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 7 / 20

Chapter 7

Cewek Populer Juga Bisa Capek

Ada satu hal yang seharusnya tidak diberikan kepada Naya terlalu cepat.

Panggung.

Karena begitu ia mendengar bahwa setiap stand wajib menampilkan sesi pembuka di panggung kecil festival, otaknya langsung bekerja dengan kecepatan yang membuat Alya ingin menyita mikrofon sebelum mikrofon itu ada.

“Jadi begini,” kata Naya sambil berdiri di depan papan tulis. “Kita bikin opening sidang.”

Alya sudah curiga sejak kata “jadi”.

“Opening sidang maksudnya apa?”

“Pengunjung festival lewat, terus tiba-tiba kita adakan sidang darurat di panggung.”

“Sidang siapa?”

Naya menunjuk Bima.

Bima yang sejak tadi memegang palu kardus langsung berdiri tegak.

“Aku siap menjadi jaksa.”

“Bukan,” kata Naya.

Bima membeku.

“Kamu jadi terdakwa.”

“Maaf?”

“Opening-nya begini. Bima ditangkap karena membawa palu mencurigakan ke sekolah.”

Satu kelas langsung tertawa.

Bima menatap Naya seperti baru saja dikhianati oleh negara.

“Itu berdasarkan kisah nyata.”

“Makanya kuat,” jawab Naya.

Alya memejamkan mata.

Ia tidak tahu harus menolak karena ide itu konyol atau menerima karena, sayangnya, ide itu memang cocok.

Salsa menutup mulut, menahan tawa.

Raka yang duduk di dekat jendela hanya menatap palu kardus di tangan Bima.

“Secara bukti, kuat,” katanya.

Bima menunjuk Raka.

“Kamu juga?”

“Pernah terjadi.”

“Sejarah ditulis oleh pihak yang menang,” kata Bima muram.

“Dan oleh orang yang tidak membawa palu sungguhan ke sekolah,” tambah Alya.

Tawa kelas makin keras.

Naya mengambil spidol dan menulis di papan:

OPENING: SIDANG DARURAT BIMA

Bima langsung berdiri.

“Keberatan.”

“Ditolak,” kata Naya cepat.

“Aku belum menyampaikan alasan.”

“Sudah terbaca dari wajahmu.”

“Aku menuntut peran yang lebih bermartabat.”

“Tenang. Kamu akan menjadi terdakwa paling penting.”

“Tidak membantu.”

Alya menatap tulisan di papan.

“Berapa durasi opening?”

“Maksimal tiga menit,” jawab Raka sebelum Naya sempat menjawab.

Semua menoleh padanya.

Raka membuka catatannya.

“Kalau terlalu lama, orang lewat bosan. Kalau terlalu pendek, mereka belum paham konsep stand. Tiga menit cukup untuk konflik, punchline, ajakan datang ke stand.”

Naya menunjuk Raka dengan penuh semangat.

“Nah! Itu produser kita.”

“Aku bukan produser.”

“Kalau begitu pengawas durasi.”

“Lebih masuk akal.”

Alya mencatat.

“Baik. Opening tiga menit. Bima terdakwa. Naya pembela atau MC?”

“Dua-duanya,” jawab Naya.

Alya menatapnya.

Naya tersenyum.

“Aku multifungsi.”

“Berbahaya.”

“Terima kasih.”

Salsa mengangkat tangan pelan.

“Kalau untuk menarik pengunjung, kita juga bisa bawa poster besar. Aku bisa desain satu poster khusus untuk opening.”

“Bagus,” kata Alya. “Kamu bisa buat?”

“Bisa.”

Dari belakang kelas, seseorang langsung menyahut, “Kalau Salsa yang bawa poster, pasti ramai.”

Beberapa anak lain tertawa.

“Bener.”

“Sal, nanti berdiri di depan stand aja.”

“Jadi ikon stand.”

“Kalau Salsa manggil, anak kelas lain pasti datang.”

Salsa tersenyum.

Senyum yang sama seperti biasanya.

Ramah.

Aman.

Sedikit terlalu siap.

“Lihat nanti, ya,” katanya.

Naya melirik Salsa.

Lalu melihat anak-anak yang masih bercanda.

Alya sedang sibuk mencatat.

Bima sedang berdebat dengan Dito soal apakah terdakwa boleh menggugat balik.

Raka menulis sesuatu di buku.

Tidak ada yang benar-benar menangkap perubahan kecil di wajah Salsa.

Atau mungkin ada.

Raka mengangkat wajah sebentar.

Melihat Salsa.

Lalu kembali menulis.

Hari itu, persiapan opening dimulai.

Naya menulis naskah kasar dengan kecepatan luar biasa.

Bima berulang kali meminta agar karakter terdakwa diberi “martabat”, dan setiap permintaan itu justru membuat Naya menambahkan satu kesalahan baru ke daftar dakwaannya.

Alya menyusun jadwal latihan.

Raka membuat batas durasi dan tanda kapan tiap bagian harus masuk.

Salsa mulai mendesain poster opening.

Di atas kertas sketsanya, ia menulis:

DATANG DAN SAKSIKAN!
SIDANG PALING TIDAK PENTING TAHUN INI

Di bawahnya, ada ilustrasi palu hakim, siluet siswa, dan tulisan kecil:

Ruang Sidang Anak Sekolah XI IPA 2

Naya menatap sketsa itu dengan mata berbinar.

“Sal, kamu tuh kalau bikin poster kayak beneran niat.”

“Memang niat,” jawab Salsa.

“Tidak semua orang di ruangan ini familiar dengan konsep itu,” kata Alya sambil melirik Bima.

Bima tersinggung.

“Aku juga niat.”

“Kamu niat menjadi masalah.”

“Itu tetap niat.”

Raka melihat sketsa Salsa.

“Bagian tanggal dan lokasi sudah jelas.”

Salsa menoleh.

“Menurutmu cukup menarik?”

“Cukup.”

Bima langsung berbisik pada Naya, “Kalau Raka bilang cukup, berarti bagus banget.”

Naya mengangguk. “Standar pujian dia memang hemat.”

Raka tidak menanggapi.

Namun Salsa tersenyum sedikit.

“Berarti aku lanjut digital, ya.”

Alya mengangguk.

“Terima kasih, Sal.”

“Tenang.”

Salsa kembali menggambar.

Untuk beberapa saat, ia terlihat nyaman.

Sampai bel istirahat berbunyi dan beberapa anak dari kelas lain datang ke depan kelas mereka.

Awalnya cuma dua orang.

Lalu empat.

Lalu entah bagaimana jadi tujuh.

Sebagian melihat poster yang ditempel di papan pengumuman dekat kelas.

Sebagian lagi jelas datang karena melihat story Salsa.

“Sal, poster yang kamu upload itu kamu yang desain?”

“Iya,” jawab Salsa.

“Keren banget.”

“Makasih.”

“Nanti kamu jaga stand jam berapa?”

Salsa berhenti sebentar.

“Belum tahu.”

“Kalau kamu ada, aku datang.”

Teman di sebelahnya menyikut. “Modus banget.”

Anak itu tertawa.

Salsa ikut tersenyum.

Lagi-lagi senyum yang aman.

“Datang aja. Stand-nya seru, kok.”

“Kalau kamu yang ngajak, pasti datang.”

Naya yang duduk di meja depan langsung menyela.

“Kalau yang ngajak konsep stand-nya gimana?”

Anak itu menoleh.

“Hah?”

“Kami juga punya harga diri sebagai tim kreatif,” kata Naya. “Jangan cuma datang karena Salsa. Datanglah juga karena kalian ingin mempertanggungjawabkan dosa sosial kalian.”

Bima muncul di belakang Naya sambil membawa palu kardus.

“Benar. Apakah kalian pernah menghilangkan charger orang?”

Salah satu anak langsung mundur setengah langkah.

“Wah, kok spesifik?”

Bima menyipitkan mata.

“Mencurigakan.”

Anak-anak itu tertawa.

Suasana mencair.

Sebagian mulai bertanya soal konsep stand.

Sebagian meminta contoh kasus.

Naya langsung menjelaskan dengan gaya seperti pemandu acara.

Bima menambahkan dakwaan yang tidak diminta.

Alya datang untuk memastikan mereka tidak membocorkan semua isi stand sebelum festival.

Salsa berdiri di belakang sedikit, masih tersenyum, tapi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat perhatian.

Raka yang sejak tadi duduk di tempatnya memperhatikan itu.

Tidak lama.

Hanya sebentar.

Lalu ia menunduk lagi.

Saat anak-anak kelas lain pergi, Salsa duduk kembali sambil menghela napas kecil.

Naya meletakkan siku di meja Salsa.

“Capek?”

Salsa berkedip.

“Hm?”

“Dijadikan brosur berjalan.”

Salsa tertawa kecil.

“Enggak juga.”

“Bohong.”

Salsa menatap Naya.

Naya tersenyum.

Tidak meledek.

Tidak heboh.

Hanya melihat dengan cara yang membuat orang sulit pura-pura terlalu lama.

Akhirnya Salsa menghela napas.

“Sedikit.”

Naya mengangguk.

“Kalau ada yang mulai nyebelin, bilang aja. Nanti Bima kita lepas.”

Dari belakang, Bima langsung menoleh.

“Aku anjing penjaga?”

“Kamu lebih ke alarm rusak. Tapi berguna.”

Bima tampak mempertimbangkan apakah itu pujian.

Raka berdiri dari kursinya dan berjalan ke meja mereka.

Ia meletakkan selembar kertas di depan Salsa.

Salsa melihat kertas itu.

“Ini apa?”

“Jadwal jaga stand sementara.”

Alya ikut mendekat.

“Kamu sudah buat?”

“Baru draft.”

Salsa membaca.

Di sana, nama Salsa tidak ditempatkan terus-menerus di bagian depan stand.

Ia mendapat giliran promosi, desain, dan satu sesi sebagai saksi.

Tidak lebih banyak daripada yang lain.

Bima mendapat beberapa sesi sebagai jaksa.

Naya sebagai MC dan pembela.

Alya sebagai hakim dan koordinator.

Raka sebagai teknis dan pengatur antrean.

Beberapa anggota kelas lain juga sudah dimasukkan bergantian.

Salsa menatap jadwal itu lebih lama dari yang diperlukan.

“Kenapa aku cuma satu sesi saksi?”

Raka diam sebentar.

“Biar tidak terlalu capek.”

Bima langsung menoleh.

“Ohoo?”

Alya menatap Bima.

“Jangan.”

Bima pura-pura menutup mulut dengan palu kardus.

Raka melanjutkan dengan nada datar, “Kalau kamu terus di depan, orang datang karena kamu. Bukan karena stand. Nanti capek juga.”

Salsa tidak langsung menjawab.

Kalimat itu biasa saja.

Tidak manis.

Tidak berlebihan.

Tapi untuk Salsa, kalimat itu terasa cukup langka.

Biasanya orang hanya berkata, “Kamu di depan aja biar ramai.”

Jarang ada yang bertanya apakah ia lelah.

Lebih jarang lagi ada yang menyusun jadwal seolah kelelahan itu memang hal yang perlu dicegah.

“Oh,” kata Salsa akhirnya.

Lalu tersenyum.

Kali ini, senyumnya sedikit berbeda.

Lebih kecil.

Tapi lebih asli.

“Makasih, Rak.”

Raka mengangguk.

“Jadwalnya masih bisa diubah.”

Naya melirik Salsa.

Lalu Raka.

Lalu Salsa lagi.

“Ohoo.”

Alya langsung berkata, “Naya.”

“Aku cuma menikmati perkembangan sosial.”

“Jangan jadikan orang proyek penelitian.”

“Tidak. Aku penonton.”

Bima ikut mengangkat tangan.

“Aku juga.”

“Justru itu masalahnya,” kata Alya.

Salsa tertawa pelan.

Namun tawa itu tidak sepenuhnya canggung seperti tadi.

Setelah pulang sekolah, mereka latihan opening pertama.

Lokasinya di kelas kosong sebelah, karena kelas mereka masih dipakai beberapa anak untuk mengerjakan tugas.

Naya berdiri di depan sebagai MC.

Bima duduk di kursi terdakwa dengan wajah yang menurutnya penuh martabat, tapi menurut semua orang mirip orang menahan bersin.

Alya menjadi hakim.

Salsa mengamati sambil sesekali mencatat bagian yang bisa dipakai untuk poster.

Raka memegang stopwatch.

“Mulai,” kata Raka.

Naya langsung mengangkat tangan seolah memegang mikrofon.

“Saudara-saudara sekalian! Pada hari yang penuh kejanggalan ini, kita berkumpul untuk menyaksikan perkara besar yang mengguncang dunia pendidikan!”

Bima berdiri.

“Saya keberatan sebelum dituduh.”

“Duduk,” kata Alya.

Bima duduk.

“Di hadapan kita,” lanjut Naya, “terdapat seorang siswa bernama Bima, yang didakwa membawa palu mencurigakan ke sekolah dengan alasan ‘simbol keadilan’.”

Bima berdiri lagi.

“Itu benar secara ideologis!”

“Duduk,” kata Alya.

Bima duduk lagi.

Salsa tertawa.

Raka melihat stopwatch.

“Empat puluh detik.”

Naya mengangguk.

“Bagus. Lanjut.”

Bima berdiri ketiga kalinya.

“Sebagai terdakwa, saya ingin menyampaikan bahwa palu tersebut tidak bersalah. Ia hanya ingin diakui.”

Alya mengetuk meja dengan palu kardus.

Tok.

“Palu tidak punya perasaan.”

Bima memegang dada.

“Justru karena semua orang berpikir begitu, palu-palu di dunia menderita.”

Naya menutup wajah dengan kertas naskah.

Salsa tertawa lebih keras.

Alya memejamkan mata.

“Ini keluar naskah.”

Bima mengangkat tangan.

“Improvisasi.”

“Jangan.”

Raka berkata datar, “Satu menit dua puluh detik. Bima sudah keluar jalur dua kali.”

“Catatan yang menyakitkan,” kata Bima.

“Tapi akurat.”

Mereka mengulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pada percobaan keempat, opening berhasil selesai dalam tiga menit dua belas detik.

Raka menatap stopwatch.

“Masih lewat dua belas detik.”

Naya menjatuhkan diri ke kursi.

“Dua belas detik itu masih manusiawi.”

“Kalau lima sesi, jadi satu menit.”

“Raka, kamu menghitung penderitaan.”

“Agar tidak bertambah.”

Alya mengangguk.

“Raka benar.”

Naya menatap Alya.

“Kamu sekarang sering memihak Raka.”

Alya langsung tegak.

“Karena dia benar.”

“Ohoo.”

“Naya.”

Bima mengangkat tangan.

“Sebagai terdakwa, aku juga merasa Raka benar. Bagian dakwaanku terlalu pendek.”

“Tidak ada yang bilang begitu,” kata Salsa.

“Perasaanku bilang.”

“Perasaanmu tidak masuk rundown,” kata Raka.

Naya tertawa.

Latihan berlangsung sampai sore.

Tidak terlalu lancar.

Tidak terlalu rapi.

Tapi cukup membuat mereka mulai tahu bagaimana satu sama lain bekerja.

Alya tegas, tapi mulai belajar tertawa saat rencana tidak berjalan sempurna.

Naya spontan, tapi selalu punya cara membuat suasana hidup.

Bima kacau, tapi anehnya membuat naskah lebih lucu.

Salsa tenang, tapi matanya jeli menangkap bagian yang bisa dipakai untuk menarik perhatian orang.

Raka diam, tapi hampir selalu tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.

Ketika mereka akhirnya beristirahat, Salsa duduk di dekat jendela sambil melihat ulang foto-foto poster di ponselnya.

Bima dan Naya masih berdebat soal apakah palu kardus layak diberi nama.

Alya mengecek catatan.

Raka berdiri di dekat pintu, memasukkan stopwatch dan catatan ke tasnya.

Dari luar kelas, dua siswa laki-laki lewat.

Salah satu dari mereka berhenti saat melihat Salsa.

“Sal.”

Salsa mengangkat wajah.

“Iya?”

“Nanti pas festival kamu di stand terus, kan?”

Salsa tersenyum.

“Belum tahu.”

“Yah, harusnya kamu di depan terus. Biar stand kalian ramai.”

Temannya tertawa.

“Bener. Kalau bukan karena kamu, paling stand sidang-sidangan itu nggak ada yang datang.”

Ruangan langsung terasa sedikit berubah.

Tidak drastis.

Tidak sampai sunyi total.

Tapi cukup untuk membuat Naya berhenti bicara.

Alya mengangkat wajah dari catatannya.

Bima menurunkan palu kardus.

Salsa masih tersenyum.

Namun senyumnya kali ini kaku.

Sebelum Naya sempat membalas, Raka sudah bicara.

“Kalau cuma mau lihat Salsa, bukan di stand kami tempatnya.”

Dua siswa itu menoleh ke Raka.

Raka berdiri dengan tas di bahu.

Wajahnya biasa saja.

Tidak marah.

Tidak menantang.

Justru karena itu kalimatnya terasa lebih tajam.

Salah satu siswa mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Stand kami ada konsep. Datang kalau mau ikut. Kalau cuma mau menjadikan orang sebagai pajangan, jangan.”

Hening.

Naya menatap Raka.

Bima perlahan membuka mulut.

Alya terlihat sama terkejutnya.

Salsa juga.

Siswa itu tertawa canggung.

“Lah, santai aja kali.”

“Memang santai,” kata Raka.

Nada suaranya tetap datar.

“Tapi jangan begitu.”

Temannya menarik lengan siswa itu.

“Udah, ayo.”

Mereka pergi sambil bergumam tidak jelas.

Beberapa detik setelah mereka menghilang dari koridor, Bima menunjuk Raka dengan palu kardus.

“Yang Mulia.”

Alya menoleh.

“Kenapa?”

“Saya mengajukan Raka sebagai saksi ahli keberanian mendadak.”

Raka menatapnya.

“Jangan.”

Naya berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Raka.

Matanya menyipit.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu barusan ngomong panjang.”

“Tidak terlalu.”

“Itu panjang untuk standarmu.”

Raka tidak menjawab.

Salsa berdiri pelan.

“Rak.”

Raka menoleh.

Salsa tersenyum kecil.

“Makasih.”

Raka mengangguk.

“Sama-sama.”

Hanya itu.

Tidak ada kalimat tambahan.

Tidak ada basa-basi.

Tapi cukup.

Alya menatap Raka sebentar, lalu Salsa.

Naya juga melihat mereka.

Bima, tentu saja, melihat semuanya dengan ekspresi orang yang baru menemukan bahan gosip bermutu tinggi.

Namun sebelum Bima sempat membuka mulut, Alya sudah menunjuknya.

“Jangan.”

Bima menutup mulut.

“Tapi—”

“Jangan.”

Bima menurunkan palu.

“Demokrasi kembali mati.”

Salsa tertawa kecil.

Kali ini lebih lega.

Latihan hari itu selesai tidak lama kemudian.

Saat mereka keluar kelas, langit sudah mulai jingga.

Naya berjalan di depan bersama Bima, masih membahas kemungkinan nama untuk palu kardus.

“Palu itu harus punya nama,” kata Bima.

“Nggak harus.”

“Harus. Semua senjata legendaris punya nama.”

“Itu bukan senjata.”

“Semua properti legendaris punya nama.”

Naya berpikir sebentar.

“Palkon.”

Bima berhenti.

“Palkon?”

“Palu kondangan.”

“Itu hinaan.”

“Palkim?”

“Palu hakim?”

“Iya.”

Bima terdiam.

“Lumayan.”

Di belakang mereka, Alya berjalan bersama Salsa.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Alya pelan.

Salsa tersenyum.

“Iya. Sudah biasa.”

Alya mengerutkan kening.

“Justru itu yang nggak enak.”

Salsa tidak langsung menjawab.

Lalu ia tertawa kecil.

“Iya juga.”

Raka berjalan sedikit di belakang, tidak ikut dalam percakapan.

Namun ia mendengar.

Dan seperti biasa, ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Malamnya, di grup Mahkamah Receh, Salsa mengirim poster ketiga.

DICARI!
Pelaku Pemakan Gorengan Terakhir

Respons grup langsung ramai.

Naya: INI DIA KASUS BERAT.

Bima: Hukuman maksimal.

Alya: Jangan terlalu banyak tanda seru di caption.

Salsa: Siap.

Raka: Poster sudah bagus. Caption bisa lebih pendek.

Naya: Raka hari ini sedang banyak komentar.

Bima: Efek menjadi pahlawan koridor.

Salsa yang membaca pesan itu langsung mengetik.

Salsa: Jangan diledek. Tadi aku benar-benar terbantu.

Grup hening beberapa detik.

Lalu Naya membalas.

Naya: Siap, Sal. Tapi tetap boleh kami catat sebagai sejarah?

Salsa: Boleh sedikit.

Bima: SEJARAH: RAKA MENGGUNAKAN LEBIH DARI SEPULUH KATA UNTUK MEMBELA KEADILAN.

Raka: Jangan caps lock.

Alya: Setuju.

Naya: Setuju dengan Raka atau setuju jangan caps lock?

Alya: Dua-duanya.

Bima: Ohoo.

Alya: Bima.

Salsa membaca chat itu sambil tersenyum.

Di kamarnya, poster keempat masih terbuka di layar laptop.

Biasanya, setelah kejadian seperti tadi, ia akan merasa malas menjadi pusat perhatian.

Tapi malam itu sedikit berbeda.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada yang mengingatkan orang lain bahwa ia bukan pajangan.

Mungkin karena teman-teman barunya tidak memperlakukannya seperti alat promosi.

Mungkin karena saat ia berkata capek, ada yang benar-benar percaya.

Salsa mengetik pelan di grup.

Salsa: Besok aku bawa desain kartu kasus ya. Biar kita bisa pilih bareng.

Naya langsung membalas.

Naya: Siap, saksi utama.

Lalu pesan lain muncul.

Raka: Jangan terlalu banyak. Nanti capek.

Salsa membaca pesan itu.

Senyumnya muncul lagi.

Kecil.

Tapi tulus.

Salsa: Iya, Pak Pengatur Durasi.

Raka tidak membalas.

Bima yang membalas.

Bima: WAH ADA JABATAN BARU.

Alya: Jangan caps lock.

Naya: Pak Pengatur Durasi terdengar seperti guru piket waktu.

Raka: Aku keluar grup.

Naya: Jangan. Nanti siapa yang mengingatkan Bima punya batas bicara?

Raka: Benar juga.

Bima mengirim stiker menangis.

Malam itu, grup kembali ramai.

Dan untuk pertama kalinya, Salsa tidak merasa ia harus selalu tersenyum dengan cara yang aman.

Ia bisa tertawa.

Sedikit lebih lepas.

Sedikit lebih nyaman.

Namun kenyamanan baru itu justru membuat sesuatu yang lain mulai bergerak tanpa mereka sadari.

Karena keesokan harinya, saat Salsa datang ke kelas, di mejanya sudah ada selembar kertas kecil.

Dilipat rapi.

Tanpa nama.

Salsa membukanya.

Isinya hanya satu kalimat.

Nanti pas festival, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.

Salsa menatap kertas itu.

Naya yang baru masuk langsung melihat wajahnya.

“Sal?”

Salsa mengangkat kertas itu pelan.

Bima yang muncul dari belakang Naya langsung membelalak.

“Wah.”

Alya berhenti di ambang pintu.

Raka yang baru masuk beberapa langkah di belakang mereka ikut melihat.

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Lalu Bima berbisik dengan nada terlalu serius,

“Sepertinya kasus baru telah masuk ke pengadilan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar