Rabu, 17 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 8 / 20

Chapter 8

Semua Orang Mulai Salah Paham

Ada banyak benda yang bisa membuat suasana kelas berubah dalam waktu singkat.

Nilai ulangan yang dibagikan.

Guru matematika masuk membawa map tebal.

Pengumuman piket dadakan.

Atau, dalam kasus pagi itu, selembar kertas kecil tanpa nama yang ditemukan di meja Salsa.

Nanti pas festival, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.

Kalimatnya pendek.

Tidak ada hiasan.

Tidak ada gambar hati.

Tidak ada inisial.

Tapi justru karena itu, efeknya lebih berbahaya.

Kelas XI IPA 2 yang beberapa detik sebelumnya masih sibuk dengan urusan pagi masing-masing langsung berubah menjadi ruang investigasi.

Bima berdiri paling depan.

Tentu saja.

Ia mengambil posisi di samping meja Salsa dengan wajah serius, seolah baru saja menerima kasus nasional.

“Teman-teman,” katanya pelan, “kita menghadapi perkara besar.”

Alya langsung bergerak cepat.

“Jangan mulai.”

Bima menunjuk kertas di tangan Salsa.

“Surat anonim.”

“Itu bukan urusan kita.”

“Tanpa nama.”

“Justru itu bukan urusan kita.”

“Berpotensi confess.”

“Bima.”

“Dan waktunya festival.”

Alya terdiam sebentar.

Bagian terakhir itu memang agak merepotkan.

Karena kalau ada orang mengganggu Salsa saat festival, apalagi di tengah jadwal stand yang sudah mereka susun, itu bisa jadi masalah.

Bima melihat celah itu dan langsung memanfaatkannya.

“Sebagai tim inti, kita wajib menjaga stabilitas saksi utama.”

“Aku bukan saksi utama,” kata Salsa pelan.

“Nanti bisa berubah tergantung kebutuhan naskah.”

Naya yang berdiri di sebelah Salsa mengambil kertas itu, membaca sekali lagi, lalu menatap Salsa.

“Kamu tahu dari siapa?”

Salsa menggeleng.

“Enggak.”

“Curiga siapa?”

“Enggak juga.”

Jawaban itu terlalu tenang.

Tapi Naya tahu Salsa cukup pandai menyembunyikan rasa tidak nyaman di balik suara tenang.

Masalahnya, Bima tidak punya keahlian membaca suasana sebaik itu.

Atau punya, tapi sering kalah oleh keinginannya membuat situasi jadi lebih ramai.

Ia sudah mengeluarkan buku kecil dari tasnya.

Alya menatap buku itu.

“Itu apa?”

“Buku catatan penyelidikan.”

“Kamu punya buku catatan penyelidikan?”

“Baru beli kemarin.”

“Kenapa?”

“Untuk keadaan seperti ini.”

Naya mengintip isi buku itu.

Halaman pertama tertulis besar:

KASUS-KASUS YANG BELUM DIPECAHKAN

Di bawahnya ada beberapa poin:

  1. Siapa yang menghabiskan saus kantin?

  2. Kenapa Raka selalu datang saat azan?

  3. Apakah Alya punya mode santai?

  4. Siapa pengirim surat Salsa?

Naya menunjuk nomor dua.

“Pertanyaan nomor dua itu bukan misteri.”

“Bagi ilmu pengetahuan, semua bisa diteliti.”

Raka yang baru saja meletakkan tasnya di kursi menoleh.

“Apa?”

“Tidak ada,” kata Alya cepat.

Bima menutup bukunya.

“Terlambat. Penyelidikan sudah dimulai.”

Raka melihat kertas di tangan Naya, lalu ke Salsa.

“Ada masalah?”

Salsa menggeleng pelan.

“Belum tahu.”

Raka mengangguk.

Tidak bertanya lebih jauh.

Tidak membuat ekspresi heboh.

Tidak memperlakukan kertas itu seperti bom.

Ia hanya berkata, “Kalau nanti mengganggu jadwal, bilang.”

Salsa menatapnya.

“Maksudnya?”

“Kalau kamu jadi nggak nyaman, sesi saksi bisa diganti.”

Bima langsung menunjuk Raka.

“Lihat! Ini respons orang teknis. Bahkan confess pun dianggap gangguan jadwal.”

“Memang bisa mengganggu,” kata Raka.

Naya menatap Raka sambil menyipit.

“Kamu kalau ada orang confess, yang kamu pikirkan pertama kali jadwal?”

Raka diam sebentar.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Confess-nya kapan.”

Bima menepuk buku catatannya.

“Catat. Raka tidak menolak konsep confess. Ia hanya peduli waktu pelaksanaan.”

Alya mengambil buku Bima.

“Disita sampai istirahat.”

“Bu Ketua!”

“Demi keselamatan kelas.”

Naya tertawa.

Salsa juga ikut tertawa kecil, meski masih memegang kertas itu dengan hati-hati.

Untuk sementara, suasana kembali cair.

Tapi tentu saja, berita seperti itu tidak mungkin benar-benar diam di kelas XI IPA 2.

Dalam waktu kurang dari satu jam, beberapa anak sudah tahu bahwa Salsa mendapat surat anonim.

Dalam waktu dua jam, informasinya berkembang menjadi: ada seseorang yang akan confess pada Salsa saat festival.

Dalam waktu tiga jam, versi liar mulai muncul.

“Katanya pakai bunga.”

“Katanya di panggung opening.”

“Katanya satu angkatan bakal lihat.”

“Katanya Bima jadi perantara.”

Yang terakhir membuat Bima hampir tersedak air mineral.

“Aku tidak terlibat.”

Naya menepuk punggungnya.

“Belum.”

“Aku tidak mau.”

“Tumben.”

“Aku suka kekacauan, tapi kekacauan ini berisiko menimpa orang lain dan aku bisa disalahkan.”

Alya menatapnya.

“Kamu semakin dewasa?”

“Tidak. Aku cuma takut dimarahi Salsa.”

Salsa yang mendengar itu tersenyum kecil.

“Kenapa aku?”

“Karena kalau kamu marah, pasti tetap sopan. Itu lebih menakutkan.”

Naya mengangguk serius.

“Benar. Orang marah tapi sopan itu level final.”

Salsa tertawa lagi.

Namun di sela tawa itu, matanya sempat jatuh ke kertas kecil yang ia simpan di dalam buku.

Raka melihat.

Tidak lama.

Hanya sekali.

Lalu ia membuka catatan jadwal dan mencoret sesuatu.

Alya yang duduk di sebelahnya melihat gerakan itu.

“Kamu ubah jadwal?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Sesi Salsa di depan stand aku pindah lebih siang. Biar tidak pas jam ramai setelah opening.”

Alya menatapnya.

“Karena surat itu?”

“Untuk jaga-jaga.”

Alya membaca jadwal baru.

Raka juga menambahkan dua anggota kelas lain untuk membantu sesi saksi, supaya Salsa tidak sendirian di depan.

Alya menatap catatan itu sedikit lebih lama.

Lalu mengangguk.

“Bagus.”

Bima yang entah dari mana tiba-tiba muncul di belakang mereka langsung berkata, “Ohoo.”

Alya hampir menjatuhkan pulpen.

“Kamu dari mana?”

“Dari sisi kebenaran.”

“Pergi.”

Bima menunjuk jadwal.

“Raka perhatian sekali sama Salsa.”

Raka menoleh.

“Itu manajemen risiko.”

“Cinta sering menyamar sebagai manajemen risiko.”

Naya yang mendengar dari meja depan langsung tertawa.

Alya menatap Bima tajam.

Salsa tersipu sedikit, lalu buru-buru menunduk ke ponselnya.

Raka tidak berubah ekspresi.

“Kalau kamu ngomong begitu ke orang yang salah, bisa bikin salah paham.”

“Berarti ke orang yang benar boleh?”

“Bima.”

Alya mengembalikan buku catatan penyelidikan ke kepala Bima.

Bukan menyerahkan.

Mengetukkan.

Pelan, tapi cukup bermakna.

“Aduh.”

“Jangan bikin suasana makin aneh.”

“Baik.”

Tapi sudah terlambat.

Karena sejak saat itu, Bima punya teori baru.

Menurut Bima, Raka mungkin menyukai Salsa.

Dasarnya:

Pertama, Raka membela Salsa dari dua cowok kemarin.

Kedua, Raka membuat jadwal agar Salsa tidak terlalu capek.

Ketiga, Raka menganggap confess sebagai gangguan jadwal, yang menurut Bima adalah tanda orang cemburu yang terlalu administratif.

Ketika teori itu disampaikan Bima pada Naya saat istirahat, Naya hampir menjatuhkan bakwan.

“Raka suka Salsa?”

“Sangat mungkin.”

Naya melihat ke arah Raka.

Saat itu Raka sedang duduk di kursinya, membaca catatan teknis sambil sesekali menjawab pertanyaan Alya.

Di sisi lain, Salsa sedang berdiskusi dengan dua anak tentang poster.

“Hmm,” gumam Naya.

“Kenapa?”

“Nggak tahu. Bisa aja.”

“Kan?”

“Tapi kemarin kamu bilang Raka suka Alya.”

Bima mengangkat jari.

“Detektif boleh memperbarui teori berdasarkan bukti baru.”

“Detektif juga sebaiknya pernah benar minimal sekali.”

“Itu serangan personal.”

“Kamu kuat.”

Bima mengambil satu gorengan dari piring Naya.

Naya langsung menatapnya.

“Bim.”

“Apa?”

“Itu gorengan terakhir.”

Bima membeku.

Naya menatap piring.

Bima menatap gorengan di tangannya.

Lalu mereka saling menatap.

Dari jarak beberapa meja, Raka mengangkat wajah.

Mungkin karena suara Naya yang mendadak turun satu nada.

“Bima,” kata Naya pelan, “kamu sadar ini kasus berat?”

Bima perlahan meletakkan gorengan itu kembali ke piring.

“Aku belum menggigit.”

“Tapi niat kriminal sudah ada.”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Silakan jelaskan di stand nanti.”

Bima menelan ludah.

“Naya, sebagai teman—”

“Sebagai pembela, aku menolak membelamu.”

Satu meja tertawa.

Raka menatap piring Naya sebentar.

Lalu kembali ke catatannya.

Beberapa menit kemudian, saat Naya sedang sibuk menggoda Bima, Raka berdiri dan berjalan keluar kelas.

Ia kembali tidak lama kemudian dengan dua gorengan dalam plastik kecil.

Ia meletakkannya di meja Naya.

“Ini.”

Naya berhenti bicara.

“Hah?”

“Kantin masih ada.”

Naya melihat gorengan itu.

Lalu melihat Raka.

“Buat aku?”

“Kamu tadi ribut soal gorengan terakhir.”

“Karena Bima hampir melakukan kejahatan.”

“Aku tidak hampir,” protes Bima.

Naya mengambil plastik itu.

“Makasih.”

Raka mengangguk.

Lalu kembali duduk.

Tidak ada ekspresi khusus.

Tidak ada suasana romantis.

Tidak ada musik latar.

Bima bahkan langsung berkata, “Rak, punyaku?”

Raka menoleh.

“Kamu pelakunya.”

“Belum terbukti.”

“Motif ada. Kesempatan ada.”

Naya tertawa keras.

Alya yang melihat dari meja lain hanya menggeleng.

Salsa juga melihat.

Ia tersenyum kecil.

Mungkin karena Raka memang perhatian.

Mungkin karena perhatian itu ternyata tidak hanya untuk dirinya.

Mungkin karena, entah kenapa, Naya menerima perhatian itu tanpa terlihat menyadari apa pun.

Saat pulang sekolah, latihan opening kembali dilakukan.

Kali ini mereka memakai panggung kecil kosong di aula untuk membayangkan posisi saat festival.

Bima berdiri di tengah sebagai terdakwa.

Naya menjadi MC sekaligus pembela.

Alya duduk sebagai hakim.

Salsa memegang poster opening.

Raka berdiri di bawah panggung, mengatur durasi.

Beberapa siswa yang masih berada di aula berhenti untuk menonton.

“Mulai,” kata Raka.

Naya langsung masuk dengan suara besar.

“Saudara-saudara sekalian! Hari ini kita akan menyaksikan kasus yang mengguncang akal sehat: seorang siswa membawa palu ke sekolah dan menyebutnya simbol keadilan!”

Bima berdiri dengan wajah terluka.

“Saya hanya ingin hukum dihormati.”

Alya mengetuk meja.

“Dengan palu sungguhan?”

“Simbol harus terasa nyata, Yang Mulia.”

Naya menunjuk Bima.

“Lihat! Ia bahkan belum menyesal!”

Penonton kecil di aula tertawa.

Raka melihat stopwatch.

“Tiga puluh detik.”

Latihan berjalan lebih lancar daripada sebelumnya.

Bima masih improvisasi.

Tentu saja.

Tapi kali ini improvisasinya tidak terlalu jauh.

Alya mulai menemukan ritme sebagai hakim.

Naya makin luwes mengarahkan suasana.

Salsa tahu kapan harus mengangkat poster agar terlihat.

Raka beberapa kali memberi tanda tangan agar mereka mempercepat bagian tertentu.

Di percobaan ketiga, durasi mereka tepat dua menit lima puluh delapan detik.

Raka mengangkat wajah.

“Pas.”

Naya langsung mengangkat kedua tangan.

“Kita berhasil!”

Bima ikut berdiri.

“Sejarah mencatat.”

Alya tampak lega.

Salsa tersenyum.

Beberapa siswa yang menonton bertepuk tangan kecil.

Salah satu dari mereka berkata, “Ini beneran bakal rame, sih.”

Kalimat itu membuat mereka semua saling pandang.

Tidak ada yang berlebihan.

Tapi ada rasa puas kecil yang sama.

Sesuatu yang mereka buat mulai terlihat bentuknya.

Setelah latihan, Salsa turun dari panggung sambil membawa poster.

Namun salah satu siswa yang tadi menonton menghampirinya.

“Sal.”

Salsa menoleh.

“Iya?”

Anak itu tampak gugup.

Ia bukan siswa yang kemarin bicara sembarangan.

Wajahnya lebih hati-hati.

“Poster kamu bagus.”

“Makasih.”

“Nanti pas festival, kamu ada waktu sebentar?”

Bima, yang sedang minum, langsung berhenti.

Naya menoleh.

Alya menutup buku.

Raka masih memasukkan stopwatch ke tas, tapi gerakannya melambat.

Salsa berkedip.

“Untuk apa?”

Anak itu tampak semakin gugup.

“Ada yang mau aku omongin.”

Hening.

Terlalu hening.

Bima perlahan menunjuk anak itu.

“Surat?”

Anak itu panik.

“Hah?”

Bima maju satu langkah.

“Kamu yang taruh surat di meja Salsa?”

“Surat apa?”

Salsa menatapnya lebih teliti.

Anak itu benar-benar terlihat bingung.

Alya langsung menarik Bima mundur.

“Jangan interogasi orang sembarangan.”

“Tapi atmosfernya mendukung.”

“Tidak.”

Anak itu menggaruk kepala.

“Aku cuma mau nanya nanti boleh minta file posternya nggak. Buat belajar desain. Soalnya aku juga bagian publikasi kelas.”

Salsa diam.

Lalu tertawa kecil.

“Oh.”

Naya langsung membungkuk sambil menahan tawa.

Bima mematung.

Alya menutup wajah dengan buku.

Raka menatap Bima.

“Detektif.”

Satu kata.

Tapi cukup menghancurkan.

Bima memegang dada.

“Aku hanya mengikuti petunjuk.”

“Petunjuknya kamu buat sendiri,” kata Alya.

Anak itu masih kebingungan.

Salsa akhirnya menjawab, “Boleh. Nanti aku kirim lewat grup panitia festival aja, ya.”

“Makasih, Sal.”

Setelah anak itu pergi, Naya langsung tertawa.

“Bima, kamu hampir menjadikan orang tidak bersalah sebagai tersangka.”

“Dalam proses penyelidikan, kesalahan kecil wajar terjadi.”

“Itu bukan kecil. Itu salah pintu.”

Bima menatap Raka.

“Jangan komentar.”

Raka memasukkan ponselnya ke saku.

“Aku belum.”

“Tapi wajahmu sudah.”

“Aku tidak mengatur wajah.”

“Justru itu yang menyakitkan.”

Salsa masih tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya sejak surat anonim itu muncul, ia tampak benar-benar terhibur.

Bima mungkin salah.

Sangat salah.

Tapi entah bagaimana, kesalahannya membuat suasana tidak terlalu berat.

Namun masalahnya, surat itu tetap belum jelas.

Dan festival semakin dekat.

Malam itu, grup Mahkamah Receh kembali ramai dengan pembahasan latihan opening.

Alya: Durasi sudah pas. Besok tinggal ulang sekali.

Naya: Aku bangga pada terdakwa kita.

Bima: Terima kasih. Akhirnya diakui.

Raka: Jangan improvisasi bagian palu menderita lagi.

Bima: Tapi itu kuat secara emosional.

Alya: Tidak.

Salsa: Aku masih ketawa kalau ingat Bima interogasi orang tadi.

Naya: Detektif gagal episode 1.

Bima: Ini baru episode 1? Berarti masih ada ruang berkembang.

Raka: Ruang salah juga ada.

Bima: Raka makin sering menusukku dengan kalimat pendek.

Naya membaca chat itu sambil makan gorengan yang tadi dibawa pulang dari kantin.

Ia tersenyum sendiri.

Lalu mengetik.

Naya: Terima kasih untuk sponsor gorengan hari ini.

Beberapa detik kemudian, Bima membalas.

Bima: Sama-sama.

Naya: Bukan kamu.

Bima: Oh.

Salsa mengirim emoji tertawa.

Alya mengirim pesan:

Alya: Fokus. Besok kita finalkan kartu kasus.

Raka tidak membalas.

Naya menatap layar sebentar.

Biasanya Raka memang tidak selalu membalas.

Tapi beberapa menit kemudian, pesan baru muncul.

Raka: Kalau gorengannya terlalu berminyak, jangan dimakan semua malam-malam.

Naya membaca pesan itu.

Lalu menatap gorengan terakhir di piringnya.

Ia mengerutkan kening.

Naya: Kamu ini pengatur durasi atau pengatur gorengan?

Raka: Pencegahan.

Naya: Aku sehat.

Raka: Sekarang.

Bima langsung masuk.

Bima: WAH.

Alya: Jangan mulai.

Salsa: Raka perhatian ke semua orang, ya.

Pesan itu membuat Naya berhenti sebentar.

Ia membaca kalimat Salsa.

Lalu membaca lagi pesan Raka sebelumnya.

Raka perhatian ke semua orang.

Benar juga.

Raka memang begitu.

Ia memperbaiki palu Bima.

Membantu proposal Alya.

Menyusun jadwal Salsa.

Membawakan gorengan untuk Naya.

Jadi tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang perlu dipikirkan.

Naya mengetik balasan.

Naya: Iya. Anak baik. Cocok jadi pengurus inventaris kehidupan.

Raka membalas beberapa detik kemudian.

Raka: Jabatan itu tidak ada.

Naya: Sekarang ada.

Bima: Aku ingin jabatan.

Alya: Terdakwa tetap.

Bima: Kejam.

Grup kembali ramai.

Naya tertawa lagi.

Namun tanpa ia sadari, di tempat lain, Salsa membaca percakapan itu dengan senyum yang sedikit berubah.

Bukan kecewa.

Bukan cemburu.

Belum sejauh itu.

Hanya ada pertanyaan kecil yang mulai muncul.

Kalau Raka memang perhatian ke semua orang, kenapa beberapa perhatian terasa berbeda tergantung siapa yang menerimanya?

Salsa menatap kertas anonim di atas mejanya.

Lalu menatap layar ponsel.

Di grup, Bima sedang mengirim stiker palu.

Naya sedang meledek.

Alya sedang menegur.

Raka hanya muncul sesekali.

Namun setiap kemunculannya selalu terasa tepat.

Salsa menyimpan kertas anonim itu ke dalam laci.

Besok ia akan mencari tahu siapa pengirimnya.

Atau setidaknya mencoba.

Sayangnya, sebelum Salsa sempat melakukan apa pun, keesokan paginya masalah baru datang lebih dulu.

Poster keempat yang seharusnya belum diunggah tiba-tiba sudah tersebar di story beberapa anak.

Bukan versi final.

Bukan desain yang sudah disetujui.

Melainkan versi draft yang masih punya tulisan kecil di pojok bawah:

“Jangan upload dulu, masih jelek.”

Salsa berdiri di depan papan pengumuman sambil menatap layar ponselnya.

Naya di sebelahnya membuka mulut.

Bima ikut melihat.

Alya membeku.

Raka membaca tulisan di poster itu.

Lalu berkata pelan,

“Setidaknya mereka mengikuti instruksi.”

Alya menoleh.

Raka menunjuk tulisan kecil di poster.

“Masih jelek.”

Naya menahan tawa.

Salsa menutup wajah dengan kedua tangan.

Dan Bima, setelah hening selama dua detik, berbisik,

“Sepertinya hari ini kita menyidang pelaku penyebaran draft.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar